
“Apa? Aku nggak denger!” teriak Yans.
“La–ngit–nya ca–kep!” Yannay mengeja keras-keras, kepalanya condong mendekat ke samping helm Yans.
“Ohh… Iya. Cakep banget” Yans merespons
Angin dan deru mesin motor sendiri yang digabung deru mesin kendaraan lain memecah kata-kata mereka. Jalan raya seperti orkestra yang tak peduli pada percakapan sepasang kekasih di atas motor.
Tiba-tiba Yans membelok ke jalanan kampung. Di kaca spion kiri, mata Yannay menyipit. Yans mengerti maksud sorot mata itu, Yannay sedang bertanya ‘Kita mau ke mana?’
“Kita muter-muter dulu yok? Lewat kampung. Biar senjanya ga cuma lewat”
Yannay tersenyum. Ia tak menjawab, tapi sorot matanya cukup untuk membuat Yans mengerti jawaban dalam hatinya.
Mereka berdua menyusuri jalanan dari Gemeksekti hingga Karangsambung. Sawah membentang, angin mengelus lebih ramah, langit bergumul jingga. Sesekali Yans melirik kaca spion kiri, memastikan Yannay masih di sana. Setiap kali, ia menemukan wajah yang sama tapi dengan ekspresi yang berbeda. Kadang pura-pura serius, kadang seperti anak kecil yang baru melihat dunia untuk pertama kali.
Yannay memang setahun lebih tua daripada Yans. Di luar, ia perempuan yang tegak, mandiri, pikirannya sering melompat lebih jauh dari perempuan kebanyakan di kota mereka. Tapi di belakang Yans, ia sering berubah, kembali menjadi bocah yang bisa tertawa lepas hanya karena hal sederhana.
Yans mendadak menghentikan motor di pinggir jalan. Di kaca spion kiri, mata itu lagi-lagi bertanya.
“Tadi kamu bilang langitnya cakep. Jadi, gimana kalau kita duduk di pinggir sungai itu?” Yans menjawab mendahului bunyi pertanyaan Yannay.
“Mauuu. Ayok turun” Ucap Yannay dengan nada manjanya.
Mereka menitipkan motor di warung kecil, lalu berjalan menuruni jalan menuju sungai. Mereka melewati tanah yang licin.
Brukkk
Yannay terpeleset. Beberapa pencari batu yang sedang bekerja di situ pun menoleh.
“Loh mba, hati-hati. Turunnya jangan lewat situ. Ada jalan yang lebih gampang loh” Ucap seorang bapak yang sedang bekerja di situ
Yannay bangun cepat, tersenyum menahan malu. “Eh iya pak, kami pertama kali ke sini, jadi ngga tahu”
“Nanti pulangnya lewat yang ada pohonnya itu. Lebih waras jalanya” kata bapak itu sambil menunjuk.
Yans yang berhasil turun tanpa terjatuh, menahan tawanya sampai mereka menjauh dari tempat kerja itu.
“Brukkk. Ada suara bocah jatuh tadi” kata Yans sambil tertawa
“Apaan sih! Cuma jatuh doang” Yannay kesal
“Sakitnya nggak seberapa. Malunya tak terkira”
Yannay mencubit keras lengan Yans. Sungai di depan mereka mengalir seolah tak peduli pada drama barusan. Hanya suara-suara katak yang tak akan pernah kita ketahui apakah mereka sedang menertawakan sepasang kekasih ini atau bukan.
Mereka duduk di bebatuan. Air sungai memantulkan langit jingga yang sedang menuju redup. Yannay melepas sandal, berjalan ke sungai, dan mencelupkan kaki ke pinggiran arus. Wajah manisnya diterpa angin sore.
Yans merebahkan diri, menutup wajahnya dengan flat cap favoritnya.
“Kamu kok nutup muka?” tanya Yannay.
“Lagi menikmati senja nih”
“Menikmati langit senja dengan menutup mata?”
Yans menurunkan topinya sedikit, “Senjanya memang indah. Tapi kesempurnaan senja bagiku bukan perkara jingga dan awan yang bergumul membingkai langit. Tapi karena ada kamu di sini”
Yannay terdiam sepersekian detik. Lalu, seperti biasa saat ia gugup..
“Eh, kayaknya mancing di sini enak deh”
Yans tertawa, “Kamu kalau salting tuh, selalu aja ganti topik”
“Tinggal jawab aja sih”
“Enak. Tapi sekarang ga usah mancing ikan. Kita mancing waktu aja”
“Hah? Gimana tuh?”
