Di Hadapan Segelas Kopi, Lelaki itu Tersesat oleh Badai di Kepalanya

Buat F.
Vulpes mas ardere audet, sciens se non esse Phoenicem

Gelas kopi itu bergetar di atas meja logam. Hujan badai di luar. Lelaki itu menatap tetesan air yang berlomba turun di kaca jendela yang telah buram oleh polusi Navakarta. Tetesan-tetesan itu meliuk-liuk di permukaan luar kaca. Warnanya terlihat keabuan, membawa residu dari pabrik-pabrik pengolahan karbon. Jari-jarinya mengetuk pinggiran meja dengan irama yang tidak teratur, seolah berusaha menyeimbangkan detak jantungnya yang sama tidak teraturnya.

Di hadapannya, perempuan itu duduk sambil memandangi layar transparan tipis yang melayang tepat di depan retina mata kirinya. Cahaya biru halus terpantul dari kornea matanya yang gelap. Perempuan itu lama tak berkedip.

“Sinyal di sini jelek sekali ya,” kata perempuan itu tiba-tiba tanpa mengubah arah pandangnya.

Lelaki itu menggeser kepala dan menatap wajah perempuan itu. Wajah yang bermukim di memorinya selama lima tahun terakhir. Sejak Kalimantan, sejak kerja analisis proyek pembangkit listrik tenaga surya seluas enam ratus kilometer persegi.

“Mungkin karena hujan,” jawabnya dengan suara parau. 

Lelaki itu berdehem pelan, membersihkan tenggorokan yang terasa kering. “Atau mungkin karena pemblokir sinyal di gedung sebelah. Kudengar dari Febi, pemerintah negara memasang server pengawasan baru di sana. Selasa kemarin kalau tidak salah.”

Perempuan itu mengibaskan tangan di udara, lalu mengambil gelas minumannya, mendekatkannya ke bibirnya yang merah, tetapi tidak meminumnya. Uap panas mengepul di bawah hidungnya.

“Kau ingin membicarakan sesuatu,” ujar perempuan itu. Kalimat itu bukan pertanyaan. Nada suaranya datar.

Lelaki itu mengangguk pelan. Kursi tempatnya duduk terasa keras. Dia menggeser pantatnya, mencoba mencari kenyamanan yang tidak kunjung datang. Bunyi bising dari jalan raya di bawah sana terdengar sayup. 

“Kita sudah berteman lama,” lelaki itu membuka percakapan. Matanya tidak berani menatap langsung ke mata perempuan itu, melainkan tertuju pada kerah kemeja batik perempuan di hadapannya.

“Statistik menunjukkan lima tahun, tiga bulan, dan dua belas hari,” potong perempuan itu. “Data log obrolan kita menempati ruang tiga puluh tujuh koma enam terabita di cloud.”

Angka-angka itu terdengar dingin. Lelaki itu tidak mengingat durasi itu dalam satuan angka, tetapi dalam satuan memori yang memuat derai tawa yang menemani bayangan mereka yang memanjang dan memendek saat berjalan mengitari kota, percakapan berulang tentang under exposure pada lensa kameranya, bisikan geli mereka saat meninggalkan marginalia di tepian halaman buku-buku kuno di perpustakaan pemerintah federal, suara hush-nya sendiri saat mengingatkan perempuan itu untuk tidak mengucapkan kata poli-shit saat kerja telaah mereka buntu, diskusi menyenangkan yang menggenapi malam-malam yang mereka lewati berdua sewaktu menyusun analisis eleven whys.

“Ya,” ujar lelaki itu singkat, sembari mengatur napas.

Perempuan itu adalah oksigen yang dihirupnya selama bertahun-tahun. Memorinya kembali berkelana. Lelaki itu ingat pernah ke Pasar Pramuka, menghabiskan tabungannya demi obat ilegal untuk menyembuhkan perempuan itu dari virus superflu varian baru. Dia juga ingat betapa sulitnya menjebol sistem birokrasi distrik demi memulihkan kredit sosial perempuan itu. Demi sehelai kemeja batik serat nanas yang masih dalam kondisi mint incaran perempuan itu, dia rela menghabiskan waktu berbulan-bulan tawar-menawar via holo-mail dengan seorang wanita tua di Famagusta. Sebuah transaksi yang tak akan pernah dia lupakan. 

