
Awal Februari sangat berkesan buatku karena suatu pengalaman baru yang sama sekali tidak terpikir sebelumnya akan terjadi di hidup yang semakin seru. Singkat saja, menjadi moderator acara teman Tuli. Aku yang merupakan orang Dengar dan tidak tahu sama sekali tentang dunia Tuli harus membuat konsep acara peluncuran buku tentang dunia Tuli. Terlihat seperti tantangan, kan? Namun seperti kebanyakan tantangan yang menjadi peluang untuk belajar hal baru, tantangan kali ini pastinya memberikan ilmu baru untukku, maka dari itu: tantangan aku terima!
Tulisan ini menjadi bagian apresiasi sekaligus perayaan atas rilisnya “Catatan Belle: Dunia Tuli dan Aku” karya Aulia Nabila Fal, teman Tuli pertamaku, yang lebih akrab aku sebut Mba Bel. Lewat proses menyusun acara peluncuran buku ini aku belajar banyak hal baru dan menemukan perenungan baru yang rasanya sayang jika tidak aku bagikan.
Persiapan Acara: Tiga Pertemuan Berdurasi Minimal Dua Jam
Aku baru satu kali bertemu Mba Bel di suatu acara bedah buku dan hanya berinteraksi beberapa menit setelah acara selesai. Waktu itu rasanya langsung akrab walaupun hanya basa-basi sepintas, kami sempat foto bersama dan kebetulan saat itu kami sama-sama mengenakan pakaian bernuansa hitam, lalu sebelum berpisah aku sempat menyampaikan kepadanya kalau aku akan membaca bukunya. Pertemuan itu memang meninggalkan kesan namun belum membuatku mengenal Mba Bel secara mendalam. Maka di akhir Januari lalu kami membuat janji temu setelah hilal peluncuran “Catatan Belle: Dunia Tuli dan Aku” sudah semakin jelas.
Awalnya, pertemuan pertama kami sempat hampir dijadwalkan ulang karena seorang kerabat Mba Bel meninggal dunia, namun akhirnya di hari yang sudah ditentukan tersebut kami bertemu. Tidak seperti pertemuan pertama yang akan canggung karena momen pertama bersua, menjelang pertemuan tersebut kecanggunganku muncul karena belum terbayang akan seperti apa komunikasiku dengan teman Tuli pertamaku, sehingga aku memikirkan kemungkinan akan tegang dan berlangsung singkat pertemuanku dengan Mba Bel. Namun yang terjadi justru sebaliknya, aku dan Mba Bel menghabiskan waktu berjam-jam di pertemuan perdana kami, bertemu sejak siang, menghabiskan sore, dan pulang menjelang waktu isya.
Obrolan kami dimulai dengan menyampaikan kabar bahwa buku beliau akan diluncurkan, dan aku sebagai konseptornya menyampaikan ketidaktahuanku tentang dunia Tuli, sehingga seperti ada PR besar yang harus aku kerjakan dengan pemantik jawabannya adalah Mba Bel. Awalnya masih terasa kaku, lalu segala kekakuan itu mencair setelah aku berterus terang tentang sederet rasa penasaranku tentang dunia Tuli dan memohon izin jika dalam pertemuan tersebut aku secara acak mengeluarkan berbagai pertanyaan, untuk hal ini juga aku sudah memohon maaf di awal karena ada rasa sungkan atau khawatir seandainya akan ada pertanyaanku yang cenderung sensitif. Menyenangkannya, respon Mba Bel hari itu lebih seperti keterbukaan ajakan berteman dibandingkan sesi wawancara untuk kepentingan menyusun konsep acara peluncuran buku. Kemudian segala pertanyaan aku ajukan, mulai dari hal serius tentang isu Tuli di Indonesia sampai pertanyaan random seperti bagaimana interaksi teman Tuli ketika kencan atau pacaran (untuk pertanyaan terakhir ini sudah aku pikirkan matang-matang beberapa waktu sebelum bertemu karena rasanya tabu menanyakan perihal asmara di pertemuan pertama, namun aku memutuskan bertanya setelah yakin bahwa yang aku tanyakan bukan dalam ranah personal, melainkan dalam konteks budaya).
Pertemuan pertama tersebut seperti perkenalanku dengan dunia Tuli yang aku anggap sebagai sedikit dasar pengetahuan untukku menyusun konsep acara peluncuran buku. Hal yang paling berkesan dari pertemuan ini adalah titik temu pemakluman yang ada di antara kami. Mba Bel menyampaikan bahwa mungkin aku adalah salah satu dari banyaknya orang Dengar yang peduli dan ingin berteman dengan teman Tuli, namun kepedulian itu juga yang membuat orang Dengar sepertiku memiliki kekhawatiran jika menyinggung teman Tuli, yang justru berdampak pada keberjarakan antara teman Dengar dengan teman Tuli. Pemakluman itu juga yang membuat Mba Bel seperti memberiku tiket unlimited untuk mengajukan pertanyaan. “Aku paham kalau kamu ingin tahu. Jadi tanya aja, ya. Nggak perlu sungkan.”
