Dunia yang Terdistorsi: Refleksi Konflik Attack on Titan dalam Realitas Demonstrasi dan Kekuasaan di Indonesia

Hajime Isayama selaku kreator dari serial anime Attack On Titan merangkum cerita  karakter dalam karangan yang merepresentasikan kehidupan dunia nyata terkait kepedihan, kepahitan masa lalu, dendam dari perang yang saling terbalaskan, dan korban adu domba dari pemerintah. Hal unik yang terdapat dari anime ini klimaksnya sering terjadi dan dianggap relate dengan apa yang dialami manusia di kehidupan nyata. Ia juga menciptakan karakter utama melambangkan kebebasan dari penindasan raksasa atau Titan, serta menciptakan dunia kompleks seolah pembaca manga dan penonton animenya tidak menentukan villain hanya dari perbuatan fisik yang diceritakan namun cara penikmat cerita ini mengembangkan pemikirannya dan berteori karakter yang sangat bias dari sudut pandang masing-masing. 

Tema utama serial ini adalah penindasan dan perjuangan untuk kebebasan, yang mewakili rasa amarah para korban tragedi dan bagaimana itu bisa menjadi bahan bakar untuk gerakan mereka mencari kebebasan. Dari beberapa media Jepang yang berkaitan dengan anime, mengadakan wawancara terhadap Isayama sendiri inspirasi darimana cerita ini. Isayama mengambil dari peristiwa sejarah nyata, konflik antara Jerman dan Romawi yang digambarkan kubu Eldia dan Marley. 

Awalnya, Eren Yeager sang karakter utama mengidolakan masuk Pasukan Pengintai atau Survey Korps, dan ia menyadari bahwa dunia Attack On Titan bukanlah aksi heroik yang hanya membasmi semua Titan tetapi ada latar belakang besar yang di balik semua itu. Titan di sini bukan sekadar makhluk yang ceritanya hanya untuk dikalahkan, Titan di sini dijadikan sebagai alat senjata pemangku jabatan seperti Marleyan untuk menghabisi Eldian yang berada di dalam tembok Paradise. Tembok-tembok itu diberi nama setiap bagiannya, tembok paling luar diberi nama Maria, tembok yang lebih dalam atau yang berada di tengah diberi nama Rose, dan tembok paling dalam tempat ibu kota yang isinya konglomerat, pejabat, polisi militer yang bertugas diberi nama Sina. 

Dalam semesta Attack On Titan, sejarah panjang peperangan ini mengisahkan konflik antara dua kekuatan besar yaitu bangsa Marley dan bangsa Eldia. Segalanya dimulai dengan dari dua milenium yang lalu seorang budak perempuan bernama Ymir Fritz memperoleh kekuatan Titan setelah terjatuh ke dalam jurang yang berisi makhluk menyerupai tulang belakang dan menyatu dengan tubuhnya sehingga mengubahnya menjadi Titan pertama. Ymir Fritz merupakan bangsa Eldia yang disebut Eldian memiliki raja yang sangat kejam Bernama Raja Fritz. Raja Fritz yang mengetahui kondisi Ymir kemudian memanfaatkan Ymir sebagai senjata untuk membangun peradaban bangsa Eldia dan membantai bangsa-bangsa lainnya termasuk Marley. Ymir menikah dengan Raja Fritz dan memiliki anak Maria, Rose, Sina. 

Setelah kematian Ymir, jasadnya dimakan oleh ketiga anaknya agar kekuatannya tidak hilang. Kemudian kekuatan Titan itu berkembang menjadi 9 Titan Shifter dan Titan Murni. Titan Murni menyerang manusia tanpa tujuan tujuannya agar bisa kembali bisa menjadi manusia sekiranya mereka bisa memakan Titan Shifter. Sedangkan Titan Shifter merupakan manusia yang bisa mengendalikan Titan itu sendiri dengan kemauannya sendiri. Sebuah rezim besar yang didominasi oleh Titan. 

Seiring waktu, Marley bangkit dan merebut beberapa Titan Shifter dari Eldian dan mempropaganda perang saudara Eldian. Marleyan berhasil merebut 7 Titan Shifter kecuali Founding Titan keturunan Fritz dan 1 lainnya. Seluruh Eldian berlindung di dalam tembok Paradise. Marleyan terus-menerus menyerang Eldian dengan mengirim para Titan ke Pulau Paradise, sedangkan Eldian berniat Rumbling dengan Eren yang telah mendapatkan Founding Titan. Peperangan di antara Marleyan dan Eldian berlangsung tahun demi tahun yang dipicu oleh sejarah berdarah, manipulasi kebenaran, dan perebutan kekuatan Titan. 

Pada titik ini, Attack On Titan tidak lagi berdiri semata sebagai karya fiksi fantasi tentang manusia dan Titan. Dunia yang diciptakan Isayama justru menghadirkan cermin tentang bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ketakutan diproduksi, dan bagaimana konflik dipelihara oleh narasi yang diciptakan oleh pihak-pihak yang memiliki otoritas. Bangsa Marley dan Eldia tidak hanya digambarkan sebagai dua kubu yang saling bermusuhan, tetapi sebagai korban dari sejarah panjang manipulasi, propaganda, dan trauma kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Isayama menunjukan bahwa konflik tidak selalu lahir dari kebencian murni, melainkan dari ketidakadilan struktural yang terus direproduksi, dalam situasi demikian, kemarahan massa menjadi sesuatu yang hamper tak terelakan. Namun, kemarahan itu kerap diarahkan bukan kepada sumber kebijakan, melainkan kepada pihak yang berada di garis depan. Di sinilah Attack On Titan menempatkan pembacanya pada posisi reflektif mempertanyakan siapa sebenarnya yang diuntungkan dari konflik, dan siapa yang sesungguhnya menjadi korban. Kerangka inilah yang membuat Attack On Titan terasa relevan dengan realitas di luar layer. Ketika kekuasaan bersembunyi di balik sistem, ketika kebenaran disederhanakan menjadi narasi hitam putih, dan ketika aparat serta rakyat diposisikan saling berhadapan, maka konflik tidak lagi bersifat fiksi. Ia menjelma menjadi pola yang berulang dalam kehidupan nyata, termasuk dalam konteks sosial dan politik di Indonesia. Di titik inilah, pembahasan mengenai demonstrasi dan relasi antara negara, aparat, dan masyarakat menemukan relevansinya. 

