Kyai Ahmad Muta’alim Merawat Islam dari Akar: Menjadi NU Jalur Pelosok

Di kalangan berbagai desa, keberagamaan lahir dari kebiasaan yang dirawat oleh masyarakat. Demikian pula di lingkungan tempat lahir saya Dusun Slimpet, Desa Tlaga, Kecamatan Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Di Dusun Slimpet, salat Subuh memakai qunut, wiridan setelah salat, dan tradisi ziarah kubur sudah menjadi kebiasaan yang melekat pada masyarakat. Praktik ini sudah berjalan dari puluhan tahun hingga saat ini masih ada yang terus nguri-uri (merawat). Kebiasaan yang sederhana, namun mudah diterima sebagai upaya melestarikan dan menjaga keberagamaan.

Kehadiran beliau, Bapak Kyai Ahmad Muta’alim, pada tahun 2013-2015 memberi semangat, dan warna baru, yang dulunya belum ada kegiatan mengajari ilmu agama seperti budaya di pondok pesantren. Kini Beliau mampu mendorong kebiasaan tersebut menjadi lebih ramah lingkungan, menjadikan anak dikalangan umur enam tahun semangat menimba ilmu agama kepada beliau. Bahkan hingga orang tuanya ikut mengaji setiap ba’da maghrib sembari menunggu azan Isya dikumandangkan. Layaknya seorang tokoh agamawan yang sudah paham betul tentang kondisi di dusun. Beliau menggunakan pendekatan yang paling ramah, mempunyai jiwa rendah hati, penyabar, dan semangat yang tinggi. Kehadiran beliau bukan untuk menghilangkan budaya yang kuno, melainkan memperkuat budaya lama agar tetap hidup, bahkan berkembang menjadi motif yang lengkap. 

Dari dusun yang sederhana inilah menjadi NU jalur pelosok mulai akrab. Keberagamaan perlu diuri-uri melalui kebiasaan. Kehadiran beliau yang mempunyai bekal cukup untuk berdakwah. Pendekatan yang sederhana, dari akar itulah mampu menunjukan bahwa tradisi tidak selamanya memunculkan konflik, akan tetapi mampu memperkuat dan bisa melestarikan kehidupan beragama yang tumbuh di dusun pelosok ini.

Di masa sekarang, banyak oknum membawa label Nahdlatul Ulama di panggung rigging, yang sering tampil di khalayak umum hingga blunder saat menyampaikan pesan dakwahnya. Padahal menjadi NU tidak harus tampil di ruang publik. Bagi masyarakat pelosok Dusun Slimpet, keberagamaan tumbuh dari hasil merawat kebiasaan yang sudah lama berjalan. Kebiasaan itulah menjadi benteng sosial, menumbuhkan rasa kekeluargaan, membawa keberkahan di dusun, sekaligus melahirkan masyarakat yang rendah hati dan membumi.

Kehadiran Bapak Kyai Ahmad Muta’alim di dusun kami tentu bisa memperkuat cara ber-NU dengan keteladanan beliau. Beliau tidak hadir dengan semangat mengubahnya secara instan, tapi dari jalur ke istikamahannya, mempraktikan ilmu, serta menularkan kepada santri. Di dusun inilah membuahkan hasil yang tidak terduga. Cara berdakwah yang menggunakan suara lumayan keras, dengan sesekali pesan kebaikan dibawakan lewat candaan ringan.  Ikhtiar, dan doa beliau, kini tidak ada kemubaziran. Suara yang lumayan keras justru membuat orang-orang terdengar dari apa yang beliau sampaikan, juga mampu menyadarkan hati.

Pesan yang disampaikan lewat candaan ringan juga menumbuhkan semangat masyarakat, hingga berbondong-bondong datang ke masjid untuk menghadiri ceramah Beliau. Bahkan saya pernah mendengar pesan dari seorang penceramah, yaitu Ibu Nyai Hj Mar’atus Sholihah waktu pengajian di Dusun Slimpet, beliau ngendika bahwasannya Bapak Kyai Ahmad Muta’alim memiliki ratusan hingga ribuan santri yang tersebar di desa-desa terpencil yang ada di Kabupaten Banjarnegara. Capaian tersebut bukan lahir dari ketenaran atau panggung besar, tetapi karena pengabdian beliau untuk menyambangi wilayah pelosok yang membutuhkan penguatan fondasi ajaran Islam.

