
Darah mengalir di depan rumah Tiara. Tidak ada yang tahu kalau saja pagi ini berbeda dari pagi-pagi biasanya. Darah segar dan berbau amis beradu dengan udara dan embun pagi yang segar pula. Lengkap dengan teriakan-teriakan ibu-ibu tetangga yang meneriaki Ibu Tiara yang masih saja di dalam rumah di ujung gang yang hampir ambruk itu.
Barangkali darah dan kematian di negara ini bukanlah hal yang mengerikan. Adalah hal yang biasa satu hari mendengar kabar di tanah ini ada bencana, di jalanan itu ada lubang besar yang mengakibatkan kecelakaan atau di hutan adat ada pembungkaman berikutnya pembunuhan oleh aparatur negara. Sekali lagi di negara ini kematian adalah hal yang biasa-biasa saja, sama seperti biasa-biasa sajanya setiap pagi matahari terbit dari timur dan senja akan indah jika langit cerah tak tertutup mendung.
Truk besar itu melaju saja dengan cepat ke arah timur. Beberapa bapak-bapak mengejar dengan berlari, ada juga yang berusaha pulang terlebih dahulu untuk mengambil sepeda motor di rumahnya. Namun tidak dengan Bapak Tiara, sepagi ini dia belum pulang setelah dari pagi kemarin pergi berjualan kanebo dan alat pemotong kumis di lampu merah kota.
Ibu-ibu semakin ramai datang mengerubung mayat Tiara yang kepalanya pecah karena terlindas roda truk pengangkut pasir itu yang penuh dengan muatan. Ibu-ibu yang baru datang ada yang membawa kain batik dari rumahnya ada juga yang langsung sigap pergi memotong daun pisang untuk menutupi mayat Tiara.
Teriakan demi teriakan tak kunjung selesai. Tanya demi tanya mengapa ini bisa terjadi juga belum berakhir. Tidak ada yang melihat bagiamana ini bisa terjadi. Semua terjadi begitu cepat semenjak terdengar suara seperti suara ledakan dan Ibu Surti keluar dari rumahnya, dan berikutnya berteriak sekencang-kencangnya, panik dan histeris memanggil tetangga-tetangga sekampung yang berada di lereng pegunungan itu.
“Hey! Sini kain batiknya!” Ibu Surti berteriak kepada ibu-ibu yang baru saja datang yang membawa kain itu.
Mayat Tiara sudah ditutupi dengan daun pisang, dan sekarang ditutupi juga dengan kain batik bermotif Slobog yang sering digunakan untuk menutup mayat saat upacara kematian. Darahnya mengalir tiga meter dari tempat Tiara dilindas roda. Sebagian kering dan masuk sudah ke dalam tanah, mengering di tanah air.
Kematian memang terlalu biasa di negara ini. Namun yang tidak biasa adalah orang tua dari Tiara tak kunjung ada menghampiri. Semua orang tahu bahwa Bapak Tiara tidak ada di rumah. Lalu di mana ibunya?
“Di mana Ibunya?!” Teriak Bu Surti bertanya ke orang-orang yang ada di sekitarnya.
“Hey! Ibunya di mana?” Tanya balik ibu-ibu dan bapak-bapak yang lain ke Bu Surti.
Pak RT baru saja datang dan dia langsung menelpon Polsek setempat untuk mengevakuasi mayat Tiara. Katanya juga Ambulance dari Puskesmas Kecamatan baru akan datang sepuluh menit lagi karena sedang digunakan untuk mengantar ibu hamil yang akan melahirkan.
Pak RT datang lantas menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan oleh Bu Surti “Di mana ibunya!?” Teriak Pak RT kepada Bu Surti.
Lantas Bu Surti menjawab dengan terlebih dahulu mengusap air mata dengan tangan yang bersimbah darah dari mayat Tiara, “Coba kau datang ke rumah reyot di penghujung gang itu!” Tunjuk Bu Surti kepada Ibu-ibu yang lain. “Cepatlah!” Sembari menunjuk sekali lagi.
Tiba-tiba saja dari kejauhan seorang bapak-bapak berlari dengan wajah merah kelelahan. Dia tidak menangis, tapi dia berteriak serak seperti seorang demonstran yang hatinya kecut karena dipukul atau ditendang sepatu lars atau ujung senapan. Bapak-bapak itu berlari sambil menenteng dagangan kanebo berwarna kuning dan potongan kumis berwarna biru yang dengan tak sadar jatuh berhamburan.
