Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)

Di atas Seprai Putih

Di atas seprai putih yang baru saja tergelar,
terbaring tubuh yang lelah,
tapi hatiku tak bisa diam.
Di luar jendela, malam mulai memeluk sunyi,
seperti rahasia yang tak terungkap.

Di atas seprai putih ini,
setiap helai kain seakan menyerap
setiap cerita yang terpendam,
setiap ingatan yang datang tanpa izin.
Aku merasa, seolah tubuh ini
lebih dari sekadar daging dan tulang,
lebih dari sekadar kenyamanan tidur.
Ia menyimpan kisah
seperti sebuah buku yang belum selesai dibaca.

Tangan yang terulur seakan mencari
sesuatu yang tak terlihat,
sesuatu yang hilang dalam perjalanan panjang,
sesuatu yang ada, namun tak terjangkau.
Malam ini, seprai putih menjadi saksi
bahwa jiwa tak pernah benar-benar tidur,
bahwa ada yang terus terjaga
dalam kesunyian yang mengisi ruang.

Dari balik jendela,
terlihat cahaya bulan yang merayap perlahan,
menerangi jejak-jejak waktu
yang pernah meninggalkan bekas di sini.
Dan aku hanya bisa merenung,
terbaring di atas seprai putih,
mencoba merangkai mimpi yang belum teraih,
dengan nafas yang semakin lelah.

2025

***

Surat kepada Baginda Nabi

Baginda,
hamba menulis surat ini
seperti anak kecil
yang tak pandai memilih kata,
tapi menyimpan cinta sebesar semesta
di dalam saku kecil bajunya.

Hamba tak tahu harus mulai dari mana,
dari malam-malam yang retak oleh sepi,
atau dari zikir yang bergetar
tanpa mampu menyentuh langit?

Baginda,
namamu telah menjadi taman
yang hamba datangi setiap pagi,
meski langkah ini goyah,
meski hati sering kehilangan arah.

Di antara berita buruk,
iklan-iklan kosong,
dan doa-doa yang kehilangan nyala,
hamba mencari senyummu
yang pernah mengubah batu menjadi mawar,
yang membuat langit pun
menunduk karena cinta.

Baginda,
jika engkau ada di sini,
hamba ingin menangis di pangkuanmu
seperti Zaid yang terluka,
ingin mengatakan:
dunia terlalu bising,
dan hamba terlalu kecil
untuk mengerti
bagaimana mencintaimu
dengan cara yang layak.

Salam juga untuk Sayyidah Khadijah,
perempuan yang menjadikan rumahmu surga
sebelum surga dijanjikan.
Dan untuk Ali,
yang menghunuskan pedang
demi cinta,
bukan demi amarah.

Baginda,
surat ini mungkin tak sampai,
tapi biarlah angin membawanya,
karena rindu selalu tahu jalannya
meski tanpa alamat,
meski tanpa perangko,
meski hanya dengan air mata.

2025

***

Asam Urat dan Penyesalan

Tubuhku dulu adalah janji,
setiap sendi berbisik lembut
pada malam yang tak pernah lelah
menunggu datangnya pagi.

Aku mencintai makanan
seperti lelaki yang mencintai
perempuan yang hanya bisa memberi
kenangan manis
dan luka di ujung bibir.

Setiap gigitan adalah puisi,
setiap kunyahan adalah doa,
dan setiap malam adalah waktu yang hilang,
tak pernah kembali.

Sekarang, lututku gemetar,
seperti rindu yang tak pernah terbalas.
Tulangku berbisik tentang hari-hari
yang terlalu banyak dibuang
pada makanan yang kini jadi penyesalan.
Dan aku,
duduk di meja makan,
mengunyah penyesalan
dengan setiap gigitan yang lebih tajam
dari rasa sakit yang datang terlambat.

Ibu,
kau selalu bilang:
“Jaga tubuhmu, anakku,
karena waktu tak pernah kembali.”
Dan aku,
seperti selalu,
mengabaikanmu
dengan senyum yang salah.

Kini, aku duduk sendiri
di ruang yang semakin sepi,
obat-obat itu sepi juga,
tak ada kata-kata yang mampu mengobati
kesalahan-kesalahan yang kutinggalkan
di tubuh ini.
Dan malam datang
dengan sendirinya,
seperti kesepian
yang tak pernah bisa dihindari.

2025

***

Hening yang Panjang

Setelah percakapan terakhir,
yang tersisa hanya diam,
panjang dan asing,
seperti tempat tidur
yang tak lagi berbau wangi kekasih.

Aku duduk sendiri,
menyentuh kursi kosong
dengan jari-jari ingatan.
Tak ada suara,
bahkan detik pun enggan
menyapaku malam ini.

Mereka bilang keheningan itu indah,
mereka tak tahu
betapa sunyi bisa mencakar
hingga berdarah
tanpa meninggalkan luka.

Aku menyalakan lampu
bukan untuk melihat,
tapi agar kesepian tahu
aku masih di sini,
masih menunggu sesuatu
yang tak pernah datang.

Dan aku mulai menulis
bukan untuk menjelaskan,
tapi untuk menyentuh diriku sendiri
dengan kata-kata
yang tak sempat kubisikkan
ketika kau masih duduk di sebelahku.

Hening ini,
seperti gaun tipis
yang pernah kau tinggalkan
di gantungan musim lalu,
membuatku rindu
pada hal-hal sepele
yang dulu kutertawakan.

2025

***

Mengetuk yang Tak Terlihat

Aku telah mengetuk banyak pintu
dalam hidup ini
dari pintu kekasih
yang hanya membukakan senyuman,
hingga pintu-pintu doa
yang dibuka separuh
oleh langit yang menimbang
apakah aku layak.

Aku membawa sebilah rindu
yang tak punya alamat,
dan secarik nama
yang terus kulipat
di dalam dada
seperti surat yang malu
dibaca oleh dunia.

Setiap malam, aku mengetuk
dengan jari-jari yang dulu memeluk,
kini menggigil
seperti malam yang kehilangan bulan.
Tak ada pintu yang terbuka,
tapi aku tahu,
kadang yang tak terlihat
lebih dekat dari nafas sendiri.

Di antara sunyi dan kesepian,
aku mendengar suara,
bukan dari balik dinding,
melainkan dari dalam luka
yang kupeluk diam-diam
sejak jarak tak pernah diberi nama.

Tuhan,
jika pintu-Mu pun tak terbuka,
biarlah aku menjadi ketukan itu sendiri,
yang menggema dalam diriku
tanpa harus Engkau jawab
dengan apa pun
selain keteduhan
yang tak bisa dijelaskan
oleh kata.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top