
(Sebuah Penerokaan Awal Buku Kesusastraan Indonesia Lama Bercorak Islam, oleh Dr. Ismail Hamid, Tahun 1989)
Sastra klasik Indonesia lama, sebagaimana terekam dalam naskah-naskah era transisi, bukanlah sekadar warisan beku dari masa lalu. Ia merupakan medan pertempuran kultural, sebuah laboratorium tempat ideologi dan narasi bertemu, bertarung, lalu beradaptasi. Kajian terhadap korpus sastra era peralihan Hindu-Buddha ke Islam ini membuka pemahaman bahwa proses Islamisasi di Nusantara berjalan secara cerdas, inklusif, dan melibatkan medium yang paling efektif yaitu bahasa (lughat) dan cerita (hikayat).
Langkah awal adaptasi ini dapat dilihat melalui perlakuan terhadap karya-karya epik pra-Islam. Alih-alih memusnahkan narasi-narasi yang sudah mengakar di masyarakat, seperti Hikayat Seri Rama atau Hikayat Inderaputra, para intelektual (sekaligus ahlu Tashawwuf) Muslim seperti Syekh Nuruddin al-Raniri justru memilih jalur “Islamisasi Bahasa“. Mereka menyadur, memilih, memilah, dan mengemas ulang kisah-kisah Hindu-Buddha dalam kerangka akidah Islam. Strategi ini memastikan bahwa ajaran baru diserap tanpa harus mencabut akar budaya yang sudah lama dipegang teguh, menunjukkan kearifan dalam transmisi ilmu.
Filtrasi dan penyaduran ini tidak terbatas pada epos Hindu-Budha. Sebaliknya, hal ini membuka jalan bagi masuknya khazanah sastra yang lebih luas dari pusat-pusat peradaban Islam seperti Arab dan Persia. Melalui penguasaan bahasa-bahasa kunci, para ulama lokal menerjemahkan dan menyadur karya-karya bermotif hiburan yang kaya moral, seperti cerita berbingkai Hikayat Bayan Budiman dan Hikayat Kalilah dan Dimnah, serta kisah-kisah pahlawan sufi yang penuh hikmah. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan istana, tetapi menjadi instrumen dakwah yang efisien, membungkus nilai-nilai etika dan ketatanegaraan—sebagaimana termaktub dalam Bustan al-Salatin—dalam bentuk yang mudah dicerna.
Namun semangat yang tinggi ini, kadang kala menjadi pedang bermata dua. Dalam genre Sastra untuk Nabi Muhammad SAW, muncul produk yang disebut sebagai Hikayat Nabi Bercukur, yang bertujuan mengagungkan sosok Rasulullah SAW. Teks-teks seperti ini, meskipun lahir dari kecintaan yang mendalam, seringkali mengandung “kekeliruan” atau unsur fiktif yang melampaui batas ajaran Al-Qur’an dan Hadis. Ini adalah kritik jujur dari kajian ini: sastra, sebagai kreasi manusia, tidak luput dari penyimpangan yang diakibatkan oleh keterbatasan keahlian keagamaan penulis atau kecintaan yang berlebihan. Temuan ini mengingatkan bahwa sastra adalah cerminan kompleks dari kondisi intelektual dan emosional, bahkan keadaan sosial suatu peradaban, bukan semata-mata teks baku.
Menghela napas ke zaman modern, etos sastra klasik ini menawarkan kontekstualisasi yang mendalam bagi realitas literasi kita saat ini. Sastra lama adalah narasi yang lentur, siap disadur dan diadaptasi demi misi peradaban mengandung mashlahat meskipun pada tahap tertentu terdapat beberaa hal yang mudharat. Naskah-naskah klasik ini menjadi cermin reflektif, mengingatkan kita bahwa kekuatan literasi sejati terletak pada efektifitas narasi yang mampu mentransmisikan nilai, mengikat budaya, dan membentuk karakter peradaban. Ia membuktikan bahwa warisan literasi kita adalah sejarah panjang adaptasi yang brilian dan tulus dari para penghulu bahasa yang sangat mulia. Al-fatihah untuk mereka. Bersambung…

Alvin Qodri Lazuardy, sedang berproses menjadi pendidik, penulis, dan penggerak literasi Islam-lingkungan. Ia berfokus pada kajian worldview Islam, filsafat pendidikan Islam, ekoliterasi, dan kepesantren. Aktif menulis di bilfest.id, suaramuhammadiyah.com, pwmjateng.com, Ibtimes.id serta mengelola Alfuwisdom Publishing di Yogyakarta.




