
Longak – Longok ARS LONGA
Pada malam pembukaan ARTJOG 2026: ARS LONGA, sebuah aksi performans muncul di tengah acara. Cat merah disiramkan ke logo ARTJOG, sementara sebuah kertas bertuliskan “ART” dibentangkan.

Pada malam pembukaan ARTJOG 2026: ARS LONGA, sebuah aksi performans muncul di tengah acara. Cat merah disiramkan ke logo ARTJOG, sementara sebuah kertas bertuliskan “ART” dibentangkan.

Berkarya di Banyumas sering berarti bekerja tanpa banyak sandaran dari ekosistem seni rupa yang mapan. Dalam beberapa diskusi hal seperti ini mungkin disebut sebagai “tantangan”. Tapi dalam praktik sehari-hari, ini lebih terasa seperti kondisi yang berjalan dengan keterbatasanya. Ya… memang begitu adanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak daerah aktif menyelenggarakan event budaya berskala besar. Di saat yang sama, konser musik dari band atau musisi besar juga rutin menghadirkan ribuan penonton, bahkan dari luar kota. Keduanya sama sama menciptakan keramaian dan menggerakkan aktivitas ekonomi dalam waktu singkat.

Di banyak komunitas seniman (perupa) lokal, obrolan sehari-hari sering bermuara pada teknik membuat karya, pemilihan warna, komposisi, serta strategi agar karya bisa terjual dengan harga spektakuler. Mereka berbicara tentang nilai rupiah dengan intensitas yang sama seperti mereka membicarakan sapuan kuas atau konsep visual.

Tulisan ini lahir dari kebiasaan melihat, bukan dari niat menyimpulkan. Dari duduk di pinggir acara, dari mendengar percakapan yang terpotong, dari nama-nama yang berulang di poster dan panggung.