Surat untuk Perempuan yang Belum Pernah Aku Sapa dengan Suara

Musik bergenre Midwest Emo terdengar setelah jarak antara meja bar dan kakiku sekitar 5 meter. Tidak terlalu ramai memang, sebab sore ini bukan akhir pekan. Setelah seharian bergelut dengan mata kuliah yang aku pikir tak berguna itu, dan malam ini tak ada jadwal untuk berselancar di bar tempatku bekerja part time untuk menambah cerita pada portofolioku nanti, sore menjelang malam ini aku tunaikan untuk menyelesaikan senja di kedai kopi baru di pinggiran Kota Kebumen bernama Piru

Eleventwelfth dalam lagunya Your Head as My Favourite Bookstore mengiringi langkahku masuk ke area bar. “Halo mas, selamat sore! Mau minum apa sore ini mas, kopi atau non kopi?” Sapa Mas Nauval barista sekaligus owner dari Kedai Kopi Piru yang sedang berselancar di bar senja ini. 

“Kopi Filternya ada beans dari mana aja ini mas? Barangkali kopi filternya satu mas.” Jawabku sambil melihat buku-buku yang tertata rapi bersama kaset-kaset pita, kanvas dengan lukisan cantik dan bunga coklat yang menuju kering itu. 

“Ada beans dari Desa Tambi Wonosobo ini mas, proses pasca panen eksperimental Natural Anaerob mas, barangkali berkenan mencoba mas? Dibikin ice akan cocok untuk teman baca buku mas.” Ungkap Mas Nauval sambil menyodorkan package dari beans kopi berwarna biru itu dan menyuruhku untuk menghirup baunya.

“Boleh mas, dingin satu ya mas.” Sambil menyaut buku di rak berjudul Sunyi Adalah Minuman Keras berwarna biru Pak Sapardi aku duduk di kursi di depan meja bar. Membuka lembaran dan membaca singkat dan selanjutnya aku hirup pelan-pelan aroma buku yang sudah tak baru itu. Harum dan memabukan, seperti aroma kopi!

Sambil membaca tulisan di halaman awal dan mengucapkannya lirih seakan sedang berpuisi, aku meggerakkan kakiku dan mengetukan sepatuku ke lantai dan membaca kalimat di halaman awal berulang kali “Jarak boleh jadi tidak boleh diukur – Jarak boleh jadi tidak boleh diukur – Jarak boleh jadi, argh!” Kalimat pertama dalam buku ini menarik sekali, singkat cepat lalu aku menanyakan “Bukunya tak pinjam ya mas?!”

“Boleh mas, yang penting dijaga ya!” Jawab Mas Nauval yang sedang asyik menyeduh kopi bersama tumpukan es batu di bawahnya.

“Dulu beli buku ini berapa mas?” Tanyaku setiap kali akan meminjam buku untuk tahu kalau-kalau buku itu rusak dan nanti bisa mengembalikannya dalam bentuk baru atau uang saja. “Enam puluh ribu ya mas?” Sambil melihat barcode di cover belakang aku bertanya kembali.

“Jangan rusak dong! Hahaha, masa buku secantik itu dirusak, dijaga seharusnya.” Sambil memindah kopi dari server ke gelas Mas Nauval menjawab tanyaku. 

Wkwk, okey siap mas. Nanti kalau rusak, aku ganti yang baru mas.” Jawabku singkat kepada Mas Nauval sambil melanjutkan membolak-balik buku itu. “Kopinya sudah jadi mas?” Tanyaku sambil membaca lanjut tulisan di cover belakang dengan lirih “Ia tiada lain ingatan. Tiada lain ingatan, yang tidak pernah berhasil dilemparkannya keluar dari dirinya sebab manusia pada akhirnya adalah ingatan belaka.”  

“Silahkan mas, ini kopinya!” Ucap Mas Nauval sambil memberikan segelas kopi filter dengan driper origami yang akan menemani pertunaian senjaku kali ini. 

“Okey mas, terima kasih banyak mas!” Sambutku sambil beranjak berdiri dan pamit akan duduk di pelataran depan. “Aku duduk di depan ya mas! Musiknya jangan diganti ya mas, biar American Footbal aja mas.”

“Siap mas, aman mas, please enjoy!” Jawab Mas Nauval sambil melanjutkan membuat pesanan berikutnya. 

“Okey mas, terima kasih banyak mas…!” Sambil menenteng tote bag yang tergeletak di meja aku keluar mencari sudut yang tenang untuk tempat perenunganku menulis beberapa kalimat-kalimat evaluasi sembari membaca buku kecil Pak Sapardi. 

