
Sebenarnya Banyumas dan Purwokerto sama atau berbeda? Kenapa kebanyakan orang lebih sering menyebut-nyebut Purwokerto daripada Banyumas? Apakah kalian juga sama bingungnya seperti saya?
Pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh banyak orang, terutama orang yang berdomisili di luar Banyumas. Dahulu ketika saya tinggal di salah satu pesantren di Kabupaten Pemalang sering kali terdengar kata Purwokerto. Kebetulan istri pengasuh pesantren yang kerap dipanggil Ummi merupakan alumni Pondok Pesantren Roudhotul Qur’an Sirau, Kemranjen, Banyumas. Beliau kerap kali menceritakan kisahnya ketika dahulu nyantri di Sirau. Pada akhirnya banyak santri-santri yang mengenal sedikit tentang Banyumas. Tetapi pada realita di media sosial seperti pada platform Instagram dan Tiktok lebih banyak konten yang mengeksplorasi tempat-tempat di Purwokerto.
Setelah lulus SMA dan hendak melanjutkan studi S1 saya mencari informasi di media sosial mengenai Universitas yang jaraknya dekat dan mudah dijangkau, ternyata dari informasi di internet semua Universitas di Banyumas menggunakan embel-embel Purwokerto. Lantas muncul pertanyaan kenapa bukan Banyumas? Padahal dalam hal administratif yang menjadi Kabupaten adalah Banyumas.
Tiba saatnya pengumuman seleksi masuk kuliah, saya menjadi salah satu bagian dari kampus berbasis islam di Purwokerto. Mendapat tempat singgah untuk bertahan hidup selama kuliah di Kecamatan Purwokerto Utara. Hal tersebut menjadi gerbang utama saya memahami mengapa yang lebih terkenal adalah Purwokerto dan menemukan jawaban bahwasanya Purwokerto merupakan kota di dalam Kabupaten Banyumas. Keren kan? ada kota di dalam kabupaten, bahkan sampai menjadi pusat administratif dari Kabupaten Banyumas.
Ditinjau dari Segi Sejarah
Pada zaman dahulu, yang lebih masyhur adalah Banyumas. Kabupaten Banyumas berdiri di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Lahir dari dua kadipaten (sebutan kabupaten pada zaman dahulu) yaitu Kadipaten Wirasaba dan Kadipaten Pasirluhur. Pada masa itu Kadipaten Wirasaba dipimpin oleh Adipati terkenal Bernama Wirasaba Marga Utama (Kaduhu). Sedangkan Kadipaten Pasirluhur yang pada zaman itu masih di bawah naungan pemerintah Demak, adipati utusan Raden Fatah yang bertugas di wilayah Banyumas yaitu Adipati Pasirluhur (Pangeran Senapati Mangkubumi I). Seiring berjalannya waktu dan beberapa faktor politik kedua kadipaten ini bersatu menjadi Kabupaten Banyumas yang diresmikan pada tanggal 6 April 1582 pada saat kepemimpinan pemerintahan Bupati yang pertama oleh Raden Joko Kahiman (menantu Adipati Wirasaba).
Sedangkan Purwokerto sendiri merupakan salah satu bagian dari Banyumas. Wilayah Purwokerto terbagi menjadi empat kecamatan, yaitu Purwokerto Utara, Purwokerto Selatan, Purwokerto Barat, dan Purwokerto Timur. Keempat kecamatan tersebut sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas.
Kenapa Purwokerto Lebih Terkenal daripada Banyumas?
Dahulu pada saat Indonesia dijajah oleh Belanda, Banyumas mengalami krisis moneter yang berkepanjangan. Krisis ini berdampak pada ekonomi dan Kesehatan Masyarakat. Tidak hanya itu, hal ini juga menyebabkan ketidakstabilan pemerintahan di Banyumas. Seiring berjalannya waktu kemiskinan mulai melanda Masyarakat Banyumas. Berawal dari kaum laki-laki yang harus menghidupi keluarganya dengan cara mengemis dan dilanjut kaum wanita bahkan hingga anak-anak. Angka kemiskinan pada saat itu terjadi sangat parah, hingga hanya untuk makan pun mereka tidak ada uang. Mereka terus menerus kekurangan pangan hingga kekurangan gizi dan mengakibatkan banyak korban jiwa.
Pada tahun 1935-1937 di bawah kepemimpinan KPAA Gandasoebrata (Kanjeng Pangeran Ario Gandasubrata) mulai situasi kian membaik. Terjadi perubahan dengan dibangunnya sarana transportasi berupa kereta api di Purwokerto. Jalur transportasi kereta ini melintasi sepanjang Lembah Sungai Serayu hingga membawa perkembangan yang pesat. Pada zaman ini bupati Banyumas memiliki proyek utama yaitu memindahkan pusat pemerintahan yang sebelumnya berada di kota lama Banyumas dipindah ke Purwokerto. Pusat pemerintahan yang baru di Purwokerto diresmikan pada tanggal 7 Januari 1937.
Namun dengan adanya perpindahan pusat kekuasaan tersebut yang menjadi faktor utama meredupnya nama Banyumas. Ditinjau dari letak geografis Banyumas yang terletak di jalur lembah pegunungan juga jadi bertambah sepi. Akses jalan pun agak susah untuk dilewati dan ditambah terjadinya peristiwa banjir pada tahun 1861 yang meluap di daerah Banyumas hingga masuk ke kota dengan ketinggian sekitar 3,5 M.
Adanya insfratuktur-insfratuktur baru yang di bangun di Kota Purwokerto dan akses jalan yang mudah menjadi pertimbangan pemerintah Banyumas untuk menetapkan kantor pemerintahan di Kota Purwokerto. Perpindahan ini dimulai dengan perpindahan Pendopo Si Panji dari banyumas ke Purwokerto.
Dengan letak yang strategis, akhirnya Purwokerto menjadi pusat administratif, tetapi tidak menjadi pemerintahan yang otonom. Karena sampai saat ini Banyumas masih diakui menjadi Kabupaten dan Purwokerto merupakan kota di dalam Kabupaten Banyumas. Dengan dukungan letak yang strategis, Purwokerto menjadi salah satu pilihan utama bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studinya.
Melesatnya informasi pada media sosial di zaman sekarang juga menjadi salah satu faktor terkenalnya Purwokerto. Selain untuk melanjutkan studi, dominasi mahasiswa perantauan yang tinggal di Purwokerto yang rata-rata adalah gen z. Sebagian dari mereka memilih Purwokerto karena banyak tempat-tempat hits yang bisa dikunjungi. Mulai dari Rita Supermall, Bioskop Rajawali, CGV, Stasiun Kereta Api, Menara Teratai, tempat barang-barang lucu, toko ala-ala korea, dan destinasi wisata hits lainnya.
Bukan hanya tempat hits, berbagai instansi dan komunitas di Purwokerto juga sering mengadakan event-event menarik yang jarang diselenggarakan di kabupaten lain. Seperti bazar buku OOTB, BIL-FEST, konser musik, bedah buku best seller, workshop, bazar kuliner dan event menarik lainnya.
Salma Dilla Ramadani berasal dari Pulosari, Pemalang, Jawa Tengah. Ia mahasiswa akhir yang gemar menikmati kopi dan sedang menyelami dunia kepenulisan. Bisa disapa melalui Instagram @Salmadilla_




