
Berjumpa kembali dengan Mozaik Pekanan. Ini adalah Mozaik Pekanan ke III sejak pertama kali ada rubrik Mozaik di situs bilfest.id. Selain itu, pembaca juga dapat membaca Mozaik Kanon, yang tayang setiap hari Kamis. Dalam Mozaik Pekanan kali ini, mengulas 5 tulisan yang tayang dari tanggal 23-27 Februari 2026.
Perlu diketahui bersama, bahwa situs bilfest.id tidak membatasi diri pada wacana atau keilmuan tunggal. Situs bilfest.id adalah ruang yang terbangun atas kebaruan, keragaman, keunikan, kerandoman karya tulis yang tayang. Bahkan selama bulan Ramadan, tidak hanya menayangkan tulisan tentang Ramadan. Alasannya sederhana, dunia digital itu luas. Dan biarkan tulisan yang tayang, membentuk algoritmanya sendiri dan menjumpai siapa yang ingin ia ajak untuk berdialektika.
Siapa yang Menentukan Nilai Sebuah Karya?
Pada momen Imlek tahun 2577, partai Demokrat menyelenggarakan perayaan Imlek pada tanggal 18 Februari 2026. Dalam live tayangan di YouTube partai Demokrat, salah satu rangkaian acara dalam perayaan Imlek tersebut adalah lelang lukisan “Kuda Api” karya SBY, mantan presiden RI ke 6. Lukisan “Kuda Api” itu terjual dengan nilai fantastis, 6,5 miliar rupiah. Tujuan lelang adalah untuk amal.
Setelah lelang tersebut, respon publik beraneka macam. Di tengah respon publik yang beraneka macam itu -yang tidak hanya seniman dan perupa yang berkomentar, tim redaksi mencoba mengikuti keramaian tersebut. Hingga ada tulisan yang masuk ke meja redaksi.
Tulisan tersebut tidaklah memaktubkan peristiwa lelang lukisan “Kuda Api”. Namun mengambil berjarak tapi masih dalam konteks seni. Sehingga pembaca diajak untuk berpikir secara jernih dan adil. Tanpa ada muatan “suka” atau “tidak suka”. NZ Sapta dalam tulisannya “memotret” obrolan di kalangan komunitas seniman (perupa) lokal.
Jauh sebelum keramaian lelang lukisan “Kuda Api” obrolan tentang seni tidak ada habisnya. Semakin berkembang, variatif dan bertumbuh. Sedikit kami kutipkan tentang tulisannya yang sekali lagi, berjarak dengan keramaian lelang lukisan “Kuda Api”, namun dengan membacanya, kita akan punya sudut pandang yang lebih literat dalam menghadapi fenomena.
“. . . seni murni bisa dipahami sebagai karya yang lahir dari gagasan konseptual serta refleksi terhadap realitas. Seni seperti ini tidak hanya hadir karena fungsi praktis atau estetika semata, tetapi karena ia menantang cara kita melihat dan memahami sesuatu.”.
Ramadan Sebagai Katalisator dan Penggeser Paradigma
Bulan Ramadan, situs bilfest.id memang membuka peluang untuk tulisan bertema Ramadan. Salah satu tulisan yang sudah hadir di depan pembaca dari Febby Dzikri Saputro, penulis asal Madiun.
Ia memaknai ibadah di bulan Ramadan tidak sekadar mengejar banyaknya melakukan ibadah. Melainkan menghadirkan ibadah yang berkualitas. Ia mencontohkan, “Salat yang khusyuk bukan tentang durasinya, melainkan tentang sejauh mana kita menyadari sedang berdiri di hadapan Tuhan”.
Dalam tulisannya, Febby Dzikri Saputro memberikan pemaknaan tentang ibadah yang istiqomah selama dan setelah Ramadan. Sehingga umat Islam yang menjalani ibadah di bulan Ramadan tidak selesai setelah Idulfitri, melainkan semakin terbangun. Karena selama bulan Ramadan sudah terbangun ibadah yang baik meskipun perlahan.
Kyai Ahmad Muta’alim Merawat Islam dari Akar: Menjadi NU Jalur Pelosok
Rubrik “Sosok” yang ada di situs bilfest.id tidak hanya tim redaksi yang menghadirkannya. Dan sosok yang bisa kami tayangkan, tidak harus yang famous. Namun ia dalam sunyi dan jauh dari sorot kamera, menjalani laku hidup “anfa ‘uhum linnas”.