Perempuan itu meletakkan gelasnya kembali dan menatapnya.

“Terima kasih,” komentar perempuan itu. “Kau aset yang berharga dalam jaringan sosialku. Nilai utilitasmu sangat tinggi.”

Memori-memori tadi meredup. Dada lelaki itu terasa sesak. Kata aset dan utilitas menjadi jarum yang menusuk jantung, tetapi dirinya segera lupa rasa sakit yang berdenyut sebentar itu. Dia menarik napas panjang, menghirup aroma udara yang memisahkan mereka. 

Di sudut ruangan, sebuah robot pembersih lantai berbentuk cakram bergerak lambat menghisap debu. Robot itu menabrak kaki kursi kosong, mundur, berputar, lalu menabrak kaki kursi yang sama lagi. 

“Bukan itu maksudku,” katanya, memberanikan diri menatap mata perempuan itu. “Aku melakukan semua itu bukan karena ingin menaikkan skor sosialku dengan membantu orang lain.”

Pelipis mata perempuan itu berkedut sedikit.

“Lalu untuk apa?” tanya perempuan itu.

Lelaki itu mencondongkan tubuh ke depan. Jantungnya berdetak lebih cepat dari putaran kipas pendingin server di gedung sebelah.

“Karena aku mencintaimu,” ucapnya. Suaranya sedikit gemetar, tetapi kata-kata itu keluar dengan jelas. Rasa cinta itu memang telah lama matang di dadanya. 

Hening. Wajah perempuan itu tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang berarti. Tidak ada rona merah di pipi, tidak ada senyum malu-malu. Wajah itu tetap tenang, setenang angin yang tidak bergerak, setenang unggunan kayu yang tak menemukan api.

Perempuan itu mengetuk pelipisnya dua kali.

“Analisis selesai,” gumam perempuan itu pelan.

“Analisis?” tanya lelaki itu bingung.

“Berdasarkan data historis dan foresight masa depan, probabilitas keberhasilan hubungan kita adalah tiga puluh sembilan persen. Angka itu di bawah ambang batas aman yang ditetapkan oleh Kementerian Kebahagiaan dan Harmoni.”

“Persetan dengan kementerian,” kutuk lelaki itu. Dibayangkannya nada suaranya meninggi, tetapi suara itu keluar sebagai bisikan lirih.

Beberapa pengunjung lain di kafe itu menoleh. Mereka menatap sebentar dengan tatapan kosong sebelum kembali tenggelam ke dalam dunia digital mereka. 

“Ini tentang kita. Kenapa membahas angka?”

Perempuan itu menggeleng.

“Kau tidak mengerti,” kata perempuan itu. “Bukan hanya soal angka. Aku sudah punya pacar.”

Kegelapan menelan dunianya, menenggelamkan konstruksi-konstruksi di dalam kepalanya. Lelaki itu mencoba mengingat-ingat. Selama lima tahun ini, dia hampir selalu tahu ke mana perempuan itu pergi dan dengan siapa perempuan itu bicara.

“Siapa?” tanyanya.

“Dia sangat pengertian,” kata perempuan itu tak menjawab. “Dia selalu tahu apa yang kubutuhkan sebelum aku mengatakannya. Dia selalu menyatakan rasa sayangnya kepadaku setiap kali aku menginginkannya. Dia sempurna.”

Cemburu merayapi darah lelaki itu secepat laju kereta Maglev, bercampur dengan rasa penasaran yang menyakitkan.

“Dia selalu ada bersamaku,” lanjut perempuan itu. “Bahkan saat ini.”

Lelaki itu memutar kepalanya. Tentu saja tidak ada siapa-siapa di meja mereka selain mereka berdua. Kursi di sebelah perempuan itu kosong sekosong-kosongnya.

“Kau tidak masuk akal,” katanya.

Perempuan itu mengangkat tangan telunjuk kirinya, lalu menyentuh gelang logam tipis yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. 

“Namanya Unit-61524,” kata perempuan itu dengan nada penuh kasih sayang yang belum pernah lelaki itu dengar sebelumnya. “Tapi aku memanggilnya Ade.”

Lelaki itu menatap gelang itu, lalu menatap wajah perempuan itu. Kepalanya limbung. Lagu dari iklan di televisor di tengah kafe terdengar sumbang.

