Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 6)

Supaya lebih tandas membacanya, bacalah terlebih dulu:
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 1)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 2)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 3)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 4)

Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 5)

Elegi Lelaki
yang Mengubur Namanya Sendiri

Aku pernah punya nama,
tertulis di sudut surat kabar,
disebut ibu saat memanggil pulang,
dan kau bisikkan
di sela doa menjelang tidur.

Tapi sejak hari itu,
ketika kau memilih
pergi tanpa suara,
aku menanggalkan semua huruf di tubuhku.
Namaku kubungkus dalam kain kafan
dan kubawa ke padang sunyi
di mana tak ada orang mencatat sejarah
kecuali angin.

Aku menjadi lelaki yang tak dikenal
di warung kopi seberang masjid.
Tak ada lagi yang menoleh
saat aku memesan teh manis,
atau menanyakan kabar ibuku
yang dulu sering sakit-sakitan.

Di malam-malam tanpa mimpi,
aku menulis puisi
tentang hujan, tentang pintu
yang tak pernah dibuka,
tentang sepasang mata
yang tak lagi kupanggil pulang.

Dan bila kau bertanya
siapa lelaki yang duduk di bangku taman
dengan wajah setua langit,
yang menatap jam dinding
seolah menunggu takdir datang dari
kereta terakhir — itu aku,
yang telah mengubur namanya sendiri
karena terlalu lelah
menjelaskan apa itu cinta
kepada dunia
yang sibuk menebar harga.

2023, 2025

***

Doa Selembar Daun yang Tersisa

Aku ini hanya selembar daun
yang enggan jatuh
karena masih mencintai angin.
Meski ia tak pernah menjanjikan pelukan,
aku tetap setia
menunggu desirnya datang
membacakan puisi
dari kota-kota yang kehilangan musim.

Dahan tempatku bergantung
tak lagi muda.
Tapi aku percaya,
cinta pun bisa tumbuh
di atas luka
dan kerinduan bisa hidup
dari sisa embun yang tinggal
di ujung helai.

Aku pernah mendengar
dari kupu-kupu yang lewat,
bahwa gugur adalah cara alam mencium bumi
dengan kelembutan yang tak sempat kita ucapkan.
Maka sebelum aku jatuh,
izinkan aku berdoa
bukan dengan ayat-ayat yang rumit
tetapi dengan bahasa yang sederhana,
“Ya Tuhan,
bila aku harus pergi,
izinkan rinduku menyentuh tanah-Mu
seperti hujan yang pulang ke lautnya sendiri.”

2023, 2025

***

Rindu yang Tumbuh di Taman Surga

Rindu ini seperti benih yang jatuh,
tumbuh di tanah yang tak pernah kering,
di taman yang penuh dengan harum
tanpa tahu batas.

Setiap hembusan angin membawa
aroma tubuhmu,
dengan segala kepingan kenangan
yang sempat hilang dalam waktu.

Aku berjalan di antara bunga-bunga
yang menyampaikan pesan-pesan diam
dari malam yang sudah lama
berbagi rahasia tentang kita.

Apakah kamu tahu, Kekasih?
Rindu ini tumbuh tanpa perlu musim,
tanpa perlu hujan atau matahari.
Ia hanya butuh namamu
yang selalu kusebut dalam doa.

Di taman surga ini,
rindu tak mengenal waktu,
ia hanya tahu bagaimana
menyentuh jiwa yang haus,
tanpa berharap apapun selain
untuk terus hidup dalam setiap nafasmu.

2023, 2025

***

Nyanyian Perempuan
yang Berjalan di atas Air Mata

Perempuan itu berjalan
melewati desa-desa yang lupa caranya berdoa.
Di tangannya seikat bunga malam,
dan di dadanya — sebuah peti kecil
yang menyimpan suara
lelaki yang gugur
sebelum sempat mengeja cinta.

Angin dari selatan
membisikkan ratapan ibu-ibu renta,
yang menenun malam
dari benang-benang hujan
dan cerita tentang gadis
yang ditinggalkan tepat saat purnama
menggantung
di langit tanpa jendela.

Ia berjalan di atas air matanya,
yang membentuk sungai kecil
menuju padang rumput
tempat mimpi dikubur tanpa nama.

Di kakinya,
belati patah tertanam
seperti akar doa
yang tak sempat tumbuh
menjadi nyanyian.

Ia tak bersuara.
Namun langit mendengar
setiap getar langkahnya:
tarian luka yang tak berdarah,
lagu sunyi yang bahkan tak berani
dinyanyikan angin.

Burung hantu menyambutnya di pohon tua,
seraya membuka pintu
ke makam waktu.

Dan ia pun hilang,
menjadi embun
di mata gadis-gadis
yang masih percaya,
bahwa cinta bisa diselamatkan
oleh hujan pertama.

2023, 2025

***

Sujud yang Menjadi
Pelabuhan Terakhir

Sujudmu adalah pelabuhan terakhir,
di ujung langkah yang tak tampak.
Tubuhmu menyatu dengan tanah,
menjaga rahasia yang telah lama pergi,
sementara hatimu menghadap
ke arah yang tak terjamah waktu.

Kaki-kaki lelah itu
melangkah jauh tanpa jejak.
Hanya bayang-bayang yang tetap,
menguji batas ruang dan waktu
yang tak lagi menghitung
berapa lama perjalanan ini.

Tak ada lagi kata
yang keluar dari bibirmu.
Hanya tangan yang terangkat,
menggenggam angin,
seperti daun-daun kering
yang menunggu kembali
ke tanah tempat asalnya.

Di setiap hela nafasmu,
terdengar doa yang panjang,
seperti hujan yang jatuh
pada tanah yang menunggu
untuk disuburkan kembali.
Dan aku, yang terdiam
di balik kelopak matamu,
menyaksikan semesta
yang menari dalam diam.

Sujud itu menjadi
akhir dari segala pencarian,
seperti bunga yang mekar
dalam senyap malam,
mencari pelabuhan
yang tak pernah hilang,
cinta yang sejati
dalam kerinduan abadi.

2023, 2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top