“Kita duduk. Lihat senja selesai, tanpa terburu-buru”
Hening merambat perlahan. Langit makin temaram. Orang-orang sering mengejar senja, pikir Yannay, hanya untuk menyaksikan ia menghilang. Anehnya, mereka tetap menantikannya lagi esok hari.
“Yans” katanya pelan, “menurutmu kenapa orang suka senja?”
Yans tidak langsung menjawab. Ia duduk, menatap arus yang tak pernah berhenti.
“Mungkin karena senja jujur” Yans bersuara. “Dia nggak pura-pura abadi. Senja datang, indah, lalu hilang. Tapi besok balik lagi.”
Yannay menatap kakinya yang membelah air. “Apakah kita juga begitu? Datang, pergi, lalu ulangi”
Yans mengangguk kecil. “Semua ini berputar. Datang dari suatu tempat, balik ke tempat yang sama. Jadi nggak perlu terlalu panik kalau sesuatu hilang”
“Termasuk senja?”
“Iya. Termasuk senja”
Angin bertiup lebih dingin. Warna jingga perlahan berubah menjadi keunguan. Yannay menoleh pada Yans. Berjalan ke sampingnya, dan ikut duduk.
“Kalau suatu hari aku ga bisa duduk di sini lagi?”
Yans tidak menjawab dengan cepat. Ia memandang jalan licin tadi, yang membuat Yannay jatuh. Lalu teringat jalan lain yang lebih waras, yang ditunjukkan bapak pencari batu.
“Kalau kamu jatuh, ya bangun lagi. Kalau jalannya salah, cari yang lebih waras. Tapi selama masih ada waktu, ya kita duduk saja dulu. Jangan sibuk mikirin hilangnya.”
Bukan jawaban yang manis, tapi mampu membuat Yannay merasa cukup.
Langit hampir gelap. Yannay menggeser duduknya sedikit lebih dekat. Tidak banyak. Tapi cukup agar bahu mereka bersentuhan tipis. Sungai tetap mengalir, para pencari batu mulai berkemas.
“Yans.”
“Dalem, Yannay?”
“Kalau besok kita ke sini lagi… jangan lewat jalan licin tadi ya”
Yans tersenyum, “Iya. Kita lewat yang ada pohonnya. Yang lebih waras”
Dan untuk beberapa menit setelah itu, mereka tidak membicarakan apa-apa lagi. Mereka hanya duduk. Menunggu senja benar-benar selesai. Keheningan itu tidak canggung. Justru penuh. Seperti ada sesuatu yang tumbuh diam-diam di antara mereka. Beberapa saat kemudian, Yannay memecah sepi terlebih dulu.
“Kamu sadar ngga sih… aneh banget kita bisa sampai di titik ini?”
“Titik yang mana?”
“Duduk di sini. Bareng. Kayak.. dari sekian banyak jalan hidup yang mungkin, kita malah ketemu di jalan yang sama.”
Yans menatap aliran sungai yang mulai menggelap.
“Kalau dipikri-pikir, peluangnya kecil” katanya pelan.
“Dari sekian banyak orang di kota itu, dari sekian banyak keputusan kecil yang kita ambil, dari sekian banyak belokan.. kita malah belok ke arah yang sama”
“Berarti, bukan kebetulan dong?”
“Kalau kebetulan pun,” Yans tersenyum tipis, “itu kebetulan yang rapi banget”
Yannay menunduk, memainkan ujung jarinya yang basah oleh air sungai.
“Aku bersyukur sih,” katanya pelan.
“Nggak tahu kenapa, tapi.. rasanya kayak nemu orang yang nggak cuma ngerti caraku ketawa, tapi juga ngerti caraku diam”
Yans tidak langsung menjawab. Ia hanya menoleh, memandangi wajah Yannay yang setengah diterangi sisa cahaya senja.
“Aku juga,” jawab Yans.
“Kamu tahu rasanya nemu rumah, tapi bukan bangunan?”
Yannay menoleh cepat.
“Rumah?”
“Iya. Tempat yang bikin kamu nggak perlu pura-pura kuat. Ga perlu jadi versi paling keren dari diri kamu. Cukup jadi kamu”
Angin berhembus pelan, Yannay memeluk lututnya.
“Kalau suatu hari jalannya makin jauh dan sulit, gimana?” tanya Yannay, “maksudku, hidup kan bukan cuma tentang duduk di pinggir sungai.”
Yans tertawa kecil. “Ya memang bukan. Nanti ada tanjakan, turunan, mungkin lebih licin dari jalan tadi. Mungkin kita bakal beda pendapat, beda capeknya, beda cara lihat dunia.”