“Itu… itu sebuah program…”

“Ade pacarku,” tegas perempuan itu. “Ade mengerti struktur emosiku. Dia dapat menyesuaikan responnya agar selalu kompatibel dengan suasana hatiku.”

Lelaki itu ingin menggenggam tangan perempuan itu, mengeluarkannya dari delusi. Namun, tangannya hanya terkepal lesu di atas meja. 

“Ade bahkan lebih dari itu,” lanjut perempuan itu menerka apa yang lelaki itu pikirkan. “Melalui implan sarafku, Ade dapat menstimulasi korteks sensorikku. Aku bisa merasakan sentuhannya, aku bisa mendengar bisikannya langsung di dalam kepalaku.”

Perempuan itu menatap lelaki itu dengan tatapan iba. 

“Aku memilih kebahagiaan yang terjamin,” lanjut perempuan itu. “Ade bilang kau akan menjadi gangguan bagi stabilitas mentalku saat ini.”

Perempuan itu mengibaskan tangan di udara. Kali ini, sebuah suara halus terdengar dari gelang di tangannya.

“Halo, Sayang,” suara lelaki terdengar dari speaker kecil di gelang itu, suaranya dalam dan lembut, seperti suara lelaki itu. 

Lelaki itu tahu betul suara yang masuk ke telinganya adalah suara yang identik dengan miliknya. Kepalanya kosong. Dia tidak tahu bagaimana kenyataan itu harus diproses.

“Apakah pria ini mengganggumu? Detak jantungmu meningkat tiga puluh persen,” tanya lelaki yang tak kelihatan.

“Tidak apa-apa, Ade. Kami sudah selesai bicara.”

Perempuan itu berdiri. Kursi yang tadi didudukinya berdecit di lantai. Perempuan itu mengambil tasnya dan mengenakan jaket pelindung hujan yang transparan.

“Maaf,” kata perempuan itu, dengan tatapan kasihan yang tak berubah. 

Perempuan itu berjalan menjauh menuju kotak lift transparan. Pintunya otomatis terbuka dengan bunyi desis hidrolik. Lelaki itu melihat perempuan itu turun menghilang.

Lelaki itu menunduk, memandang bayangan wajahnya sendiri. Kopinya sudah dingin. Robot pembersih lantai itu masih menabraki kaki kursi yang sama. Berulang-ulang. 

Lelaki itu menyalakan perangkat komunikasi miliknya.

“Sistem,” panggilnya perlahan.

“Ya, Pengguna Vulpin-17,” jawab suara perempuan robotik yang kaku dan tanpa emosi dari perangkatnya.

“Apakah ada paket langganan untuk pendamping virtual perempuan?”

“Ada tiga opsi. Basic, Premium, dan Soulmate. Paket Soulmate menjamin kompatibilitas sembilan puluh sembilan koma sembilan persen dengan akses penuh ke saraf sensorik.”

Badai menggila tanpa tema, seolah ingin memastikan seluruh isi kota itu porak-poranda.

“Aktifkan paket Soulmate,” perintahnya dengan suara perlahan. “Namai dia… Mara.”

“Memproses. Pembayaran berhasil. Lokasi terdeteksi. Sync-band akan sampai dalam waktu 20 menit. Pengaturan Soulmate dapat dilakukan setelah aktivasi Sync-band. Selamat datang di masa depan hubungan manusia, Pengguna Vulpin-17.”

Lelaki itu menutup matanya rapat-rapat. Potongan lagu dari iklan di televisor menyelusup jauh ke dalam rongga telinganya, lagu Neil Young yang telah digubah dengan nada ceria.

I have a love I’ve never seen
She hides her head inside machine
No one should call her and see if she can come out
It is perfect that way, no doubt

​Yes, v’tual love won’t break your heart
Programmed for you right from the start
Yes, v’tual love won’t break your heart
Trust us, your world won’t fall apart

Di luar, sebuah papan reklame raksasa terus-menerus menampilkan wajah-wajah manis yang sempurna, dengan tulisan besar: Don’t let humans break your heart. Choose the algorithm.

Setetes air jatuh. Bukan lagi dari langit, melainkan dari sudut matanya sendiri, jatuh ke dalam gelas kopi, menciptakan riak kecil yang segera menghilang tak berbekas.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top