Aku duduk, menggelar beberapa barang bawaanku dan menatanya di meja: tumbler berisi air mineral, buku catatan harian dan beberapa pulpen berwarna merah dan hitam dengan ketebalan yang berbeda-beda. 

Buku “Sunyi Adalah Minuman Keras” kubaca perlahan sambil sesekali menikmati distraksi-distraksi yang ada seperti sapaan kawan lain yang datang, deru kendaraan dan distraksi lain yang ada di luar kontrol diri. Bukankah aku akan damai ketika bisa berdamai dengan distraksi? Memberi jarak, membaca dan mempelajarinya, sebelum harus benar-benar bersinggungan dengan hal-hal lain itu? Seperti distraksi ketika tiba-tiba perasaan cinta yang muncul tanpa pernah bisa dibendung atau didiskusikan dengan logika yang waras.

Perlahan aku hanyut dalam bacaan. Sesekali aku menulis kalimat-kalimat indah sabda Pak Sapardi dan merangkumnya ke dalam buku catatan harianku. Hingga aku teringat satu hal, sebuah ganjalan yang barangkali akan selesai dan damai ketika ekspresi itu bisa kuungkapkan setidaknya di dalam tulisan pendek atau panjang. 

Kuayunkan pulpen ke kertas kosong di halaman berikutnya. Buku Pak Sapardi kuletakan, beberapa kali kusesap kopi sebelum benar-benar kuayunkan pulpen dan menuliskan kalimat panjang dengan rapi.

Kedai Kopi Piru
Matahari Senja
Dan Aku Tak Ingin
Mengingat
Tanggalnya

Hey perempuan yang belum pernah kusapa dengan suara! Barangkali hal yang sama di antara kita adalah antusiasmu ketika melihat bunga-bunga di pohon kopi yang bermekaran dan menyebarkan aroma wangi layaknya melati. Mungkin kau akan mengatakan kalimat tanya ketika kuajak untuk melihatnya, “Di antara bunga robusta, arabika, liberika dan excelsa, manakah yang lebih cantik?” Jelas dengan cepat akan aku jawab “Di antara bebungaan itu yang paling cantik adalah dirimu, perempuanku!”

Hey perempuan yang belum pernah kusapa dengan suara! Aku tak pernah tahu apakah kita akan benar-benar bertemu. Atas alasan ini aku menulis kalimat panjang di surat ini, barangkali Tuhan akan menyampaikan surat ini dengan rumitnya jalan. Seperti perjalanan kopi dari hulu ke hilir, dari tangan petani hingga gelas barista dan berakhir di genggaman tangan lentikmu, perempuanku. 

Perempuan yang mencintai kopi dengan sama tingkatnya seperti mencintai buku-buku! Memang benar, kopi dan buku adalah pasangan yang setara. Mungkin aku akan menjadi kopi dan kau menjadi buku, selanjutnya aku akan mendengarkan setiap kali dirimu bercerita tentang apa saja. Namun aku tak tahu akan menjadi kopi pada bagian apa, bersyukur ketika menjadi biji kopi yang dipetik merah dan berakhir dalam genggaman tanganmu. Jika yang terjadi sebaliknya, sumpah aku tak bisa menyangkalnya cantikku! Sebab aku hanyalah biji kopi kecil yang memiliki harap besar untuk dapat berjalan menuju hilir dan berserah pada pelukanmu, perempuanku! 

Dan kautahu, beberapa kali aku membayangkan: Kita berdua berjalan ke Jakarta atau mungkin Yogyakarta, terserah pada pilihanmu. Lalu menyusuri setiap kedai kopi dan toko buku yang ada di dalamnya. Menggunakan kemeja flanel yang sama, atau sepatu docmart dan vans yang berbeda. Aku tak tahu, sebab barangkali hal itu menjadi kenyataan, aku akan menurut saja pada permintaanmu. Sebab yang kutahu sekarang, selera kita adalah sama! Musik, makanan, dan minuman, buku hingga perjalanan dan mimpi di dalamnya, aku membaca dari kejauhan dan menemukan persamaan, namun sayangnya aku hanya mampu membacanya dari kejauhan saja manisku! 

Hey! Ketika kalimat panjang pada surat ini benar-benar kaubaca pada suatu hari. Aku tak tahu apa yang aku harapkan. Sebab untuk saat ini aku benar-benar kebingungan dalam memahami hal-hal yang ada di dalam diriku sendiri, hal-hal yang ada di negara ini, semuanya dalam segala hal aku merasa kebingungan kecuali ketika membaca dirimu perempuanku dan juga membaca tentang kopi, namun bodohnya aku hanya sanggup selesai dalam bacaan saja.

