
Kendaraan yang memadati jalan tengah kota mulai menyingkir. Sebuah mobil Jeep hijau tua, setir kiri, melaju dengan cepat setelah jalanan dibelah oleh 4 motor trail sebagai voorijder. Di belakangnya ada ratusan sepeda motor beriringan rapi. Mereka menggunakan kaos warna hijau. Mengibarkan bendera berbagai ukuran. Bendera warna hijau dan elang dua pedang. Beberapa dari mereka menggunakan kaos putih lengan panjang. Menandakan mereka adalah para pemimpin. Berbadan besar, bersorban atau memakai peci hitam. Sedangkan pemimpin utama mereka hanya memakai baju hem hijau biasa dan berpeci hitam. Ciri khasnya adalah sarung hijau yang terlilit di lehernya. Dia hanya menggendarai sepeda motor matic biasa. Tampilannya tidak garang. Tapi di situlah letak kewibawaannya.
Rombongan itu anti lampu lalu lintas. Para polisi hanya buang muka saat mereka ini lewat. Karena para polisi tahu. Elang hijau ini sedang marah tapi tetap tenang. Jangan sampai menyenggol mereka. Mereka adalah Elang yang sudah tua. Fokus pada buruan dan tenang menguasai keadaan.
“Itu pada mau kemana, Lek?”, tanya Sapto ke Lek Bardi yang masih mengaduk teh nasgitel pesanan Sapto.
“Pada mau ke pengadilan. Mereka lagi ngawal kasusnya Sari.”, jawab Lek Bardi dengan nada yang agak berat.
“Anakku sebenarnya hari ini sekolah. Tapi izin ikut mereka. Sari itukan anggota Elang hijau, sama kayak anakku. Ya mesi anakku masih ikut-ikutan. Tapi yang ngga papa. Ini beda. Kasusnya harus dikawal sampai tuntas dan adil. Nyawa kok urusannya”. Lek Bardi penjual angkringan langgananku bercerita panjang lebar. Bercerita tentang Sari. Gadis penjual angkringan yang dihabisi nyawanya. Sari adalah alumni di salah satu kampus terbaik di kota ini.
“Jenengan tahu tentang Sari, Lek?”, tanyaku sambil memilih tempe goreng untuk lauk nasi kucingku.
“Sedikit banyak saya tahu. Anakku yang cerita pas kasus ini terjadi”, Lek Bardi berusaha mengingat beberapa cerita dari anaknya tentang Sari.
Semenjak dia di sini, Sari jadi anak angkat Ndan Sal. Di sekolahkan, bahkan jadi muallaf. Sebelumnya kan bukan Islam dia itu. Dia jadi anggota Elang hijau setelah ikut Ndan Sal dan para anggota Elang hijau ngurusi kegiatan sosial dan keagamaan.
“Kalau kasusnya dikawal oleh masa sebanyak itu, bisa jadi vonisnya berat ya Lek?”
“Kalau itu, nggak paham. Biar urusan orang-orang di pengadilan sana.”
Lek Bardi bercerita bahwa dia mengenal Ndan Sal sejak lama. Dan para pendiri dan tetua Elang hijau. Mereka berdiri saat orde baru. Dan masih bertahan sampai sekarang. Anggotanya militan. Manut sama Ndan Sal karena diopeni (dirangkul). Ndan Sal adalah bapak dan sesepuh Elang hijau bagi para anggotanya.
Elang hijau adalah bagian dari sejarah kota ini pada saat orde baru. Sejak awal tahun 80-an mereka ada. Mereka eksis dan rapi. Banyak kegiatan sosialnya. Meski isinya para preman dan orang-orang keras. Mereka peduli kepada masyarakat lemah. Dan berani kritis terhadap kebijakan penguasa yang salah. Mungkin itu yang dimaksud dari dua pedang yang menjadi simbol mereka. Jalan mereka itu aneh. Terlihat preman tapi banyak berbuat sosial. Bahkan sering mengadakan pengajian.
Kerasnya kehidupan masa lalu para tetua Elang hijau, menjadikan Lek Bardi membuat sebuah kemungkinan tersendiri. Elang hijau berisikan para tetua jalanan. Hingga pada akhirnya divonis berapa tahun bui bagi si penghilang nyawa Sari, dia tidak akan hidup dengan tenang. Andaikan vonisnya tidak seumur hidup, saat dia bebas, baru selangkah dia keluar lapas, akan hilang. Dia berhadapan dengan induk Elang tua yang telah dihilangkan nyawa anaknya. Gerakan sayap elang itu senyap. Fokus ke mangsa. Tidak ada kompromi. Elang tidak jahat menurut Lek Bardi. Dia hanya bertindak sebagimana hukum alam. Nyawa diganti nyawa. Dan kini dua pedang Elang hijau, telah bersiap menunggu untuk menjalankan nalurinya.
Hasan Ghozali, orang biasa yang membaca dan menulis.