Alvidin, seorang mahasiswa yang berasal dari Desa Tlaga Kabupaten Banjarnegara, menuliskan tentang sosok yang berjuang di jalan sunyi desa. Ia adalah Bapak Kyai Ahmad Muta’alim. Namanya tidak sesohor para Kyai, Ustadz atau Gus yang meramaikan media sosial.
Menurut Alvidin, cara dakwah Kyai Ahmad Muta’alim yang bisa dijadikan teladan adalah “. . .keistikamahannya dalam mengelola waktu. Dalam satu desa, beliau bisa menetap paling singkat selama tiga tahun. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk membina para santri sampai benar-benar matang, dan mampu melanjutkan aktivitas keagamaan secara mandiri. Kyai Ahmad Muta’alim tidak hanya berceramah singkat di atas panggung, lalu pergi meninggalkan jama’ah. Namun tinggal bersama mereka. Tipikal Kyai seperti itu, usianya akan lebih panjang di hati masyarakat (jama’ah).
Ganja Medis Bukan Hanya Soal Obat Melainkan Kebebasan dari Penderitaan yang Kita Abaikan
Tim Redaksi dalam mengkurasi tulisan, penuh dengan kehati-hatian. Kedalaman wacana yang dibawa oleh penulis, menjadi pertimbangan selanjutnya oleh tim redaksi. Salah satunya adalah wacana tentang “Ganja Medis” yang dikirim oleh Mahin Al Hasan.
Selain memaparkan tentang UU Narkotika yang melekat pada tanaman ganja, Mahin Al Hasan mengajak pembaca untuk melihat sisi lain dari ganja. Yaitu tentang aspek kemanusiaan. Dalam tulisannya, Mahin Al Hasan juga mengajak kita untuk mengingat kembali kasus Fidelis dan perjuangan ibu-ibu di CFD yang pernah ramai beberapa waktu silam.
“Fidelis adalah seorang pegawai negeri sipil di Sanggau, Kalimantan Barat, yang menanam ganja di rumahnya bukan untuk dijual, bukan untuk dipakai sendiri, melainkan untuk mengobati istrinya, Yeni Riawati, yang menderita syringomyelia”
Tidak hanya ranah kemanusiaan. Mahin Al Hasan juga mengikuti perkembangan fiqih kontemporer para ulama dalam memberikan hukum terhadap penggunaan tanaman ganja. Menurutnya, fiqih bukanlah sistem hukum yang beku. Sehingga, ulama fiqih kontemporer menurutnya dapat turut andil sebagai “penyelamat” kemanusiaan, dalam hal ini penggunaan ganja untuk kepentingan medis. Karena sifatnya dharurat.
Pada hakikatnya, setiap penulis ingin menyampaikan kebaikan, melalui ruang ini -situs bilfest.id maupun ruang lainnya. Mereka berangkat dari keilmuan dan latar belakang yang berbeda. Mereka berangkat dengan titik mulai yang beraneka ragam. Muaranya adalah kebaikan.
Begitupun Alvin Qodri Lazuardy. Salah satu penulis yang turut membangun bilfest.id melalui tulisan-tulisannya. Ia pernah mengisi rutin tulisan untuk tayang di hari Jum’at di tengah kesibukannya.
Pada Jum’at 26 Februari 2026, pada bulan yang mulia ini, Alvin Qodri Lazuardy mengajak kita untuk membaca kembali buku “Cahaya Rahmat Sang Nabi” yang ditulis oleh Syekh Izzuddin bin Abdus Salam.
Alvin Qodri Lazuardy mensaripatikan buku ini kepada kita semua, “. . . pokok ajaran kitab ini menegaskan bahwa awal perjalanan menuju kebaikan adalah meneguhkan mahabbah, ta‘zhīm, dan ittibā‘ kepada Rasulullah. Cinta kepada beliau bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi pembenaran hati dan pengamalan syariat. Siapa yang memuliakan Rasulullah, Allah akan memuliakannya; dan siapa yang memenuhi hatinya dengan cinta kepada al-Musthafa, maka ia berada di atas jalan iman yang sempurna dan di bawah naungan rahmat Allah Ta’ala.”
Mereka yang Mencari Makna
Tulisan yang tayang pekan ini, dari Senin sampai Kamis merupakan upaya sungguh-sungguh para penulis dalam melihat dan memaknai sekitarnya -dunianya. Tentang nilai, kemanusiaan, empati, kepedulian dan kebaikan kepada sesama. Lalu mereka menuliskannya. Andai para pembaca turut mendapatkan makna, semoga menjadi penyemangat bagi para penulis, juga untuk kami yang berada di balik meja redaksi.

dari Banyumas menyapa Indonesia