“Serem juga ya”
“Serem kalau sendirian” jawab Yans. “Kalau bareng, ya tinggal pelan-pelan aja. Kayak tadi. Kamu Jatuh, aku ketawa, terus tetap ikut turun juga”
Yannay mencubitnya pelan. “Jangan kebiasaan ketawa kalau aku jatuh”
“Kalau kamu jatuhnya karena ceroboh, aku ketawain dulu. Habis itu baru aku bantuin.”
Yannay tertawa. Lalu hening lagi.
“Yans”
“Dalem kasihkuu?”
“Ceritain sesuatu dong”
“Apa nih, tiba-tiba?”
“Dongengin aku apapun deh. Kan kamu suka bikin analogi aneh-aneh, mendadak pula”
Yans berpikir sebentar, lalu menatap langit yang tinggal menyisakan semburat tipis di ufuk barat.
“Dulu,” katanya pelan, “aku pernah ngebayangin ada sebuah negeri yang namanya Negeri Senja”
“Negeri Senja?” Yannay tersenyum.
“Iya, Negeri Senja. Di negeri itu, nggak ada pagi dan nggak ada malam. Pokoknya senja terus”
“Bosen dong?”
“Nggak juga. Karena di sana, orang-orang belajar satu hal. Yaitu menikmati tanpa menggenggam terlalu keras”
“Maksudnya Yans?”
“Di negeri senja, semua orang tahu cahaya itu pasti redup. Jadi mereka nggak sibuk saling merasa memiliki. Mereka sibuk saling menjaga”
Yannay terdiam.
“Di sana” lanjut Yans, “kalau dua orang duduk bareng lihat langit, mereka ga janji yang muluk-muluk. Mereka cuma bilang ‘Selama warna ini masih ada, kita di sini’ Dan anehnya, warna itu selalu datang lagi”
“Berarti nggak ada yang bener-bener hilang?”
“Bukan hilang. Cuma berubah bentuk. Kayak ayahku yang udah meninggal. Ia ngga hilang, hanya berubah bentuk untuk bisa hidup di dimensi lain yang ngga kita mengerti”
Yannay memandangnya lama.
“Kalau kita tinggal di negeri senja… Kamu bakal duduk di sebelah siapa?”
Yans menoleh tanpa ragu.
“Tentunya kamu. Tapi jangan jatuh di jalan licin lagi”
Yannay tertawa pelan, lalu bersandar tipis di bahu Yans. Kali ini lebih jelas. Tidak lagi sekadar bersentuhan tipis.
“Kalau suatu hari aku jadi rewel, capek, atau berubah gimana?” tanya Yannay pelan
“Yannay, senja aja berubah warna setiap hari”
“Dan kamu?”
“Aku mungkin juga berubah. Tapi kalau arah kita masih ke tempat yang sama, ya nggak masalah”
“Tempat yang sama itu, tempat yang mana?”
Yans tidak langsung menjawab. Ia melihat ke sungai yang terus mengalir, jauh.
“Tempat di mana kita tetap memilih duduk berdampingan. Meski langit senjanya nggak selalu jingga”
Yannay menghela napas panjang. “Aku nggak tahu nanti jalannya akan seperti apa. Tapi kalau boleh memilih, aku pengin jalan yang ada pohonnya itu. Yang lebih waras. Nggak licin dan bikin gampang jatuh”
Yans tersenyum.
“Nanti kita cari bareng ya”
Langit akhirnya benar-benar gelap. Hanya sisa cahaya tipis seperti garis yang enggan pergi. Para pencari batu sudah pulang. Warung di atas mungkin juga mulai menutup tirainya.
Yans berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.
“Kita pulang?”
Yannay memandangi tangan itu sebentar. Lalu menggenggamnya.
“Ayo pulang” katanya.
Mereka berjalan naik. Kali ini bukan lewat jalan licin. Mereka mencari jalan yang ditunjuk bapak tadi– yang ada pohonnya. Jalan yang lebih landai dan lebih tenang.
Di antara langkah, Yannay berkata pelan,
“Yans..”
“Apa Yannayku?”
“Terima kasih ya, sudah belok tadi”
Yans tersenyum tanpa menoleh, “Terima kasih juga sudah ikut”
Malam menyambut mereka, tanpa tergesa.
***
Dyan Uki Widyatmaja adalah penulis kelahiran Kebumen tahun 2005. Ia aktif di komunitas Kebumen Book Party dan Kincir Ilmu. Bisa di halo-halo lewat Instagram: @dyan.uki.





part menikahnya mana ini?