
Aku menyukai membaca cerita sejak kecil, dan seringkali merasa hidup dalam cerita-cerita yang aku baca. Ini adalah titik mula dunia kreatif yang baru belakangan aku sadari: imajinasi.
Sekarang, aku telah 30 tahun menjadi seorang penulis cerita; banyak diterbitkan, memenangi lomba, mendapat anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2023. Namun, perjalanan panjang ini sesungguhnya bermula ketika aku kanak-kanak dan menyukai membaca cerita itu. Ketika cerita-cerita yang aku baca membuat imajinasi hidup dalam kepalaku.
Hidup. Itu adalah satu kata kunci.
Ketika kita membaca cerita, sesungguhnya imajinasi kita menghidupkan cerita itu dalam kepala. Kita bisa melihat, mendengar, merasakan, dan bahkan terlibat secara emosional dan pikiran dalam dunia imajinatif itu.
Demikianlah cerita bekerja: penulis menciptakan dunia imajinatif, dan dalam dunia itu pembaca mendapatkan pengalaman imajinatif.
Ketika imajinasiku telah bisa membentuk dunia rekaan sendiri, saat itulah aku ingin bisa menuliskannya. Aku tidak pernah kuliah dan tidak pernah diajari menulis cerita, tetapi aku belajar dari bacaan-bacaanku; dan demikianlah aku menulis: aku hanya memindahkan gambar hidup imajinatif di kepalaku ke atas kertas lewat kata-kata.
Dulu, zaman kecilku, film disebut sebagai gambar hidup. Ada realitas imajinatif yang melibatkan penonton untuk mendapatkan pengalaman imajinatif. Kau tahu, film hanya menghidupkan visual dan pendengaran saja. Namun, buku cerita bisa menghidupkan semua indera. Kita bisa melihat orang menggoreng ikan, mendengar desis minyak, mencium aroma asin yang panas, merasakan panas minyak yang meletup mengenai telapak tangan, bahkan bisa merasakan kebahagiaan kanak-kanak yang menunggu ikan matang untuk bersantap.
Buku cerita adalah kata-kata hidup. Dan itulah yang aku lakukan ketika menulis: membuat kata-kata hidup yang menghidupkan dunia rekaanku.
Mula-mula aku menulis cerita pendek. Yang aku tulis adalah dunia remaja yang bisa aku bayangkan seolah-olah nyata. Cerita remaja adalah dunia yang aku pahami saat itu. Aku membayangkan diriku sebagai salah satu karakternya, dan aku membayangkan seorang gadis pujaan sebagai karakter utama, dan ceritanya selalu sama: aku cowok yang mencintainya, tetapi dia mencintai cowok lain, sampai akhirnya ada suatu sebab yang membuat dia tahu bahwa aku adalah cowok terbaik untuknya.
Aha!
Pada waktu-waktu kemudian dunia yang aku ciptakan menjadi lebih beragam, dan tidak lagi menjadikan aku sebagai karakter. Semua tokoh dalam dunia imajinatif yang aku ciptakan adalah fiktif, tidak nyata. Namun, seperti aku bilang di awal: dunia itu hidup seolah-olah nyata.
Penulis menciptakan realitas imajinatif. Pembaca larut dalam realitas imajinatif itu dan mendapatkan pengalaman imajinatif.
Sesederhana itu?
Ya.
Namun, mengapa banyak orang yang tidak bisa menulis cerita dengan menarik?
Aku tidak tahu. Namun, mungkin saja, karena mereka sibuk merekayasa kata-kata sebelum merekayasa realitas imajinatif di kepala. Kelas-kelas menulis kebanyakan mengajarkan seni kata-kata, bukan seni menghidupkan imajinasi.
Lalu, di mana belajar seni menghidupkan imajinasi?
Di buku cerita.
Seorang pembuat cerita sesungguhnya adalah orang yang hidup dalam dunia cerita; sebagai pembaca. Dan pembaca cerita adalah orang yang bersedia terlibat dalam pengalaman imajinatif yang hidup.
Aveus Har tinggal di Pekalongan. Kesehariannya adalah seorang pedagang mie ayam sembari bereksperimen di Laboratorium Ide dan Cerita (LABITA). Cerpen-cerpennya telah dimuat di berbagai media. Ia telah menerbitkan beberapa buku dan memenangi beberapa lomba nasional. Menyukai dunia psikologi, kesehatan mental, dan kopi tanpa gula. Salah satu cerpennya mendapatkan Anugerah Cerpen Terbaik Kompas 2023 dan Juara 2 Lomba Skenario Film Panjang SINEMA 2026.




