
Ada cara lain untuk melihat negara: bukan dari gedung pemerintahan, bukan dari pidato pejabat, bukan pula dari undang-undang yang ditulis rapi di atas kertas. Jan Newberry, melalui bukunya Back Door Java: Negara, Rumah Tangga, dan Kampung di Jawa, mengajak pembaca melihat negara dari tempat yang sering dianggap remeh: dapur, gang sempit, pintu belakang rumah, arisan, posyandu, pertemuan PKK, bahkan dari gosip tetangga.
Saya membaca buku ini melalui versi terjemahan bahasa Indonesia yang tersedia di iPusnas. Sejak halaman-halaman awal, buku ini sudah menawarkan satu gagasan yang menggelitik: rumah tidak pernah benar-benar pribadi. Ia selalu terhubung dengan orang lain, dengan kampung, dengan keluarga besar, dengan kerja perempuan, dan bahkan dengan negara.
Newberry melakukan penelitian etnografis di sebuah kampung kelas pekerja di Yogyakarta. Mulanya, ia tidak secara khusus datang untuk meneliti PKK atau kehidupan rumah tangga. Namun, pengalaman tinggal di sebuah rumah kontrakan tanpa pintu belakang justru membuka jalan bagi pemahaman yang lebih luas. Ketiadaan pintu belakang ternyata bukan persoalan arsitektur semata. Dalam kehidupan kampung, pintu belakang adalah jalur sosial. Dari sanalah makanan, bantuan, tenaga, kabar, dan hubungan antartetangga mengalir.
Rumah yang tidak memiliki pintu belakang menjadi “ganjil” karena memutus arus sosial yang selama ini menopang kehidupan kampung. Di titik inilah kekuatan buku ini mulai terasa. Newberry tidak buru-buru meloncat ke teori besar. Ia membaca hal-hal kecil dengan sabar: dapur, kompor minyak, slametan, perjalanan ke pasar, cara perempuan menyapu halaman, hingga bagaimana tetangga menilai kemampuan seorang ibu mengurus rumah. Dari hal-hal yang tampak biasa itu, ia menunjukkan bahwa kehidupan sehari-hari menyimpan struktur kekuasaan yang halus.
Buku ini disusun melalui tiga pintu utama: rumah, rumah tangga, dan rumah kediaman. Rumah dibaca bukan hanya sebagai bangunan, tetapi sebagai simpul hubungan sosial dan kekerabatan. Rumah tangga dibahas sebagai ruang ekonomi, tempat anggota keluarga menjalani hidup dengan berbagai siasat: bekerja di sektor informal, berbagi beban, saling membantu, atau memanfaatkan jaringan keluarga. Sementara rumah kediaman dipahami sebagai ruang moral, tempat seseorang dinilai sebagai ibu, istri, tetangga, dan warga yang baik.
Salah satu bagian paling kuat dalam buku ini adalah pembahasan mengenai PKK. Newberry tidak melihat PKK sekadar sebagai organisasi perempuan. Ia menunjukkan bahwa PKK adalah salah satu cara negara masuk ke dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui PKK, perempuan ditempatkan sebagai pengelola keluarga, penjaga kesehatan anak, pengurus lingkungan, penggerak posyandu, sekaligus pelaksana agenda pembangunan. Negara, dalam buku ini, tidak hadir secara kasar. Ia hadir melalui kebiasaan, kewajiban sosial, dan kerja perempuan yang sering kali dianggap wajar.
Di sinilah buku ini terasa penting, terutama bagi pembaca Indonesia. Kita sering melihat PKK sebagai hal biasa: ibu-ibu berkumpul, arisan, posyandu, penyuluhan, lomba kebersihan, atau kegiatan kampung. Namun Newberry mengajak pembaca bertanya lebih jauh: siapa yang bekerja? Siapa yang memperoleh beban moral? Siapa yang dianggap bertanggung jawab atas keluarga, anak, lingkungan, dan keharmonisan kampung?
