Seperti Utang, Nikmat Harus Dibayar Tuntas

Beberapa waktu yang lalu, saya melakoni perhelatan jalan-jalan ke sebuah tempat wisata alam. Disuguhkannya lanskap panorama yang indah. Daun-daun yang hijau segar tersepuh angin, pohon-pohon yang rindang berhiaskan burung-burung berkicau, dan kupu-kupu berhamburan bagaikan serpihan kertas yang lahir dari rahim petasan sesaat setelah ledakan berkumandang.

Saat itu tak ada sekalipun yang ganjil dan janggal. Namun selang beberapa waktu yang terus berlalu – bagaikan tukang parkir yang mendadak di depan mata saat kita sudah di atas jok motor untuk beranjak dari sebuah toko – tiba-tiba Tuhan memberikan sebuah pelajaran yang tak terduga. Pelajaran yang diberikan oleh-Nya secara langsung di depan mata telanjang. Sepotong pelajaran tentang sebuah kenikmatan.

Tak seperti sebuah buku, pelajaran dari Tuhan bisa sekali tanpa sebuah kata pengantar. Langsung dipaparkan isi atau kontennya. Tak serunut segepok buku pelajaran, buku fiksi, maupun buku non-fiksi. Tak menampilkan sekapur sirih, pendahuluan, dan daftar isi, dll. Karena kuasa Tuhan di atas segalanya. Segala hal yang tampak bagi kita, mustahil sekalipun, bagi-Nya tak ada apa-apanya. Semua bisa terjadi dengan hanya Kun Fayakun.

Secara tiba-tiba, saya ditampar oleh kejadian: seorang disabilitas yang mendaki gunung hanya dengan satu kaki (sebelah kiri saja). Dengan satu tongkat di tangannya. Dia cuma bersama seorang temannya yang sesekali membantu dia berjalan. Saya yang duduk di tepian jalur pendakian terkagetkan dan selebihnya tercengangkan. Sedang dia dengan santainya, berjalan pakai tongkat, kadang juga sesekali engklek, dan tak menampilkan wajah capek, gelisah, kecewa, maupun susah.

Dari kejadian tersebut, lantas saya – bagaikan ayam yang digeprek – berpikir atas pelajaran yang baru saja disampaikan oleh Tuhan melalui seorang penyandang disabilitas yang mendaki gunung dengan penuh semangat dan gairah. Melihatnya seperti tak ada sekalipun rasa keputusasaan dalam hidup. Penuh dengan semangat dan harapan dalam hidup. Bahwa keterbatasan bukanlah sebuah alasan untuk menggapai sebuah tujuan.

Refleksi saya pribadi atas kejadian itu adalah sudah seharusnya saya tidak mudah mengeluh, harus lebih optimis lagi, full semangat, dan penuh harapan dalam menjalani kehidupan. Tuhan telah memberikan saya begitu banyak kenikmatan. Dikaruniani tangan yang normal, kaki yang utuh, bola mata yang sehat, telinga yang berlubang, hidung yang wajar, dan masih banyak lagi kenikmatan yang digelontorkan oleh-Nya. Rasanya tidak pantas, saya lantas mengeluh hanya karena kesandung batu sewaktu berjalan atau mengumpat saat doi balas chat-nya lama.

Sungguh sudahlah berjibun kenikmatan yang kita dapatkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesederhana bangun pagi dengan kondisi tubuh yang sehat wal afiat. Sudah seyogyanya kita memaksimalkan kenikmatan-kenikmatan yang diberikan oleh-Nya dengan semaksimal mungkin.

Seperti utang, nikmat harus dibayar tuntas. Saya menganalogikan nikmat dari Tuhan sebagaimana hutang yang perlu kita bayarkan, kita tuntaskan. Semisal Tuhan memberikan kita, nikmat (ngutangi) kedua mata yang sehat, maka kita harus menggunakan kenikmatan tersebut dengan semaksimal mungkin untuk keperluan yang positif, dalam hal ini bisa berupa mata kita digunakan untuk membaca, melihat sesuatu yang halal untuk dilihat, dan mengonsumsi konten-konten media sosial yang bermakna dan kegiatan positif lainnya. Ini hanyalah contoh kecil saja. Mereka yang bersyukur adalah mereka yang tahu akan nikmat dari-Nya.

Termasuk juga nikmat kaki. Maka kita perlu membayar nikmat kaki tersebut dengan cara memberdayakan kaki sebaik mungkin. Menunaikan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Tidak bermalas-malasan dengan hp di tangan, badan tergeletak di kasur, beranjak dari bantal hanya untuk makan serta mandi, itu merupakan kegiatan-kegiatan yang kurang menyukuri kenikmatan dari-Nya. Jika seperti itu adanya, maka kenikmatan belum dibayarkan dengan sebisa mungkin dan semaksimal mungkin.

Termasuk pula nikmat hati. Maka kita seyogyanya tak mudah untuk memberikan kesempatan kepada hati untuk patah, apalagi hanya karena perempuan. Nikmat hati bisa dibayarkan dengan cara senantiasa mengingat Tuhan dan memenuhi hati dengan berjibun harapan. Tak rentan untuk mengeluh, pesimis, dan putus asa dalam menjalani kehidupan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top