
Wisrawa meniup permukaan buku tebal tersebut, sambil membayangkan serpihan waktu beterbangan di bawah sorotan lampu yang menggantung rendah di atas meja kerjanya seperti saat dia menemukan buku itu untuk pertama kali. Ruangan itu hening. Tinggal dengungan mesin penstabil gravitasi stasiun yang menjaga mereka tetap mengapung di orbit cincin Saturnus.
“Kau masih mengurusi buku itu?” tanya Sukesi memecah konsentrasi.
Wisrawa tidak menoleh. Dia tetap memegang pinset mikronya dengan stabil, tetapi bahunya sedikit turun, tanda ketegangan yang luruh seketika.
“Buku ini keras kepala,” gumam Wisrawa seraya mengusap pelan pinggiran halaman yang rapuh itu dengan ujung sarung tangannya. “Buku ini menolak dibersihkan sepenuhnya.”
Sukesi melangkah masuk. Langkah kakinya di lantai stasiun hampir tidak terdengar, diredam oleh sol magnetik yang lembut. Perempuan itu berdiri di sisi meja, cukup dekat hingga Wisrawa dapat mencium aroma teh melati yang selalu menempel pada pakaian seragamnya. Sukesi meletakkan tablet datanya di meja lain yang penuh dengan tumpukan tabung sampel.
“Bukan bukunya yang keras kepala,” kata Sukesi sambil mencondongkan tubuh ke depan. Matanya menyipit mengamati objek di depan Wisrawa. “Mungkin sejarahnya yang terlalu berat untuk dihapus.”
Buku itu adalah sebuah atlas bintang dari abad ke-22, masa-masa awal eksodus manusia dari Bumi. Wisrawa menunjuk ke sudut kanan bawah halaman 42. Di sana, di samping diagram rute peluncuran Jupiter, terdapat tulisan tangan. Tinta biru yang digunakan penulis misterius itu telah memudar menjadi abu-abu pucat, tetapi tulisan itu masih terbaca jelas di bawah lensa pembesar.
“Bacakan untukku,” pinta Sukesi.
Wisrawa menggeleng pelan. Dia menyerahkan kaca pembesar itu kepada Sukesi. Sukesi menerimanya. Jari mereka bersentuhan sebentar. Wisrawa menarik tangannya kembali ke sisi tubuhnya, mengepalkan jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan. Dia sengaja tidak memandang wajah Sukesi, yang dia tahu tengah diterangi cahaya lampu meja.
“Koordinat ini salah,” baca Sukesi perlahan. Suaranya serak, seolah dia sedang membacakan mantra terlarang. “Apabila kau mengikuti vektor ini, kau tidak akan sampai ke Europa. Kau akan jatuh ke dalam badai.”
“Ada balasan di bawahnya,” kata Wisrawa lirih. Dia menunjuk dengan dagunya.
Sukesi menggeser kaca pembesar itu sedikit ke bawah. Tulisan yang berbeda, lebih tegak dan tajam, terjepit di antara batas kertas dan ilustrasi sumur gravitasi.
“Aku tahu. Tapi pemandangannya pasti indah sebelum kita hancur,” baca Sukesi. Dia menegakkan tubuh, melepaskan matanya dari lensa. “Romantis sekali. Dan bodoh.”
“Mereka berdebat di pinggir peta navigasi,” kata Wisrawa. Dia mengambil kembali pinsetnya, mengangkat sebutir debu mikroskopis dari huruf a pada kata indah. “Satu navigator, satu pilot. Mungkin.”
“Atau satu optimis, satu realis,” bantah Sukesi. Dia berjalan memutari meja kerja, jari telunjuknya menelusuri pinggiran meja yang dingin. “Kau sudah memindai residu kimianya?”
“Sudah.”
“Lalu?”
“Tinta karbon kuno. Penanggalan isotop menempatkannya sekitar tahun 2130. Tepat sebelum Stasiun Titan runtuh.”
Sukesi berhenti berjalan. Perempuan itu menatap keluar jendela observasi bundar di dinding seberang. Di luar sana, cincin raksasa planet itu berputar dalam keheningan, partikel esnya berkilauan menangkap cahaya matahari yang jauh. Wisrawa memperhatikan bagaimana cahaya pucat itu membasuh wajah Sukesi, membuat kulitnya tampak seperti pualam.
“Mereka pasti mati,” kata Sukesi tanpa menoleh. “Apabila mereka benar-benar mengambil rute itu.”
