Di mana Kartini Ketika Hari Perayaannya?

Kartini sudah meninggal. Seratus dua puluh dua tahun lamanya jasad Kartini berteman dengan makhluk hidup lain di dasar tanah. Barangkali, saat ini ada satu petak kecil tanah pemakaman di Rembang yang lebih akrab dengan sosok Kartini ketimbang semua manusia yang pernah ia temui selama dua puluh lima tahun hidupnya. Boleh jadi, kedekatan mereka dengan harum raga Kartini sama halnya sebagaimana kita akrab dengan harum namanya.

Semerbak nama Kartini mulai rapat di telinga masyarakat Indonesia semenjak tahun 1964. Saat itu, tanggal lahirnya ditetapkan sebagai hari besar oleh presiden Indonesia kala itu, Soekarno. Pemilihan tanggal 21 April bukan tanpa sebab. Agaknya, tanggal lahir Kartini dipilih agar manusia sesudahnya tetap mengingat perjuangannya dalam hal pendidikan dan emansipasi wanita. Tentunya dengan harapan agar bunga semangat dari cita-cita Kartini tetap tumbuh subur dan bermekaran berkali-kali lipat.

Setelah lebih dari satu abad bumi menelan sosok Kartini, muncul pertanyaan yang tampaknya perlu untuk kita renungkan. Benarkah makhluk bumi sekarang masih mengenalinya? Iyakah perayaan tiap April itu benar-benar ditujukan untuknya? Saya rasa tidak. Perayaan hari Kartini akhir-akhir ini sudah bukan lagi berangkat dari semangat Kartini. Kita sudah terlalu jauh dengan eksistensi dan muruah sosoknya. Tidak ada “kehadiran” Kartini dalam tiap keriaannya.

Hari Kartini sekarang ini lebih banyak dihabiskan dengan agenda upacara, berkebaya, lomba peragaan busana, tak jarang juga lomba tata boga. Jika acara tersebut digelar dengan maksud meneladani sikap Kartini, kiranya itu menjadi aksi yang keliru. Yang terjadi sebenarnya justru sama sekali tidak mencerminkan apa yang selama ini ia perjuangkan. Bahkan, cenderung menyempitkan cita-cita dan makna Kartini itu sendiri. 

Kartini memang perempuan Jawa. Namun, bukan berarti merayakan harinya menjadikan kita bermain kostum sebagai perempuan Jawa tahun 1800-an yang hidup dalam lingkungan sosial feodal. Lingkungan bermasyarakat yang mewajibkan perempuan untuk khatam dengan aktivitas macak, masak, dan manak. Tidak juga untuk menjadi perempuan yang dididik untuk hidup dengan rutinitas antara dapur, sumur, dan kasur.

Bukankah itu semua yang selama ini justru menjadi keresahan Kartini? Mengapa kita memperingati hari lahirnya justru dengan melanggengkan sesuatu yang sama sekali bukan dirinya?

Hadiah untuk Kartini

Selayaknya orang berulang tahun, perayaan akan lebih semarak jika kita turut mempersembahkan bingkisan. Lantas, hadiah seperti apa yang dinanti oleh Kartini? Apakah pesta yang sering kita gelar itu menyenangkannya di alam kubur sana? Saya tidak dapat memberikan jawaban yang tepat sebab situasinya sudah begitu gamblang dituliskan pada paragraf pertama tulisan ini.

Satu-satunya cara kita mengenal Kartini saat ini adalah dengan membaca kembali pemikirannya melalui tulisan-tulisannya. Barangkali sepotong tulisan suratnya yang dikutip dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” terjemahan Armijn Pane ini dapat menjadi sedikit petunjuk bagi kita yang ingin meramaikan harinya.

“Bukan, bukan keramaian, bukan bersuka-suka hati yang saya ingini, tiada pernah yang demikian itu terkandung dalam cita-cita hati saya akan kebebasan. Saya berkehendak bebas, supaya saya boleh dapat berdiri sendiri, jangan bergantung kepada orang lain,” (hal. 39)

Sayang beribu sayang. Semua yang kita lakukan selama ini ternyata tidak sebenar-benarnya diinginkan Kartini. Kutipan di atas menunjukkan bahwa yang menyenangkan hati Kartini adalah kebebasan yang menjadikannya mandiri, bukan semata kebebasan duniawi.

