Cara Memaafkan Bagi Orang Dewasa

Cara Memaafkan Bagi Orang Dewasa

Kamu tahu,
apa yang paling membingungkan dari proses menjadi dewasa?
Adalah bersikap lantang atas nama jati diri
namun bersamaan dengannya,
harus belajar diam
mengerti yang tak sama, menerima tanpa harus sepakat.

Kamu tahu,
apa yang paling rumit dari proses menjadi dewasa?
Adalah berdiri sendiri,
membayar semuanya dengan tenaga dan air mata,
namun suatu waktu harus bisa merengek,
sekadar menghargai peluk yang disediakan dengan tulus.

Kamu tahu,
apa yang paling disombongkan dari proses menjadi dewasa?
Adalah idealisme
satu-satunya warisan yang tak diwariskan,
harta karun yang dijaga dengan dada terbuka dan kening mengerut.

Tapi kamu tahu,
apa yang paling menenangkan dari proses menjadi dewasa?
Adalah memaafkan.
Bukan karena dia benar dan kamu salah,
bukan karena kamu lemah atau mereka lebih kuasa,
tapi karena…
di tengah segala yang rumit dan mengikat,
kita berhak memilih:
damai.

Jogja, 10 Februari 2015

***

Overthinking

Ide itu seperti hantu.
Melayang-layang di antara bayangan
menyelinap di celah malam
dan kesunyian yang tak sepenuhnya tenang.

Ia datang saat tak dibutuhkan
mengetuk-ngetuk kepala
dengan langkah yang tak bersuara
membisikkan segala kemungkinan
yang belum sempat kau beri nama.

Ia duduk di sudut gelisah
menatapmu tanpa mata
menyentuhmu tanpa jari
dan kau tahu, kau tak akan bisa tidur malam ini.

Ide itu seperti hantu.
Tak bisa ditangkap
tak bisa dipanggil sesuka hati
ia datang dengan wajah samar
dan pergi membawa sisa sesal yang tak selesai.

Dan ketika ia benar-benar datang
di saat kau siap menuliskannya
di saat pena dan kertas sudah berjabat
kau justru gemetar
bertanya:
“Benarkah aku yang memanggilmu?”
lalu kau menutup pintu perlahan
membiarkannya menunggu
di luar nurani yang tak kunjung terbuka.

Jogja, 28 Agustus 2014

***

Menerima Dewasa

Aku menangis berkali-kali
Menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri
Mengurai isi kepala, menenangkan hati

Aku menangis berkali-kali
Menyesali kesalahan demi kesalahan
Terpuruk pada kekalahan

Aku menangis berkali-kali
Putus asa berkali-kali

Aku mengatur rencana berkali-kali
Aku mencoba bangkit berkali-kali
Bertahan setiap hari
Menyusuri kemungkinan setiap waktu
Menguatkan diri
Membasuh tabah
Mengobati luka
Mencintai hidup
Menerima aku yang dewasa

Banyumas, 22 Januari 2024

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top