Wisnu Suryaning Adji di Hadapan Secangkir Kopi

Jumat 24 April 2026 menjadi perjumpaan pertama saya dengan penulis buku “Rahasia Salinem”, Wisnu Suryaning Adji. Setelah menjemputnya di Stasiun Purwokerto, kami bertolak menuju rumah ibunya yang memang asli Purwokerto. Mas Wisnu sendiri bukanlah kelahiran Purwokerto, akan tetapi dia sedikit banyak menghabiskan waktu liburan sekolahnya sewaktu kecil di Purwokerto. Tepatnya di Jl. Kalibener. Beliau ke sini untuk menjadi mentor dalam acara Inkubasi Penulis Banyumas yang diadakan oleh BIL Fest pada Sabtu, 25 April 2026.

Dulu, hampir di setiap liburan sekolahnya, dia sering merentang ruang dan merentang waktu menghirup udara sejuk Purwokerto. Baginya, dulu Purwokerto teramat yang dingin dan saat pagi hari sering berselimut kabut. Berbeda dengan sekarang yang sudah lebih panas, seolah-olah kesana kemari membawa mentari di ujung jari. Dia berujar bahwa dulu Purwokerto sangatlah dingin, hingga minyak goreng pun turut menjadi batu alias membeku. 

Sesampainya di rumah ibunya, Mas Wisnu yang dari Jakarta merasa bombong (kalau orang Banyumas menyebutnya). Sepertinya memori masa kecilnya langsung memenuhi sekujur keningnya. Tentang dia yang meminta neneknya tetap membuka warung agar dia bisa ikutan jualan dan kenangan-kenangan lainnya. Namun kabar tragisnya, Mas Wisnu yang kepalang senang sudah sampai rumah ibu dan neneknya, tak bisa memasuki rumahnya. Apa sebab? Karena kunci rumah yang diberikan ibunya sesaat sebelum berangkat ke Purwokerto ternyata kuncinya salah. Sakno…sakno…

Pengalaman Tidak Tahu itu Perlu

Setelah menjenguk rumah ibunya Mas Wisnu walau hanya sampai pelataran rumah, kami pun lantas bertolak – untuk ngopi siang menuju sore hari berikut dengan mendoan khas Banyumasan – ke sebuah tempat makan. Awalnya kami hanya berempat: Mas Wisnu, Mas Neo, Mba Rahmi, dan saya, namun selang beberapa waktu kemudian datanglah Kiki bergandeng temannya. Kami ngobrol ngalor ngidul cum ngetan ngulon. Mulai dari Purwokerto, ekosistem literasi di Banyumas, industri buku berikut penerbitannya, penulis-penulis sastra, hingga topik psikologi sekalipun.

Di tengah obrolan-obrolan itu, sebenarnya banyak insight menarik yang bisa di-highlight. Salah satunya adalah tentang pengalaman tidak tahu. Umumnya orang memandang ketidaktahuan adalah sesuatu yang negatif, sesuatu yang minus, dan semacam noda hitam. Akan tetapi, dalam hal ini Mas Wisnu lain, baginya pengalaman tidak tahu itu terkadang perlu dan bahkan penting. Alasan beliau, supaya kita tuh jadi orang ngga yang sok tahu, jumawa, dan sombong.

Sebenarnya mungkin banyak dari kita juga sudah tahu akan hal itu. Namun banyak juga dari kita yang lalai akan hal tersebut. Ketidaktahuan selamanya tidak beraroma negatif. Ada semerbak aroma positifnya, yakni membuat diri kita tidak mudah untuk sok keminter, sombong, dan merasa diri ini yang paling benar. Nilai plus lainnya, dengan “ketidaktahuan”, membuat kita untuk terus belajar, mencari tahu, dan memperbaiki diri dari hari ke hari. Semakin kita tahu, semakin sadar bahwa kita tidak banyak tahu. Ora tahu, mendoan bae ya kena. Hehe…    

Penggunaan AI dalam Kepenulisan

Dalam obrolan di hadapan secangkir kopi, kami juga ngobrol tentang penggunaan Artificial intelligence (AI) khususnya dalam kancah kepenulisan. Saat ini AI sudah semacam juru selamat bagi siapapun. Lebih-lebih untuk kerja-kerja yang membutuhkan kecepatan yang kian berpacu dengan waktu. Tugas-tugas kuliah, umpamanya, tak sedikit yang buah hasil dari generate AI dan sejenisnya. Bahkan dosen-dosen pun ada yang melegal-formalkan penggunaan AI untuk membantu menunaikan tugas-tugas akhir sekalipun. Akan tetapi bagaimana penggunaan AI dalam kacamata menulis kreatif? Apakah tetap dinamakan menulis kreatif jika sebuah karya merupakan hasil AI? Atau kalau begitu cukup dibilang nge-prompt kreatif saja?

