
Cerita tentang anak yang belajar meniru dengan hati
Saya meyakini bahwa setiap hari pasti selalu ada sebuah momen yang bikin hati orang tua meleleh. Sore itu, di ruang kamar yang sederhana, Veeya—anak saya yang baru berumur 1 tahun 2 bulan—tiba-tiba ikut menunduk. Ia meletakkan dahinya di lantai, menirukan ayahnya yang sedang salat. Setelah itu, tangannya ia angkat pelan, seolah sedang berdoa.
Bibirnya hanya bergumam kata-kata yang belum jelas, tapi ekspresinya serius sekali. Ibunya yang melihat langsung tersenyum haru: “Ternyata anak sekecil ini sudah bisa menirukan ibadah.”
Momen sederhana ini mungkin tampak lucu. Tapi kalau kita dalami, ada pelajaran besar di balik sujud kecil itu. Anak di usia dini memang belajar dengan cara meniru, menyerap, dan mengulang apa yang ada di sekelilingnya.
Ingatan saya pun langsung tertuju pada Jean Piaget, seorang psikolog perkembangan anak yang menyebutkan bahwa anak usia 0–2 tahun sedang berada di tahap sensori-motor. Pada fase ini, dunia anak adalah apa yang bisa ia lihat, dengar, sentuh, dan lakukan. Semua informasi masuk melalui indra, lalu diulang lewat gerakan tubuh.
Ketika Veeya menirukan sujud, ia sebenarnya sedang membangun skema—yakni kerangka awal pengetahuan tentang “begini cara orang beribadah.” Meniru bagi anak bukan sekadar menyalin gerakan, tapi cara membangun makna.
Artinya, setiap sikap orang tua akan menjadi “cermin” untuk anak. Kalau di depan anak kita terbiasa tersenyum, mengucap terima kasih, atau berdoa, besar kemungkinan anak akan melakukan hal yang sama. Begitu pula sebaliknya: kalau ia sering melihat orang dewasa marah-marah, ia akan belajar marah. Meniru adalah bahasa belajar pertama anak. Dan orang tua, sadar atau tidak, adalah sumber pantulan utama.
Lingkungan itu guru terbaik
Saya pikir apa yang diungkapkan Maria Montessori dalam bukunya The Absorbent Mind ada benarnya juga. Anak usia dini benar-benar punya absorbent mind—pikiran yang menyerap segala hal tanpa filter. Bagi anak, lingkungan adalah guru pertama. Apa pun yang ada di sekitar akan ia serap, tanpa membedakan mana yang baik atau buruk.
Dalam kasus Veeya, rumahnya barangkali penuh dengan rutinitas ibadah. Salat, doa sebelum makan, tilawah, atau sekadar ucapan “Alhamdulillah” setelah bersin. Semua itu membentuk “prepared environment”, istilah Montessori untuk lingkungan yang siap menumbuhkan anak.
Di sinilah kunci pentingnya teladan: kita tidak bisa berharap anak suka doa kalau di rumah tidak ada suasana doa. Kita tidak bisa berharap anak terbiasa salat kalau salat hanya dilakukan sesekali. Bagi Montessori, konsistensi lingkungan jauh lebih efektif daripada seribu nasihat. Jadi, kalau Veeya bisa bersujud di usia 14 bulan, itu bukan karena ia “dipaksa belajar ibadah”, tapi karena ia melihat ibadah sebagai bagian alami dari hidup.
Rasa aman melahirkan kepercayaan
Selanjutnya pikiran saya pun tertuju pada Erik Erikson, seorang psikolog Freudian yang mengatakan bahwa usia 1–2 tahun adalah tahap trust vs mistrust. Di sini anak belajar: “Dunia ini bisa dipercaya atau tidak?” Rasa percaya tumbuh dari pengalaman sehari-hari—dipeluk, disusui, ditenangkan, diajak bicara dengan lembut.
Ketika anak merasa aman, ia berani meniru. Sujud kecil Veeya lahir dari keyakinan bahwa ia diterima, disayang, dan tidak ditertawakan. Justru, orang tuanya ikut tersenyum hangat ketika ia mencoba menirukan doa. Dukungan emosional inilah yang membuat anak percaya diri mengekspresikan dirinya.
