
Ada agenda yang lama tidak aku lakukan, yaitu pergi sendiri ke Bioskop Rajawali, menonton sendiri, lalu setelahnya duduk di kursi tunggu depan loket pembelian tiket sambil menulis. Akhirnya hari ini aku melakukan agenda itu lagi, demi “Na Willa” yang tinggal satu sesi penayangan di bioskop, khawatir akan turun layar sebelum aku menontonnya. Sebetulnya film ini masuk ke daftar calon film yang aku tunggu rilisnya, tetapi baru aku tonton sekarang karena rencananya akan masuk agenda kencan, sayangnya kencan tersebut belum terjadi, mungkin film lainnya yang akan masuk agenda kencan nantinya, hahahaha!
Aku sengaja tidak ‘riset’ tentang film ini, pun menonton trailernya tidak, supaya jadi kejutan. Tanpa ekspektasi saat masuk studio, membawa apresiasi saat keluar studio. Seperti biasanya, aku coba mengapresiasi lewat tulisan, tentunya untuk “Na Willa” lewat tulisan ini.
Antusiasme Na Willa Terhadap Sekolah
Banyak cerita di film ini yang rasanya cukup sentimentil bagiku karena mengingatkan aku akan masa kecil dulu, apalagi tulisanku sering menyisipkan memori dan pemikiran masa kecilku. Salah satu yang rasanya paling dekat adalah antusiasme Na Willa terhadap sekolah, karena aku memulai sekolah di usia yang sangat belia, mulai dari playgroup.
Sebulan lalu aku baru memasuki lagi ruang kelas playgroup tempatku sekolah dulu, yang muridnya kebanyakan laki-laki dan hanya ada tiga perempuan (termasuk aku). Lalu melihat ruang kelas Na Willa di sekolah barunya, mengingatkan aku ke ruang kelasku itu. Bu Djuwita (gurunya Willa) seperti Bu Eli (guruku) yang mengajak kami membuat puding rasa jeruk dulu, menyenangkan!
Setahun terakhir ini aku baru menyadari bahwa hampir seluruh hidupku dihabiskan di sekolah. Aku suka sekolah. Playgroup hingga kuliah. Mungkin karena itu juga aku merasa ada yang hilang setelah wisuda. Ketika menulis ini aku sambil bersyukur karena memiliki keluarga yang menyekolahkanku sejak belia, apapun alasannya (salah satu kemungkinan karena kesibukan ibuku yang memiliki anak kedua dengan jarak yang tidak begitu jauh dariku), karena ternyata aku sesenang itu sekolah. Di saat menulis ini juga aku tersenyum hambar karena menyadari bahwa ketika aku dewasa melanjutkan studi adalah kemewahan yang belum bisa aku miliki.
Sewaktu menonton tadi aku sempat menangis dua kali. Salah satunya saat film menceritakan hari pertama ke sekolah. Ada rasa kangen, ada nostalgianya, tetapi yang paling mengharukan karena aku menyadari kalau hari pertama sekolah selalu dirayakan. Mulai dari seragam yang disetrika Ibu, diantar Ayah ke sekolah, juga pamit ke Eyang Uti yang sedang di dapur dan Eyang Kakung yang menyapu lantai di pagi hari. Lalu di sekolah disambut dengan “Kembali ke Sekolah”-nya Sherina Munaf, “Hari Pertama Masuk Sekolah” ciptaan Ismail Marzuki, dan lagu-lagu bertajuk serupa yang diputar oleh guru-guru di lapangan atau lewat pengeras suara.
Melihat Mak: Melihat Ibuku dan Cita-cita Menjadi Ibu
Sepertinya klise, seperti kebanyakan anak yang menganggap bahwa ibunya adalah ibu terbaik. Aku juga begitu, tapi aku yakin kalau aku juga kagum terhadap ibuku ketika melihatnya sebagai seseorang, sebagai personal, sebagai perempuan, sebagai yang lepas dari statusnya sebagai ibuku. Sebelum sekolah, kampus, atau buku-buku mengajarkan teori feminisme, kesetaraan gender, atau hal-hal serumpunnya, ibuku secara tak langsung sudah memberikannya untukku.