Cara berdakwah beliau memiliki ciri khas tersendiri dibandingkan mayoritas tokoh agama yang hadir sekadar mengisi pengajian sesaat. Kyai Ahmad Muta’alim memilih tinggal dan bersosial kepada masyarakat. Dakwahnya diawali  dari penguatan aspek dasar seperti fiqih, tajwid, akidah, dan akhlak. Beliau membangun fondasi terlebih dahulu, sebelum menginjak persoalan yang lebih luas. Pendekatan ini menjadikan masyarakat merasa dibimbing, ditemani dalam proses belajar, bukan hanya dinasihati.

Hal yang paling mengesankan adalah  keistikamahannya dalam mengelola waktu. Dalam satu desa, beliau bisa menetap paling singkat selama tiga tahun. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk membina para santri sampai benar-benar matang, dan mampu melanjutkan aktivitas keagamaan secara mandiri. Setelah merasa cukup, beliau melanjutkan dakwah ke daerah pelosok lain, memulai dari nol dengan kegigihan yang luar biasa, guna menyerahkan tanggung jawab dakwah kepada generasi penerus.

Dari pola itulah melahirkan banyak santri yang tersebar di berbagai pelosok daerah. Dakwah tidak terpusat pada satu figur semata, melainkan harus berkembang upaya menjadikan hubungan keberagamaan yang bisa terus beradaptasi. Inilah gambaran NU jalur pelosok dari perspektif saya sebagai mahasiswa di jurusan Manajemen Dakwah yang masih fakir ilmu, melihatnya sebagai gerakan dakwah yang sunyi, tapi memiliki pengaruh yang besar.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan yang diuri-uri semakin mengakar. Aktivitas keseharian seperti mengaji di TPQ, menjadi pintu awal pembentukan akhlak pada anak di bawah usia 10 tahun. Kajian kitab Alala, Hidayatussibyan, dan Akidatul Awam. Menjadi upaya untuk menanamkan akhlak, adab, mengenalkan hukum bacaan Al-Qur’an, serta tauhid sejak dini. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas keagamaan, tetapi langkah yang sesuai dengan lingkungan masyarakat. Bahwa ajaran agama Islam sangat ramah untuk diterima oleh masyarakat awam, tanpa paksaan, dan tanpa konflik.

Selain itu, kegiatan rutin yang dilestarikan sampai sekarang yaitu salawat Al-Barzanji dilaksanakan setiap malam Minggu menjadi ruang pertemuan antarsantri TPQ. Acara tersebut dijalankan agar setiap santri bisa memanfaatkan waktu dengan baik di sela sela kekosongan. Jauh dari kata formal, tapi tradisi ini membangkitkan semangat para santri yang setiap harinya mengaji. Ketika pada waktu puncaknya, dilaksanakan kegiatan haflah. Acara ini diselenggarakan satu tahun sekali, sumber dana dari kolektif-an antar warga masyarakat, merangkai panggung kecil-kecilan ala kadarnya. Ini  bukan sekadar formalitas, tapi mengindikasikan bahwa setiap santri berhak menampilkan hasil mengajinya  di TPQ selama satu tahun dengan diperlihatkan kepada masyarakat ataupun orang tua. Dan diakhiri dengan pengajian umum sarana menebarkan pesan-pesan kebaikan, untuk terus mendorong anaknya agar tetap semangat mengaji di usia dini, sebagai bekal dalam menghadapi tantangan zaman yang  dinamis.

Menjadi NU jalur pelosok bukan cuma urusan panggung, trend, dan simbol semata. Akan tetapi kegigihan dalam merawat tradisi lama dan mendidik umat dari akar. Di dusun kecil seperti Slimpet, keberagamaan tumbuh dari kebiasaan  yang terus dirawat, didorong oleh dakwah yang sabar, rendah hati, sejalan dengan keteladanan yang dipraktikkan oleh Kyai Ahmad Muta’alim.

Dari proses yang berjalan dalam kesunyian diiringi keistikamahan itulah melahirkan generasi penerus yang mampu mengelola dan mengembangkan kehidupan beragama tanpa ketergantungan. NU jalur pelosok, dalam perspektif saya, adalah Gerakan dakwah yang tidak selalu terlihat di kalangan popularitas, tetapi berdampak nyata, serta mampu mengokohkan tradisi, mempererat tali perseduluran, sekaligus menanamkan nilai-nilai Islam yang santun, dan berkelanjutan di tengah kehidupan masyarakat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top