Singkatnya, yang kutahu perasaan cinta yang ada di dalam diriku memang benar-benar hanya akan tenggelam. Tidak pernah akan terucapkan, terungkapkan, dan terdengar. Seperti dengungan biji kopi yang lebur ketika beradu dengan bur grinder lalu tenggelam dalam paper filter. Hilang.

Hey perempuan yang seharusnya dalam senja kita bisa duduk bersama menyelesaikan hari dengan ungkapan tanya yang saling berkaitan. Berbagi playlist musik baru atau buku-buku yang sudah terselesaikan dibaca dalam satu bulan. Seharusnya memang begitu, ketika aku memiliki keberanian lebih untuk mengajakmu berkencan dan selanjutnya berpacaran. Seharusnya begitu bukan!? Sama seperti kawan-kawanku yang dengan bangganya memamerkan kemesraan mereka di atas sosial media! Tapi di dalam kepalaku berbeda pola arus pikirannya, perempuanku. Hingga saat ini pun aku tak mampu memahami, kepalaku dan diriku sendiri.

Mungkin pada suatu hari, ketika aku sudah menempuh perjalanan jauh, menyelesaikan kerumitan-kerumitan dalam kalibrasi diri, dan menemukan ekstraksi dengan rasa yang seimbang. Antara pahit. manis dan asam kehidupan. Pada saat itu aku berjanji akan benar-benar menyapamu dengan pengakuan, dengan rasa yang aku yakin tak akan berubah. Semoga waktu dalam peta kehidupan yang sudah aku petakan tak menghadiahkan penyesalan panjang. Semoga, tidak, tidak semoga! 

Beberapa kali kawan-kawan mengatakan kepadaku bahwa seharusnya (setidaknya) aku mengungkapkan perasaan cinta ini kepadamu agar setidaknya dirimu mengetahui akan adanya harapan itu. Namun, berkali-kali juga kutolak. Sebab apa yang akan terjadi selanjutnya jika hal itu kulakukan. Apakah baik, atau buruk, bahkan baik dan buruk dalam kepalaku seringkali bias. Apalagi menyoal keagungan cinta yang bermakna besar ini cantikku!

Sungguh aku tak tahu pada kapan kita akan benar-benar bertemu. Aku mengaku aku adalah sebutir biji kopi Arabika, yang meminta kepada petani untuk dipetik merah, diproses dengan fermentasi pasca panen eksperimental, hingga kering dan menemukan Roastery yang akan menyangrai diriku dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan. Berikutnya mendarat pada metode seduh yang aku tak tahu juga dengan alat seduh apa, semoga saja pour over atau immersion pun tak mengapa. Terpenting menjadikan diriku minuman yang semoga akan dipertemukan dalam ungkap bibirmu ketika membaca doa, buku atau puisi. Semoga, iya, semoga iya dan iya semoga. 

Hingga pada akhirnya aku hanya membaca jauh dalam rabun yang tak akan pernah terucapkan. Membacanya lirih tanpa pernah mengamalkan nadzoman-nadzoman bijak dalam buku-buku romance yang kubaca. Aku mempercayai jalan yang jarang orang lain lalui. Membabat keraguan dengan hal-hal baru, layaknya pemenang yang bertaruh dengan kekalahan dengan sudut seratus delapan puluh derajat.

Dalam genggaman senja, rabun dan menghilang.
Pada suatu hari aku akan kembali dengan membawa
senja yang sama, kertas dan pulpen dengan ketebalan berbeda.

***

Kusesap lagi kopi di dalam gelas yang tinggal setengah itu. Matahari sudah benar-benar tenggelam, menyisakan semburat coretan cantik di semesta barat. Aku tutup buku catatan harianku dengan penuh bangga, sebab setidaknya aku sudah menceritakan kisahku pada kawan terdekat yang adalah pulpen dan buku. Aku tahu mereka mendengarkan hikmat, haru dan tertawa lucu.

Satu hal baik, hingga hari ini setelah beberapa bulan yang lalu perempuanku di dalam gawai berkirim pesan via chat dan mengatakan bahwa “Bukankah tak selamanya kopi berdampingan dengan rokok? Akan lebih bahagia ketika kopi berdampingan bersama buku-buku yang dibaca bukan, mendengarkannya bercerita dan menjadi pendamping yang setia?” sejak saat itu aku mencoba menghentikan kebiasaanku menyandingkan kopi bersama rokok dan buku. Hari ini benar-benar bisa kulakukan, membuang rokok dan membersamakan hanya buku dan kopi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top