“Tiaraaaa!” Teriak bapak-bapak itu hingga memecah kerumunan. “Tiaraaa! Dasar Truk Bangsat!” Teriak Bapak Tiara sembari menghadap ke langit seolah meminta keadilan kepada Tuhan. Kabar baiknya Bapak Tiara selalu percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa tapi sudah luntur kepercayaannya semenjak ia dulu SD putus sekolah kepada negara. Ia sama sekali tak percaya kepada negara!
Bapak Tiara membuka kain batik dan daun pisang yang menutupi mayat Tiara. Suara sirine terdengar dari kejauhan memecah kerumunan. Jalanan yang biasanya sepi dan hanya dilewati warga sekitar dan truk pengangkut pasir sepagi ini sudah ramai dan didatangi oleh mobil ambulance dan polisi.
Dua orang laki-laki turun dari mobil ambulance dan mengeluarkan kantong jenazah berwarna orange untuk membawa mayat Tiara. Polisi dengan sigap mengeluarkan kamera gawai dan memotret gambar di tempat kejadian. Tak lupa juga bapak polisi itu bertanya-tanya ke warga sekitar terkait siapa yang bisa dijadikan saksi dan mengapa tragedi ini bisa terjadi.
Pak Polisi mengeluarkan pylox putih dan mulai mencoret-coret aspal yang sudah bolong-bolong itu. Dua meter jarak jalan terdapat satu lubang, beberapa lubang kecil dan lebih banyak lubang-lubang yang besar. Bapak Polisi berbicara dengan laki-laki yang membawa ambulance itu dan obrolan serius samar-samar terdengar.
Selanjutnya laki-laki yang membawa ambulance itu pelan-pelan memasukan tubuh Tiara yang berceceran. Seperti tak punya hati laki-laki itu dengan biasa saja memasukan bodypart dari Tiara. Kepala Tiara yang pecah itu otaknya sedikit mengerikan untuk diambil. Kecuali bagian tubuh yang lain, hanya kepala yang penuh darah. Semua bagian tubuh aman kecuali kepala yang otaknya rusak karena dilindas truk bermuatan pasir itu.
Sialnya, Ibu Tiara tak kunjung juga datang ke lokasi kejadian.
Pada akhirnya Pak RT memutuskan untuk ikut menjemput rombongan ibu-ibu yang sudah berjalan ke rumah Tiara. Dengan sedikit berlari Pak RT berpamitan kepada kerumunan.
“Di mana ibu Tiara?!” Tanya Pak RT kepada ibu-ibu yang sudah duluan masuk ke dalam rumah Tiara.
“Ini di sini, pak…!” Jawab salah satu dari ibu-ibu itu.
Dari dalam terdengar suara tertawa kecil seperti kuntilanak yang membuat penasaran Pak RT semakin bertambah. Pelan-pelan Pak RT masuk ke dalam kamar, ikut mengerubung Ibu Tiara yang tetap tertawa seperti kuntilanak itu.
“Ibu Tiara kenapa?” Tanya Pak RT kepada ibu-ibu yang ada di sana.
“Sepertinya dia sudah gila pak!” Jawab salah satu dari ibu-ibu itu dengan wajah kebingungan.
Ibu Tiara tetap saja tertawa-tawa sambil sesekali menunjukan gawai yang sudah tak ada baterainya itu. Gawai Android yang biasanya Ibu Tiara gunakan untuk bermain tik-tok dan media sosial lainnya.
Pak RT ikut juga kebingungan menanggapi kejadian ini semua. Ibu-ibu di kamar juga menatap bingung, ragu dan takut kepada Ibu Tiara yang tetap saja tertawa cekikikan. Bapak Tiara yang sedang kelelahan dan marah kepada truk itu juga bingung bagaimana lagi dia akan menghasilkan uang untuk menebus ambulance dan biaya pemakaman.
Kabar baiknya: Ibu Tiara tidak kebingungan karena ia sudah menjadi gila. Selanjutnya Tiara dia sudah pergi terbang menuju surga. Entah surga atau neraka, namun barangkali neraka akan lebih surga ketimbang tanah air yang hanya ada darah dan air mata!
Diaran. Ia Lahir bulan Januari tahun 2004. Silahkan sapa saja manusia satu ini di akun instgramnya @diar.an.