Sesuai dengan judul di atas, penulis juga akan mengembangkan bagaimana demonstrasi di Indonesia terjadi yang direlevansikan dengan anime Attack On Titan. Rentetan aksi demonstrasi yang ada di pertengahan tahun 2025, seperti aksi menolak kenaikan tunjangan DPR menjadi representasi dari masyarakat atas penghianatan yang dilakukan pejabat negara terhadap kebijakan yang tumpang tindih, tidak selaras dengan aspirasi publik dalam RDP maupun tahap penyusunan pembentukan undang-undang. 

Menurut Gould dalam bukunya yang berjudul “The Unfinished Revolution: How the Modernisers Saved the Labour Party.” New Statesman 127 (1998) mengungkapkan bahwa adanya tuntutan sistem politik demokratik yang unsur prasyarat pentingnya meliputi: inisiatif rasional politik, kesantunan politik, disposisi resiprositas toleransi, fleksibilitas dan open mindness, komitmen kejujuran akhirnya keterbukaan. Di Indonesia kegiatan ini dijamin di Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28 serta UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum. 

Demokrasi memberikan ruang bagi warga negara berpatisipasi secara aktif memberikan pendapat yang dirasa menjadi polemik bagi bangsa dan negara kedepan.  Affan Kurniawan, Muhammad Akbar Basri, Sarinawati, Saiful Akbar, Sumari, Rusdamdyansah, Rheza Sendy Pratama, Andika Lutfi Falah, Iko Juliant Junior, nama-nama di atas menjadi korban atas kekejaman aparat dan kebengisan pejabat negara yang acuh terhadap hak masyarakatnya sendiri. Segalanya memang butuh pengorbanan akan tetapi nyawa bukan merupakan salah satunya baik sekarang sampai kapanpun. 

Dalam berbagai aksi massa, terlihat jelas hubungan di lapangan antara aparat polisi dan masyarakat menjadichaos tak terkendali dan sering kali tuntutan damai dari masyarakat sipil dibalas dengan kekerasan. Benang merahnya advokasi yang tidak didengar tentu membutuhkan banyak perhatian dari pihak yang didemo atau dituntut, hal ini selaras seperti yang diteliti melalui judul Skripsi mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berjudul “Pengaruh Regulasi Emosi, Pola Asuh Dan Sabar Terhadap  Agresivitas Demonstran Mahasiswa” bahwa agresivitas dari diri sendiri terjadi karena faktor internal dan eksternal.

Faktor internal disebabkan oleh diri sendiri dan lingkungan sekitar kita seperti pengontrolan kecerdasan manusia dan faktor eksternal ketidakpuasan maupun tidak didengarkannya aspirasi mahasiswa sekaligus masyarakat yang demo sehingga melakukan kekerasan menyerang aparat kepolisian. Nyatanya alih-alih berkenan menemui massa, pejabat sering kali menghindar untuk menemui massa aksi. Salah satunya cara yaitu dibenturkan dengan aparat, awalan ricuh yang nantinya aparat polisi turun dengan menyemprotkan water canon hingga gas air mata.

Bentrokan menjadi pemandangan biasa, polisi membentuk pagar untuk melindungi tuan yang membayar gajinya, sebenarnya pajak mereka dari rakyat yang mendemo mereka sendiri. Sering kali pula berdalih Tindakan represif yang dilakukan untuk menjaga ketertiban. Benar memang aparat memiliki tugas untuk mengamankan massa, batas antara pengamanan dan hak asasi manusia sering dilewati. 

Dampak dari konflik ini tidak hanya antara rakyat dan polisi tidak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Kepuasan terhadap Polri menurun dalam 5 tahun terakhir terhitung tahun 2021 di mana menyentuh 80% kepuasan masyarakat terhadap Polri merosot menjadi 72,2% pada tahun 2025 (17-20 Mei) berdasarkan lembaga survei indikator politik yang dilansir dari media GoodStats. Pada tahun 2021 menyentuh 80% tingkat kepercayaan dengan rincian 16% responden sangat percaya 64% cukup percaya. Tahun berikutnya turun menjadi 77,3% di mana 11,8 sangat percaya dan 68,5% cukup percaya. Terbaru tahun 2025 menyentuh 72,2% tingkat kepercayaan terdiri dari 13,3% sangat percaya dan 58,9% cukup percaya. 

Polisi melawan masyarakat sipil di aksi demonstrasi merupakan cerita yang sama persis dengan Marleyan dan Eldian. Polisi bukan musuh rakyat, dan rakyat bukan musuh polisi, namun sering kali dua pihak ini dibenturkan oleh pejabat negara. Di medan perang kita berperang mereka sibuk menonton dan memberi instruksi yang lebih represif.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top