Jawabannya banyak mengarah pada perempuan. Namun, buku ini tidak menggambarkan perempuan kampung sebagai korban yang pasif. Justru sebaliknya, perempuan tampil sebagai subjek yang kompleks. Mereka bekerja, berstrategi, bernegosiasi, menjaga hubungan, mengelola rumah, mencari penghasilan tambahan, sekaligus menghadapi penilaian moral dari tetangga. Mereka bisa memanfaatkan PKK untuk menaikkan status sosial, tetapi juga bisa mengolok-oloknya sebagai “perempuan kurang kerjaan”. Ada penerimaan, ada penolakan, ada siasat.
Kekuatan lain buku ini terletak pada keberanian Newberry menempatkan dirinya dalam tulisan. Ia tidak bersembunyi di balik jarak akademik yang kaku. Ia hadir sebagai peneliti, perempuan, istri, sekaligus “ibu rumah tangga magang” yang belajar berbelanja ke pasar, memasak, menerima tamu, dan memahami aturan sosial kampung. Posisi ini membuat buku terasa lebih hidup. Pembaca tidak hanya bertemu teori, tetapi juga pengalaman: rasa canggung, salah paham, pengamatan, dan kedekatan.
Namun, Back Door Java bukan buku yang sepenuhnya ringan. Beberapa bagian terasa padat karena memadukan cerita lapangan dengan teori antropologi, gender, ekonomi rumah tangga, kekerabatan, hingga pembentukan negara. Pembaca yang tidak terbiasa dengan kajian sosial mungkin perlu membaca perlahan. Akan tetapi, kepadatan itu bukan kelemahan utama. Justru di situlah buku ini menunjukkan kedalamannya: ia tidak hanya bercerita tentang kampung, tetapi menjadikan kampung sebagai jalan untuk memahami negara.
Buku ini juga relevan untuk membaca kehidupan hari ini. Meski penelitian Newberry dilakukan pada masa Orde Baru dan masa setelahnya, banyak hal yang masih terasa dekat. PKK masih ada. Posyandu masih berjalan. Kerja sosial perempuan masih sering dianggap “alamiah”. Kampung masih menjadi ruang tempat orang saling membantu sekaligus saling mengawasi. Rumah masih menjadi tempat di mana negara, keluarga, moralitas, dan ekonomi bertemu.
Membaca buku ini membuat kita sadar bahwa hal-hal kecil tidak selalu kecil. Dapur bisa menjadi ruang politik. Pintu belakang bisa menjadi metafora kekuasaan. Arisan bisa memperlihatkan jaringan sosial. Gosip bisa menjadi alat kontrol moral. Dan kerja ibu-ibu yang selama ini tampak sunyi bisa menjadi jalan untuk memahami bagaimana negara bekerja.
Back Door Java adalah buku yang membuka mata. Ia tidak memaksa pembaca melihat negara sebagai sesuatu yang jauh, besar, dan abstrak. Sebaliknya, ia membawa negara turun ke lantai dapur, ke halaman rumah, ke gang kampung, ke tubuh perempuan yang bekerja, merawat, dan menjaga kehidupan sosial tetap berjalan.
Dari pintu belakang rumah tangga, Jan Newberry memperlihatkan bahwa negara tidak hanya dibentuk oleh pejabat dan institusi resmi. Negara juga dibentuk setiap hari oleh kerja-kerja kecil yang sering tidak disebut sebagai politik. Dan barangkali, justru karena itulah buku ini penting: ia mengajarkan kita melihat yang tersembunyi, mendengar yang dianggap biasa, dan menghargai kerja sunyi yang menopang kehidupan bersama.
Membaca buku ini membuat kita sadar bahwa hal-hal kecil tidak selalu kecil. Dapur bisa menjadi ruang politik.
Dinda Fatimah Zahra Syam Alfauzan, atau Faqod Faaz, adalah mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia sekaligus Kader PKK. Belakangan, ia membaca Jan Newberry sebagai salah satu asupan pengetahuannya dalam memahami dapur, kampung, dan hal-hal kecil yang ternyata tidak pernah kecil. Jejaknya dapat ditemui di Instagram @difaatimah_13.