Wisrawa tidak menjawab. Dia kembali menatap halaman buku itu. Tulisan tangan itu tampak begitu hidup, seolah baru diguratkan kemarin sore, bukan ratusan tahun yang lalu. Wisrawa merasa ada keintiman yang aneh saat membaca percakapan pribadi orang asing yang telah lama menjadi debu bintang, seolah dirinya tengah mengintip ke dalam kamar tidur seseorang melalui lubang kunci waktu.
“Lihat halaman berikutnya,” kata Wisrawa.
Sukesi berbalik. Bahu mereka hampir bersentuhan. Wisrawa membalik halaman dengan sangat hati-hati. Di halaman 43, peta menunjukkan sabuk asteroid. Ruang kosong di margin kiri penuh dengan tulisan. Kali ini bukan perdebatan teknis.
“Rindu itu seperti gaya sentrifugal,” baca Wisrawa, suaranya rendah. “Makin cepat kita berputar menjauh, makin kuat ia menarikku ke dinding.”
Sukesi tertawa kecil. “Metafora fisika. Mereka pasti ilmuwan.”
“Lalu balasannya,” lanjut Wisrawa. Dia menunjuk tulisan tangan kedua yang terselip di bawah paragraf tentang komposisi mineral asteroid. “Maka jangan melawan. Biarkan ia menekanmu sampai kau tidak bisa bernapas.”
Hening menggantung di antara mereka.
“Apa yang kau cari dari buku ini, Wisrawa?” tanya Sukesi tiba-tiba. Dia tidak melihat ke buku, tapi menatap tangan Wisrawa yang diam di atas meja.
Wisrawa mengangkat bahu dengan kaku. Dia mengambil kain mikrofiber dan mulai membersihkan sebuah noda di sudut halaman yang jauh dari tulisan.
“Ini tugasku,” jawab Wisrawa. “Merenovasi artefak.”
“Kau bisa saja memindainya, menyimpannya dalam basis data digital, lalu membekukan fisiknya di gudang pendingin,” desak Sukesi. “Tapi kau membiarkan buku ini terbuka di mejamu selama enam hari. Kau bahkan belum memperbaiki jilidnya yang rusak.”
Wisrawa berhenti menggosok dan meletakkan kain itu. Matanya menelusuri garis-garis tinta biru itu lagi. Tulisan itu berantakan, terburu-buru, mungkin ditulis saat kapal sedang berguncang atau saat peringatan rendahnya oksigen berbunyi.
“Mereka meninggalkan jejak,” kata Wisrawa akhirnya. “Bukan dalam sejarah resmi. Bukan dalam log penerbangan. Tapi di sini. Di tempat yang tidak seharusnya.”
Sukesi menghela napas panjang. Dia menarik kursi tinggi dan duduk di samping Wisrawa. Lutut mereka berbenturan pelan di bawah meja. Tak satu pun di antara mereka yang menarik kaki menjauh.
“Kau pikir mereka selamat?” tanya Sukesi, suaranya melembut.
“Tidak,” jawab Wisrawa jujur. “Itu rute bunuh diri. Tinta di halaman terakhir menunjukkan tanda-tanda paparan radiasi tinggi. Penulisnya mungkin sudah mengalami keracunan radiasi saat menulis kalimat terakhir.”
“Lalu kenapa membacanya?” tanya Sukesi.
Wisrawa memutar tubuhnya sedikit menghadap Sukesi. Kursi kerjanya berdecit.
“Karena mereka terus menulis,” kata Wisrawa. “Sampai halaman terakhir.”
Wisrawa membuka halaman penutup buku itu. Kertas di bagian belakang itu hangus di bagian tepinya. Peta menunjukkan ruang kosong di luar orbit Pluto. Deep space, kegelapan tanpa ujung. Di sana, hanya ada satu baris tulisan tangan. Kali ini, kedua jenis tulisan tangan itu bercampur, saling menimpa, seolah dua orang memegang satu pena bersamaan. Tinta itu tebal dan belepotan. Sukesi membacanya dalam hati. Bibirnya bergerak sedikit, membentuk kata-kata itu tanpa suara. Tangannya bergerak perlahan ke atas halaman, ujung jarinya mengambang satu milimeter di atas tulisan itu, seolah takut merusak ikatan molekul tinta yang rapuh.
“Kita adalah koordinat yang tetap,” ucap Sukesi.
“Di tengah ketidakpastian navigasi,” tambah Wisrawa. “Di tengah badai radiasi. Mereka memutuskan bahwa tujuan tidak lagi penting.”