Banyak orang tua yang tanpa sadar mematahkan semangat anak dengan komentar seperti, “Ah, masih kecil kok sok salat.” Padahal, yang dibutuhkan anak hanyalah apresiasi sederhana: “MasyaAllah, Veeya pinter ya ikut doa.” Dengan begitu, kepercayaan dirinya makin kuat, dan kebiasaan baik makin menempel.
Doa yang bukan paksaan
Barangkali pertanyaan umum yang sering dilontarkan dari orang tua adalah: kapan anak sebaiknya mulai diajarkan doa dan ibadah? Jawaban sederhananya: sejak anak melihat kita melakukannya. Anak tidak butuh instruksi panjang. Ia butuh contoh nyata yang konsisten.
Seketika, pikiran saya pun berpindah ke sosok Loris Malaguzzi yang familiar dengan pendekatan Reggio Emilia. Ia percaya bahwa anak punya “seratus bahasa” untuk mengekspresikan diri. Mereka bicara lewat gerakan, gumaman, ekspresi wajah, bahkan diam. Doa kecil Veeya—dengan tangan mungil terangkat dan gumaman yang belum jelas—adalah salah satu bahasa itu.
Di usia dini, doa bukanlah soal hafalan kata-kata, tapi soal kebiasaan emosional. Kalau doa dihadirkan dengan penuh cinta, anak akan mengasosiasikan doa dengan rasa nyaman. Sebaliknya, kalau doa selalu dipaksa, anak bisa merasa doa itu membebani. Jadi kuncinya: jangan buru-buru menuntut. Biarkan anak menikmati doa sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Cerita yang menghangatkan
Suatu sore lain, ayah Veeya baru saja menutup salat. Ia menengadahkan tangan, berdoa dengan khusyuk. Veeya, yang sejak tadi mengamati, langsung merangkak kecil. Ia duduk di samping ayahnya, mengangkat tangan mungilnya, dan ikut berdoa. Bibirnya bergerak-gerak, walau kata-katanya masih samar. Semua yang melihat tertawa haru. Bukan menertawakan, tapi kagum: “MasyaAllah, sekecil ini sudah bisa ikut doa.”
Inilah bukti kuatnya modeling alias keteladanan. Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat setiap hari ketimbang dari nasihat yang panjang. Kadang, yang kita anggap sepele—seperti menutup salat dengan doa keras-keras—justru jadi “pelajaran hidup” yang paling kuat untuk anak.
“Anak belajar lebih banyak dari apa yang ia lihat setiap hari ketimbang dari nasihat yang panjang.”
Sebuah refleksi
Seringkali kita sibuk mencari metode parenting modern, lupa bahwa anak belajar paling cepat lewat hal-hal sederhana. Sujud kecil Veeya jadi pengingat, bahwa teladan nyata jauh lebih kuat daripada teori panjang.
Montessori pernah bilang: “Anak belajar dengan mata, telinga, tangan, dan hati.” Kalau kita konsisten menghadirkan kebiasaan baik, anak akan menyerap itu tanpa perlu banyak kata.
Sujud kecil Veeya hanyalah permulaan. Tapi dari situlah bisa tumbuh doa-doa besar di masa depan. Cerita tentang Veeya membuktikan bahwa anak usia dini mampu menangkap nilai spiritual lewat pengalaman sehari-hari. Menanamkan nilai agama bukanlah soal paksaan, melainkan soal menghadirkan teladan yang konsisten, lingkungan yang hangat, dan cinta yang tulus.
Sujud mungil itu memang sederhana, tapi maknanya dalam. Ia adalah bukti bahwa iman bisa bertumbuh sejak dini, jika kita sebagai orang tua mampu menjadi cermin terbaik untuk anak-anak kita.
Mukhamad Hamid Samiaji. Ia penulis yang tak pernah punya alamat tetap. Ia hanya menitipkan diri di huruf-huruf. Ayahnya menurunkan dari sorga dengan cara paling sunyi, dan sejak itu aku belajar betapa bumi adalah rumah yang penuh teka-teki, hingga kini di Purwokerto ia menjadi pegiat literasi.





Ada Kak Hamid disini.
Baca tulisan ini otakku jadi menjelajah, membayangkan anakku yang sama kecilnya dengan Veeya.
Ada Kak Hamid disini.
Baca tulisan ini otakku jadi menjelajah, membayangkan anakku yang sama kecilnya dengan Veeya.
Anak si peniru ulung