Di hadapan secangkir kopi, Mas Wisnu menebar pendapatnya tentang penggunaan AI baik secara umum maupun terkhusus untuk kepenulisan. Beliau mengaku tak pernah sekalipun menggunakan AI walau hanya untuk ngobrol dan bertukar pendapat dengan AI. Dia beranggapan kalau menggunakan AI justru bisa mematikan saraf-saraf dalam otak. Otak yang sebelum adanya AI dapat bekerja secara optimal, menjadi lesu dan enggan berpikir keras setelah sekali-dua kali atau berkali-kali dimanjakan oleh AI. Disadari ataupun tidak, AI justru merampas jobdesk dan tupoksi otak serta akal sehat. Alih-alih mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Keterampilan otak kita dalam menghubungkan satu hal dengan hal lain menjadi diambil oleh AI.” Tutur Mas Wisnu sembari menajamkan matanya: mendhelo. Dia juga berujar, “Sebenarnya ketika kita berfikir, menautkan suatu hal ke hal lain, dalam otak kita – secara fisik – itu muncul saraf-sarafnya. Ketika saraf-saraf tersebut ngga dipakai, ia akan memutuskan/mati dengan sendirinya. Seumpama kabel yang tidak ada arus listriknya.”

Meski demikian, Mas Wisnu juga mengungkapkan bahwa persoalan menggunakan AI ataupun tidak itu kembali ke pribadi masing-masing. Beliau bukan lantas sedang menghardik orang maupun penulis yang menggunakan AI untuk berkarya. Namun bagi Mas Wisnu sendiri sekadar bertanya, “Jika kamu menulis untuk kepuasan kamu sendiri, apa kamu puas dengan karya buatan AI?”

Penulis Tak Cukup Hanya Menulis

Masih di hadapan secangkir kopi, Mas Wisnu Suryaning Adji juga berpendapat tentang penulis yang tak bisa hanya cukup dengan menulis saja. Saat ini penulis harus pula disokong dengan keterampilan-keterampilan lainnya. Umpamanya, public speaking, personal branding, marketing, menjadi narasumber, dan menjadi mentor untuk workshop kepenulisan dll. Beliau yang sepuluh tahun menjadi penyiar radio dan sibuk bergulat dalam dunia siaran yang kemudian melihat dunia kepenulisan, ia sangat memahami akan pentingnya seorang penulis memiliki keterampilan lain, selain menulis.

Baginya, seorang penulis perlu bisa sedikit demi sedikit belajar ilmu komunikasi dengan artian public speaking. Bagaimana nantinya jika seorang penulis tak bisa public speaking sedang dia diundang dalam acara bedah bukunya sendiri. “Ngomong di depan tuh dipersiapkan dan dipelajari. Ada yang bilang ‘udah berani aja dulu’. Itu namanya bukan belajar komunikasi tapi belajar berani.” Ungkap Mas Wisnu Adji.

Beliau juga menyebut bahwa yang lebih sulit dari menyampaikan materi atau pesan adalah cara penyampaiannya. Dengan kata lain bahasa yang dipakai untuk menyampaikan. Tentu berbicara di depan mahasiswa bahasa yang dipakai akan berbeda dengan saat berbicara di depan anak-anak SMP. Berbicara dengan pejabat akan lain saat berbicara dengan yang bukan pejabat. Pun berbicara di hadapan Gen Z tentu tidak sama saat berbicara di hadapan generasi Baby Boomers. Dalam ujar ujar arab ada yang menyebutkan, kallimun naasa bi qodri ‘uqulihim.

“Jika kamu menulis untuk kepuasan kamu sendiri, apa kamu puas dengan karya buatan AI?” – Wisnu Suryaning Adji

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top