Kartini tidak membutuhkan panggung. Lahir sebagai priyayi Jawa dengan kakek, ayah, dan suami seorang bupati menjadikan ia memiliki panggung megahnya sendiri. Sebuah kemewahan untuk ukuran perempuan pada zamannya. Hal yang tidak dimiliki Kartini adalah ruang. Tempat untuknya berkembang sebagaimana manusia lain, tidak terbatas pada keperempuanannya. Dengan begitu, Hari Kartini saat ini seharusnya tidak melulu dimaknai sebatas kemeriahan panggung hiburan.

Ruang belajar memaknai mimpi dan semangat Kartini, ruang diskusi untuk memperbincangkan posisi perempuan hari ini, atau sekadar ruang aman bagi suara yang selama ini tidak diperhatikan lebih menjadi urgensi. Kegiatan semacam ini menjadi lebih penting ketimbang agenda upacara yang berhenti pada seremonial belaka. Sebab, diskursus menyoal kesetaraan tidak sesederhana siapa yang paling kuat mengangkat galon atau siapa yang berhak mendapatkan gerbong kereta prioritas.

Jika Kartini hidup dengan memperjuangkan pendidikan, maka sudah seyogyanya kita menghidupi perjuangan Kartini dengan mewujudkan akses pendidikan yang lebih banyak dan merata. Memastikan bahwa tidak ada yang tertinggal dalam berkesempatan memahami dunia. Kegiatan seperti ini boleh jadi yang menjadi kegemaran Kartini.

Merayakan Kartini tidak berhenti pada urusan perempuan. Emansipasi yang digaungkan bukan hanya sebatas andil perempuan. Seandainya perempuan berdaya sementara sistem menetapkan laki-laki sebagai pusat dunia, maka segala usaha itu adalah sia-sia belaka. 

Maka dari itu, hari Kartini dapat menjadi momentum awal yang tepat bagi semua pihak tanpa memandang jenis kelamin untuk menggugat posisi dan sistem yang selama ini dianggap wajar. Tinggalkan cara pandang kuno ala 1800-an yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dan mulailah dengan membangun relasi yang tidak bertumpu pada dominasi patriarki, melainkan kesetaraan sebagaimana yang diimpikan Kartini. 

Kartini yang Tidak Pernah Kita Hadirkan

Kartini tidak akan datang pada setiap perayaan yang digelar atas namanya. Jadi, tidak usah kita merepotkan diri dengan berdandan sebagaimana orang-orang pada zamannya. Tidak perlu juga menyediakan sajian tumpeng berhias mewah nan heboh. Tidak mesti juga menyambutnya dalam rangkaian upacara yang sebenarnya tidak begitu khidmat itu. Toh, ia tidak akan memberikan sambutan.

Menghadirkan Kartini bukan berarti mewujudkan fisiknya, melainkan menghidupkan kembali keberaniannya dalam berpikir, mempertanyakan, menggugat, dan mendobrak batas-batas yang dirasa tidak memberikan manfaat berarti. Selama ini kita terlalu sibuk merayakan Kartini dengan sesuatu yang dangkal. Sesuatu yang hanya tampak di permukaan seperti penampilan, peran, maupun citra perempuan ideal yang dibentuk oleh sistem.

Padahal, keindahan perempuan tidak berhenti pada mata. Perempuan menjadi indah justru karena kecerdasan, keberanian, dan keberdayaan hidupnya sebagai manusia. Pada perayaan dan pemaknaan seperti inilah Kartini barangkali bersedia hadir. Bukan sebagai sosok yang mewujud, melainkan sebagai gagasan yang terus bergerak, tumbuh, dan bermekaran. Mewangi sebagaimana harum namanya.

Selamat hari Kartini!
Hidup perempuan yang melawan!

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top