Sukesi menoleh ke arah Wisrawa. Jarak wajah mereka hanya tinggal sejengkal. Wisrawa dapat melihat flek-flek emas di iris mata Sukesi, seperti peta bintang mikrokosmos.
“Mereka berhenti mencari jalan pulang,” kata Sukesi.
“Mungkin mereka menemukan rumah di margin buku ini,” jawab Wisrawa.
Sukesi terdiam. Dia memandang sekeliling ruang arsip yang penuh dengan ribuan buku, gulungan, dan kristal data. Semua benda itu berisi pengetahuan, fakta, angka, dan sejarah peradaban manusia. Namun, di antara semua data itu, dua hantu dari masa lalu memilih untuk menyembunyikan jiwa mereka di pinggiran kertas yang sempit.
“Wisrawa,” panggil Sukesi pelan.
“Ya?”
“Pinjamkan aku penamu.”
Wisrawa mengerutkan kening dan melirik pena arsip yang tergeletak di samping mikroskop.
“Kau tidak boleh menulis di artefak, Sukesi. Itu pelanggaran protokol.”
“Bukan di buku itu,” kata Sukesi. Dia mengulurkan tangan, telapaknya terbuka, menunggu.
Wisrawa ragu sejenak. Namun, dia mengambil pena itu. Alih-alih memberikannya, dia memegangnya erat.
“Di mana?” tanya Wisrawa.
Sukesi mengambil tangan kiri Wisrawa yang masih terbungkus sarung tangan. Perlahan, dia menarik sarung tangan itu. Wisrawa tidak melawan. Kain itu terlepas, memperlihatkan kulit tangan Wisrawa yang pucat. Sukesi mengambil pena dari tangan kanan Wisrawa, lalu membalikkan tangan kiri laki-laki itu sehingga telapaknya menghadap ke atas. Ujung pena yang dingin menyentuh kulit hangat di pergelangan tangan Wisrawa. Jantung Wisrawa berdetak sedikit lebih cepat. Sukesi mulai menulis. Namun, perempuan itu tidak menulis huruf atau angka. Dia menarik sebuah garis lengkung, mengikuti urat nadi biru yang berdenyut di bawah kulit pergelangan tangan Wisrawa. Garis itu meliuk lalu berakhir tepat di pangkal telapak tangan.
“Ini bukan rute ke Europa,” kata Wisrawa.
“Memang bukan,” jawab Sukesi tanpa mengangkat wajahnya. Dia masih berkonsentrasi pada karyanya. “Ini adalah rute ke tempat yang tidak ada di peta.”
Laki-laki itu memperhatikan puncak kepala Sukesi. Wisrawa ingin menyentuh rambut itu, tetapi tangannya yang lain masih memegang tepi meja, menahan bobot tubuhnya yang seolah ingin melayang. Sukesi selesai menggambar, lantas meniup pelan tinta di kulit Wisrawa.
Wisrawa melepaskan cengkeramannya pada meja dan memutar tangannya yang bebas, meraih jemari Sukesi yang memegang pena. Dia mengambil pena itu dengan lembut dari tangan Sukesi, lalu meletakkannya kembali ke meja, jauh dari buku, jauh dari sejarah orang lain. Ditatapnya garis lengkung berwarna biru di pergelangan tangannya yang bersinar redup dalam remang ruang. Garis itu adalah marginalia untuk keberadaannya yang sepi.
Dia mengangkat tangannya, mendekatkan pergelangan tangannya ke wajah Sukesi. Sukesi memejamkan mata dan menyandarkan pipinya ke telapak tangan Wisrawa. Kulit mereka bertemu, begitu hangat dan nyata. Jauh lebih nyata daripada hantu-hantu di dalam buku atlas.
“Tinta ini akan pudar esok,” kata Wisrawa.
“Maka kita harus memperbaharuinya,” kata Sukesi. “Setiap hari.”
Kata-kata perempuan itu terasa berlebihan, sama seperti halaman-halaman kosong di buku-buku sejarah yang tidak pernah mencatat detak jantung seseorang. Wisrawa tidak mengatakan apa-apa. Di luar jendela, Saturnus terus berputar dengan cincin-cincin raksasanya, tak punya kepentingan pada isi kepala Wisrawa di pinggir semesta yang sempit itu.
Setyo W. Nugroho, lahir di Klaten tahun 1991. Pekerjaan sehari-harinya adalah menelaah kebijakan-kebijakan publik terkini dan merekomendasikan penguatan pengawasan yang diperlukan. Dapat disapa melalui Instagram @perahumabuk.




