Jalan Awal Meraih Kebaikan

Judul Buku : Cahaya Rahmat Sang Nabi
Penulis : Syekh Izzuddin bin Abdus Salam
Pensyarah : Hisyam Kamil Hamid Musa Al Syafi’i Al Azhary
Penerjemah : Fariza Yusuf Maulana
Penerbit : DIVA Press
Tahun terbit : 2023
Halaman : 252
ISBN : 978-623-189-239-3

Kitab Bidāyah As-Sūl karya Syekh Izzuddin bin Abdussalam merupakan penegasan tentang jalan awal meraih al-khair (kebaikan) melalui ma‘rifat terhadap kemuliaan Rasulullah. Judulnya sendiri mengisyaratkan bahwa permulaan segala wasilah menuju rahmat Allah adalah mengenal, mengagungkan, dan menempatkan Nabi Muhammad pada maqam yang telah Allah tetapkan baginya. Barangsiapa Allah kehendaki baginya pintu kebaikan, maka Allah lapangkan dadanya untuk memahami keutamaan al-Musthafa sebagai sayyidul khalq, sumber turunnya rahmat dan sebab tersampaikannya hidayah.

Diantara dalil yang dihadirkan adalah riwayat shahih tentang dialog antara Rasulullah dan Umar bin Khattab sebagaimana tercantum dalam Sahih al-Bukhari. Ketika ‘Umar menyatakan kecintaannya kepada Nabi melebihi siapapun selain dirinya sendiri, Rasulullah menegaskan bahwa kesempurnaan iman belum terwujud hingga beliau lebih dicintai daripada diri sendiri. Setelah ‘Umar meluruskan niatnya dan menyatakan kecintaan yang sempurna, Nabi bersabda bahwa saat itulah imannya telah benar. Hadis ini menjadi kaidah bahwa mahabbah kepada Rasulullah bukan perkara tambahan, melainkan syarat kamal al-iman.

Penulis menegaskan bahwa pengagungan Nabi bukanlah bentuk kesombongan, melainkan ta‘līm dan irsyād dari beliau agar umat mengenal Rabb-nya. Rasulullah tidak meminta ajr (upah) ataupun pujian, tetapi menghendaki terjalinnya mawaddah dan ittibā‘ di antara kaum mukminin. Dengan mengenal kemuliaan beliau, seorang hamba diarahkan kepada ma‘rifatullah, sebab Rasulullah adalah wasilah yang Allah pilih untuk menyampaikan wahyu dan menegakkan syariat.

Konsekuensi dari mahabbah tersebut adalah memperbanyak shalawat dan salam kepada al-Habīb al-Musthafa dalam setiap shalat dan di luar shalat. Shalawat merupakan tanda ittibā‘, pengakuan atas syafā‘at beliau, dan bentuk ta‘zhīm yang diperintahkan. Pada hari ketika māl dan banūn tidak lagi memberi manfaat, syafā‘at Rasulullah menjadi harapan kaum mukminin. Dengan sebab beliau, umat ini memperoleh pertolongan dan diringankan dari kesulitan pada Yaum al-Qiyāmah.

Diriwayatkan pula oleh Al-Sakhawi bahwa Rasulullah memiliki beberapa bentuk syafā‘at, dan beliau tidak akan merasa tenang hingga umatnya yang terakhir diangkat dari azab. Hal ini menunjukkan keluasan rahmat Allah yang dikaruniakan kepada Nabi-Nya. Allah memuliakan beliau, mengabulkan doanya, dan menjadikan kecintaan kepada Rasulullah sebagai sebab turunnya kasih sayang Ilahi.

Sebagai khatiman, pokok ajaran kitab ini menegaskan bahwa awal perjalanan menuju kebaikan adalah meneguhkan mahabbah, ta‘zhīm, dan ittibā‘ kepada Rasulullah. Cinta kepada beliau bukan sekadar ungkapan lisan, tetapi pembenaran hati dan pengamalan syariat. Siapa yang memuliakan Rasulullah, Allah akan memuliakannya; dan siapa yang memenuhi hatinya dengan cinta kepada al-Musthafa, maka ia berada di atas jalan iman yang sempurna dan di bawah naungan rahmat Allah Ta’ala.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top