Dulu aku masih kecil dan bertanya tentang status pendidikan terakhirnya sebagai sarjana dan pilihannya menjadi IRT. Kebetulan waktu itu aku masih belajar memahami kenapa ada sebutan “Ibu Rumah Tangga”, karena tiga kata yang menyusunnya adalah tiga benda yang berbeda. Ibuku menjawab pertanyaanku dengan analogi dan penjelasan yang bisa dicerna pemikiran bocahku saat itu. “Kalau Ibu SMA, Ibu punya pengalaman jadi anak SMA. Jadi kalau anak-anak Ibu punya masalah atau bingung waktu sekolah di SMA, kemungkinan Ibu punya saran untuk anak-anak Ibu, atau minimal Ibu bisa mendengar dan memahami semisal Ibu nggak punya saran. Sama, kalau Ibu kuliah, juga begitu (penjelasannya).” Penjelasan itu keren bagi pemahaman bocahku, dan beberapa tahun kemudian aku masih menilai jawaban ibuku keren, bahkan sangat keren.
Sejak kecil aku memang biasa mengobrol dengan Ibu. Tentang apa pun. Tapi setelah dewasa ini aku baru memahami dari obrolan dengan Ibu (dan pengakuannya) kalau ia sering tidak tahu jawaban dari pertanyaanku, namun ibuku seperti selalu berusaha menjawabnya. Aku jadi mengingat banyaknya pertanyaanku (sewaktu kecil) yang sepertinya jika ditanyakan ke aku (sebagai orang dewasa) tidak mudah dijawabnya. Pemantik ingatan ini adalah pertanyaan Willa kepada Mak, “Sekolah itu seperti apa, Mak?”
Dari segala jawaban dan peran Ibu dalam hidupku yang baru kepala dua ini, ia menjadi figur seorang ibu yang memantik cita-citaku menjadi ibu, cita-cita yang aku ceritakan ke beberapa teman dekatku.
Melihat Mak di “Na Willa”, aku melihat figur yang aku cita-citakan, aku juga melihat ibuku. Bukan bermaksud overproud, tapi Mak dan ibuku adalah sosok yang siap (belajar) menjadi ibu di mataku, dan aku ingin seperti itu. Berbagai scene menunjukkan Willa yang tidak kekurangan kasih sayang seorang ibu justru ditunjukkan dengan celetukan atau pemikiran polos Willa dan teman-temannya, salah satunya adalah nasi goreng yang menjadi bekal sekolah Willa. Sama seperti Willa, dulu aku tidak secepat teman-temanku yang lain dalam memahami konsep transaksi jual-beli, hal ini dikarenakan bekal makan siang sekaligus snacking time (cemilan) yang disiapkan Ibu. Bahkan pertama kali aku transaksi di kantin sekolah ditemani ayahku karena aku belum memahami sistem ‘uang kembalian’. Dulu ada teman-temanku yang seperti Farida dan Bud yang melihatku membawa bekal, ada celetukan mereka yang secara tak langsung memuji ibuku yang menyiapkan bekal sekolah, lalu mereka juga ikut menikmati bekal tersebut.
Sekilas Soal Belajar Membaca
Aku pernah menyampaikan bahwa pengantar literasiku adalah dari Ibu, Ayah, Kakung, Eyang Uti, Kakek, dan Nenek. Membaca bukan kegiatan literasi yang pertama. Namun aku belajar membaca dan bisa membaca untuk pertama kalinya terjadi di rumah, dengan Ibu dan Ayah. Seperti Willa. Bagian ini agak menggelitik bagiku dan seperti ingin menyahuti Bu Tini (guru pertama Willa) yang seolah menganggap bahwa seorang anak baru bisa membaca saat sudah diajarkan di sekolah.
Agaknya bab ini (dalam film) juga yang perlu diapresiasi karena secara halus seperti mengkritik praktik pelaksanaan pendidikan di sekolah yang jauh dari kesan ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. Tidak semua guru berlaku demikian, namun setiap guru perlu memahami hal ini. Di sisi lain bab ini juga perlu dipahami oleh orang tua agar menyadari peran pendidikan pertama dan utama justru ada pada orang tua, sehingga tak serta merta memasrahkan tanggung jawab mendidik tersebut seutuhnya pada institusi sekolah maupun guru secara spesifik. Tentunya bab ini menjadi catatanku pribadi yang nantinya akan menjadi orang tua.
“Peran pendidikan pertama dan utama justru ada pada orang tua, sehingga tak serta merta memasrahkan tanggung jawab mendidik tersebut seutuhnya pada institusi sekolah maupun guru secara spesifik.”
