Di Luar Pusat: Seni Rupa Banyumas sebagai Praktik Bertahan

Berkarya di Banyumas sering berarti bekerja tanpa banyak sandaran dari ekosistem seni rupa yang mapan. Dalam beberapa diskusi hal seperti ini mungkin disebut sebagai “tantangan”. Tapi dalam praktik sehari-hari, ini lebih terasa seperti kondisi yang berjalan dengan keterbatasanya. Ya… memang begitu adanya.

Dalam situasi seperti itu, praktik seni rupa tidak berkembang dalam ekosistem yang benar-benar stabil. Tidak ada orbit kuratorial yang jelas, tidak ada diskursus yang terus berjalan, dan pasar tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang bisa diandalkan. Berkarya akhirnya berjalan dalam kondisi yang serba terbatas. Kadang tanpa validasi, terkadang tanpa kepastian siapa yang akan melihat, atau bahkan apakah karya itu akan bisa ke mana-mana.

Saya sendiri tidak tumbuh dalam lingkungan seni yang terinstitusionalisasi. Relasi dengan seni lebih banyak terbentuk dari ruang-ruang yang tidak formal: obrolan di warung kopi, pertemuan yang tidak direncanakan, atau sekadar melihat dan mencoba memahami dari jarak yang tidak begitu dekat. Dari situ, pertanyaan tentang bagaimana seni rupa bekerja di Banyumas mulai terasa penting, meskipun jawabannya tidak pernah benar-benar tunggal.

Saya rasa, kota seperti Yogyakarta atau Bandung sering ditempatkan sebagai pusat produksi dan legitimasi seni rupa. Standar estetik, cara membaca karya, sampai mekanisme pengakuan, banyak datang dari sana. Semuanya terlihat rapi, bahkan meyakinkan. Sementara itu, Banyumas lebih sering berada di posisi lain. Posisi yang sering disebut “pinggiran”, atau dalam istilah lokal “adoh ratu cedak watu” jauh dari pusat kuasa, dekat dengan realitas yang keras. Relasi ini bukan hanya soal jarak, tapi juga soal cara melihat dan menentukan nilai, seperti yang dibahas dalam Postcolonial Theory.

Tapi posisi seperti itu tidak otomatis membuat praktik seni jadi pasif. Dari perbincangan dengan Setyo salah seorang perupa Banyumas yang berkarya dan menetap di Banyumas, terlihat bahwa berkarya di Banyumas justru menuntut energi lebih. Ia menyebutnya sebagai “energi ekstra”. Kedengarannya memang seperti jargon, tapi kalau dilihat lebih dekat, itu lebih seperti kesadaran bahwa tidak ada pilihan lain selain terus berjalan.

Berkarya akhirnya sering dimaknai bergerak seperti gerilya. Tidak selalu terencana rapi. Kadang mengandalkan jaringan yang dibangun perlahan, kadang sekadar mencoba masuk ke ruang yang memungkinkan. Dalam kondisi seperti ini, praktik seni tidak hanya soal estetik, tapi juga soal bagaimana bertahan.

Soal legitimasi juga muncul di sini. Dalam obrolan kita, Setyo melihat ada perbedaan akses antara perupa dengan latar akademik dan yang otodidak. Jalur formal memang membuka pintu lebih cepat ke jaringan yang lebih luas. Sementara yang otodidak harus mengandalkan pengalaman, konsistensi, dan daya tahan. Dan ya, memang kadang juga keberuntungan punya andil penting, walau sering dibicarakan, tapi jarang bisa dijelaskan.

Di sisi lain, saya melihat batas antara akademik dan otodidak sekarang tidak lagi setegas dulu. Akses terhadap referensi, visual, bahkan jaringan, semakin terbuka lewat medium digital. Ini tidak serta-merta menyelesaikan masalah, tapi cukup menggeser cara kerja legitimasi. Dalam banyak kasus, posisi seorang perupa lebih ditentukan oleh bagaimana ia membangun praktiknya sendiri secara estetik, konsistensi, maupun relasi, walaupun jalurnya tidak selalu bisa ditebak.

Ada juga upaya dari perupa yang sudah lebih dulu berada di pusat untuk membuka ruang bagi yang di daerah. Salah satunya bisa dilihat dari inisiatif Ugo Untoro yang memberi ruang bagi pelukis yang konsisten mengerjakan lanskap Mooi Indie Sokaraja dalam ArtJog 2026. Upaya seperti ini menunjukkan bahwa akses itu ada, meskipun tidak selalu berujung sama bagi semua orang.

Lalu ada pertanyaan yang sering muncul, tapi jarang dibahas serius soal kolektor. Di Banyumas, kolektor memang tidak benar-benar tidak ada, tapi juga belum terbentuk sebagai sistem yang stabil. Relasi antara perupa dan pembeli lebih sering terjadi karena kedekatan, bukan karena mekanisme pasar yang jelas. Banyak perupa tidak punya kolektor tetap. Karya bisa terjual, tapi tidak selalu berlanjut menjadi hubungan jangka panjang. Ini membuat persoalan bukan hanya pada produksi karya, tapi juga distribusi dan bagaimana karya itu bisa beredar. Sesuatu yang sering disadari, tapi mungkin tidak mudah diubah.

Di daerah yang kata beberapa influencer disebut kota slow living ini, ada persoalan lain juga muncul. Ruang dialog antarperupa terasa terbatas walaupun beberapa event seni rupa sudah sering dilakukan. Pertukaran gagasan tidak selalu terjadi secara terbuka. Ekosistem yang seharusnya bisa menjadi ruang kolektif kadang justru berjalan sendiri-sendiri. Relasi antargenerasi tidak selalu terhubung dengan baik. Perupa muda, menengah, dan senior sering berjalan di jalurnya masing-masing. Akibatnya, muncul kecenderungan semacam “kelompok-kelompok kecil” dengan cara pandang yang tidak selalu saling bertemu. Dalam kondisi seperti ini, praktik berkarya menjadi semakin personal. Banyak yang berangkat dari pengalaman langsung, dari hal-hal yang dekat. Dalam beberapa kasus, prosesnya juga bersinggungan dengan pengalaman batin yang sulit dijelaskan secara rasional, tapi tetap menjadi bagian dari cara kerja penciptaan.

Di satu sisi, ini sebenarnya membuka ruang kebebasan. Tidak banyak tekanan dari institusi. Tapi di sisi lain, kebebasan itu datang bersama keterbatasan yaitu akses yang sempit, kritik yang minim, dan dukungan yang tidak selalu ada. Posisi ini jadi agak aneh. Di satu sisi bebas, di
sisi lain terbatas.

Oleh karena itu melihat Banyumas hanya sebagai “pinggiran” terlalu sederhana. Atau dalam istilah yang lebih dekat “adoh ratu cedak watu” bukan hanya soal jarak, tapi soal cara bertahan. Praktik seni di sini tidak selalu mengikuti pola yang sudah mapan, tapi membentuk jalannya sendiri, meskipun pelan dan tidak selalu terlihat. Pada akhirnya, persoalannya mungkin bukan soal seberapa jauh Banyumas dari pusat. Tapi soal siapa yang selama ini lebih banyak berbicara, dan siapa yang sebenarnya jarang didengarkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top