Pagi yang Jatuh di Teras

Teras rumah itu menghadap matahari pagi, tapi sudah beberapa hari ini, cahaya hanya mampir tanpa sempat tinggal lama. Udara pun tak lagi wangi embun, hanya bau kayu lapuk dan debu yang menempel di dinding tua. Di sana, Pak Darman duduk sendirian dengan seteko teh yang tak lagi hangat.

            Pagi-pagi sekali, Ia sudah membuka pintu rumah. Bukan karena ingin menyambut siapa pun, tapi karena sejak istrinya meninggal tiga bulan lalu, ia takut pada bunyi pintu tertutup. Katanya, sunyi bisa terdengar lebih nyaring jika terkurung.

            “Darmanto…” suara itu datang dari ujung jalan. Pak Darman menoleh.

            Itu suara Pak RT, seperti biasa memanggil dengan nada yang terlalu akrab untuk seseorang yang hanya datang saat mau Pilkades.

            “Iya, Pak?” jawab Darman malas.

            “Masih sendiri aja?”

            Darman tak menjawab. Di dalam kepalanya, pertanyaan itu terdengar seperti ejekan. Sejak Sari pergi, semua orang jadi ahli mengomentari kesendirian. Padahal tak ada satu pun yang berani menemani sunyi yang ia tanggung setiap malam.

            Pak RT berlalu setelah basa-basi yang basi. Darman kembali menatap langit. Awan-awan menggumpal di ufuk timur. Tak lama lagi akan hujan.

***

            Di ruang tengah, dinding masih menyimpan foto-foto keluarga yang menggantung miring. Foto anaknya, Wira, waktu masih berseragam SMA. Anak itu sekarang sudah kerja di Jakarta, dan seperti kebanyakan anak kota, lupa jalan pulang.

            “Kerjaan, Pak… banyak banget,” itu yang selalu Ia bilang.

            Wira dulu sangat dekat dengan ibunya. Saat ibunya sakit, Wira sempat pulang. Tapi hanya dua malam. Malam ketiga, Ia pamit karena harus menghadiri rapat penting. “Orang kantor Jepang, Pak. Harus saya temui.”

            Sari wafat dua hari kemudian. Wira tak sempat melihatnya mengembuskan napas terakhir.

            Setiap pagi, Darman menyeduh teh dua gelas. Satu untuk dirinya, satu Ia biarkan di sisi kursi kosong. Sebagai bentuk penghormatan, atau mungkin semacam pengingat bahwa kesepian bisa terasa lebih ringan jika dibagi—even pada yang sudah tiada.

***

            Hari itu, hujan turun lebih cepat dari biasanya. Rintik kecil mengetuk genting, lalu berubah jadi deras dalam waktu singkat. Darman menyelipkan tubuhnya lebih dalam ke balik pintu. Di luar, hujan seperti nyanyian masa lalu.

            Tiba-tiba ponselnya bergetar. Nama Wira muncul di layar.

            “Pak… besok saya mau pulang,” suara di ujung telepon terdengar sungkan.

            “Pulang? Kenapa?”

            “Cuma… ya, pengin lihat rumah aja.”

            Darman diam. Ia tahu, anaknya bukan tipe yang pulang hanya karena rindu. Pasti ada sesuatu.

            “Ya sudah. Hati-hati di jalan,” jawabnya.

***

            Wira datang keesokan siangnya. Mobilnya mengkilat, pakai kemeja putih yang masih licin dari setrika laundry. Ia membawa koper kecil dan seikat bunga.

            “Buat Ibu,” katanya, meletakkan bunga itu di meja.

            Darman hanya mengangguk. Mereka duduk bersisian di ruang tamu, tapi seolah ada dinding tak terlihat yang memisahkan mereka.

            “Ibu pasti senang kamu pulang,” kata Darman, datar.

            Wira mengangguk. Ia menatap sekeliling rumah yang tak banyak berubah. Lantai masih berderit jika diinjak. Foto-foto tua masih menatapnya dari dinding.

            “Pak…” Wira mulai membuka percakapan, “Saya mau jual rumah ini.”

            Darman menoleh.

            “Saya butuh dana tambahan buat DP rumah di BSD. Sudah lama saya cicil, tapi belum cukup. Rumah ini… ya, daripada kosong.”

            Hening.

            Suara hujan kemarin lebih ramah dari suara anaknya barusan.

Darman menatap wajah Wira. Sama seperti ibunya. Tapi kini mata itu tak menyimpan kehangatan. Hanya hitung-hitungan.

            “Kamu mau jual rumah ini? Rumah tempat kamu lahir? Tempat Ibumu masak setiap hari?”

Wira menunduk.

            “Pak, saya juga susah. Hidup di Jakarta nggak mudah. Saya nggak minta semuanya. Kita bagi. Bapak bisa pindah ke kontrakan. Saya urus.”

            Kalimat terakhir adalah tamparan. Darman berdiri.

            “Kamu tahu, rumah ini dibangun bukan dari uang. Tapi dari cerita. Dari tangisan Ibumu waktu pertama kali kita masuk rumah ini tanpa kursi satu pun. Dari tawamu waktu kamu jatuh dari sepeda dan kaki berdarah di halaman itu.”

            “Pak… saya—”

            “Pulanglah.”

            “Pak, saya—”

            “Sekarang. Sebelum saya benar-benar marah.”

            Wira berdiri. Ia menatap ayahnya sekali lagi. Kemudian melangkah pergi. Suara pintu tertutup menggemakan luka yang lebih tua dari umur mereka.

***

            Malam itu, Darman duduk di teras lebih lama dari biasanya. Ia menyeduh teh dua gelas. Satu untuknya, satu lagi ia biarkan di tempat kosong, seperti biasa.

            Tapi malam ini berbeda. Ia meletakkan bunga yang dibawa Wira di atas gelas kosong itu.

            “Mungkin kita gagal jadi orang tua yang bisa mengajarkan makna rumah,” gumamnya pelan.

            Langit malam terbuka perlahan, dan bintang-bintang muncul satu per satu. Di dalam dada, sesuatu terasa lebih lapang—seperti luka yang tidak sembuh, tapi mulai bisa diajak berdamai.

4 komentar untuk “Pagi yang Jatuh di Teras”

  1. Wiwit Putra Bangsa

    Membaca cerpennya mas Kajoe ikut terbawa suasananya yang dalam, setiap rangkaian katanya sangat lembut dan tenang, tetapi dari ketenangan itu membuat saya tenggelam

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top