Celetukan Polos Tentang ‘Dewasa’
Scene pemikiran dan celetukan polos tentang orang dewasa sepertinya dipantik oleh pernikahan salah satu kakak perempuan Farida. Lucu dan menggelikan. Namun celetukan tentang kehidupan orang dewasa yang membekas bagiku adalah yang disampaikan Willa dan yang disampaikan oleh Mak.
“Aku mau besok, besok, besok begini terus.” Itu celetukan Willa yang kalau aku tidak salah ingat disampaikan dua kali, sama-sama disampaikan ketika Willa merasa hari-hari yang dijalani membuatnya bahagia dan kehadiran orang-orang di sekitarnya melengkapi kebahagiaan tersebut. Celetukan itu seperti dekat denganku yang beberapa kali memikirkan hal tersebut. Alasannya juga sama, karena rutinitas dan kehadiran orang-orang di sekitarku membuatku nyaman dan bahagia. Semakin aku dewasa, aku baru memahami bahwa benang merah dari pemikiran tersebut adalah konsep bersyukur, yang dengan syukur tersebut agaknya takdir yang sudah digariskan terasa lapang untuk dijalani. Tanpa mengesampingkan realita adanya ujian dan cobaan, bersyukur mungkin salah satu cara untuk berdamai dengan ujian dan cobaan itu sendiri, sehingga setiap orang (seperti Willa) berhak mengakui adanya perasaan ingin hari esok dan seterusnya berlangsung seperti yang sudah disyukuri di hari ini.
Pemikiran polos Willa yang mungkin rawan diinterpretasikan sebagai ‘keinginan tidak mau menjadi dewasa’ di film ini dihadapkan dengan nasihat Mak yang seolah menyadarkan. Berawal dari menonton ulat menggantung di ranting bersama teman-temannya, lalu Willa mendapat buku yang menjelaskan bahwa ulat tersebut tak akan selamanya menjadi ulat, hingga penjelasan dari Mak yang menjadikan revolusi ulat menjadi kepompong sebagai analogi, rasanya penjelasan tersebut pelan-pelan diberikan untuk memahami konsep tentang dewasa. Aku membayangkan jika penjelasannya diberikan secara serta merta, mungkin anak yang duduk di sebelahku (yang sepanjang film diputar tidak berhenti bertanya kepada ibunya dan mengomentari film hingga keadaan studio yang gelap) akan kebingungan.
“Willa tidak akan seperti ini terus, Willa akan berubah.” Kalimat yang disampaikan Mak tersebut rasanya lebih mudah untuk dipahami oleh anak-anak, serta memantik perenungan orang dewasa.
Menonton Dul dan Willa Menyanyi: Mempertanyakan Kesiapan Seorang Dewasa Akan Keikhlasan
“Sikilku Iso Muni” terdengar dan terlihat ceria dinyanyikan Dul dan Willa. Scene ini menceritakan Willa yang menjenguk Dul pasca kecelakaan yang menyebabkan Dul kehilangan salah satu kakinya. Dul dengan ceria dan bangga menceritakan kaki palsunya sebagai kaki baru yang tidak sakit ketika dicubit dan bisa berbunyi. Tidak ada keluhan yang diucapkan Dul, tidak ada raut sedih, bahkan kaki yang disampaikannya bisa berbunyi itu tidak terdengar sebagai kalimat penghiburan.
Di atas aku sudah menyebutkan kalau aku menangis dua kali selama menonton film ini. Pertama saat scene hari pertama ke sekolah, yang kedua saat “Sikilku Iso Muni”. Sepanjang Dul dan Willa bernyanyi justru aku sibuk menyeka air mata.
Aku menangisi keikhlasan seorang anak kecil yang kehilangan kakinya, lalu ketika temannya menunjukkan keprihatinan justru ia meyakinkan temannya bahwa ia sudah berdamai bahkan mensyukuri keadaan barunya. Respon yang tidak biasanya atau mungkin tak disangka, karena belum tentu hal itu yang akan muncul ketika ujian tersebut terjadi pada kebanyakan orang. Mungkin ini salah satu gambaran bahwa dewasa tak selalu ditentukan oleh usia.
Sebagai Penutup
Secara jujur aku berharap agar film ini berumur panjang. Nilai-nilai yang ada di dalamnya akan selalu dibutuhkan oleh umat manusia. Cara penyampaian yang indah dan menyenangkan ini akan selalu nyaman dinikmati. Singkat saja, karena tak sulit untuk mengakui keindahan film ini.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