Dengan tiket unlimited untuk bertanya itu, di pertemuan kedua kami yang lebih pendek durasinya dibandingkan pertemuan pertama, aku lebih berani dan leluasa mengajukan pertanyaan yang bermuara ke berbagai topik diskusi. Waktu yang kurang lebih dua sampai tiga jam tersebut padat dengan pembahasan isu Tuli di Indonesia dan berujung dengan agenda mendadak photo box sebagai perayaan ulang tahun Mba Bel pada Januari lalu. Tentunya di pertemuan kedua ini aku sudah menyampaikan secara matang konsep acara peluncuran buku pertama Mba Bel. Tidak lupa aku sampaikan rasa terima kasih yang secara tak langsung juga mewakili teman-teman tim internal peluncuran buku, bahwa segala diskusi dan keterbukaan Mba Bel sangat membantu dalam proses penyusunan acara peluncuran buku kali ini, karena kami belum menemukan success story peluncuran buku tentang Tuli dengan audiens dan pembicara Tuli, sehingga sebelumnya tidak ada referensi dalam mengonsep peluncuran buku ini.
Beda cerita dengan pertemuan ketiga yang sudah tak lagi berdua. Aku dipertemukan dengan Mba Laeli, salah satu Juru Bahasa Isyarat (JBI) peluncuran buku Mba Bel, dan Mba Icha, ketua Batir Isyarat Banjoemas (BIB). Di pertemuan ini aku beradaptasi dengan pola komunikasi dengan adanya JBI. Aku yang terbiasa melihat lawan bicara dalam obrolan justru melihat ke arah JBI meskipun obrolanku sebetulnya dengan Mba Bel dan Mba Icha, dan ketika aku bicara beberapa kali tidak langsung melanjutkan kalimatku karena menunggu Mba Laeli selesai dengan gerakan isyaratnya. Agenda pembahasan mengenai persiapan peluncuran buku hari itu dilanjut dengan pancingan Mba Bel yang tiba-tiba tertuju ke arahku. “Ki, tanya-tanya ke Icha atau Laeli.” Jujur, kaget. Tapi aku lebih kaget dengan segala pertanyaanku setelahnya yang lancar keluar tanpa permisi. Untungnya Mba Icha dan Mba Laeli juga memberikan tiket unlimited untukku bertanya. Obrolan yang dimulai siang hari ini selesai sore harinya berkat dukungan hujan besar yang menahan kami untuk pergi dari tempat pertemuan.
Satu topik yang paling berkesan di pertemuan ketiga ini adalah pembahasan tentang minimnya akses teman Tuli yang beragama Islam untuk belajar membaca Al-Qur’an. Aku yang baru mengetahui hal ini langsung terdiam. Isi kepalaku seperti otomatis mengingat polaku (dan mungkin mayoritas orang Dengar lainnya) belajar membaca Al-Qur’an yang terfasilitasi dengan adanya metode serta buku Iqro dan Tartil sewaktu kanak-kanak dulu. Aku mendengar pelafalan huruf-huruf Hijaiyah dari orang tua maupun guru lalu setelahnya melafalkan dan disimak hingga akhirnya dapat membaca Al-Qur’an. Dari para guru dan sumber pula aku memahami seberapa penting dan banyaknya manfaat membaca Al-Qur’an dalam kehidupan. Lalu bagaimana dengan teman Tuli?
“Jadi, ada teman-teman Tuli yang buta baca Al-Qur’an.” Aku dibuat terdiam lagi. Seketika dibuat sadar bahwa ada kemewahan untuk membaca Al-Qur’an, ada rasa malu karena sering lupa mensyukuri hal tersebut, juga tertampar karena belum memaksimalkan hal yang ternyata adalah nikmat. Sekali lagi, ternyata dapat membaca Al-Qur’an adalah nikmat, dan aku baru menyadari setelah pertemuan dengan teman-teman Tuli ini.
“Kayaknya setelah ini aku mau lebih rajin ngaji, deh.” Kalimat itu meluncur dariku setelah terdiam sementara waktu yang ditanggapi senyum dan anggukan dari Mba Bel, Mba Icha, dan Mba Laeli.
Lewat tulisan ini juga aku harap siapapun yang membacanya digerakkan hatinya untuk mensyukuri nikmat dapat membaca Al-Qur’an. Sebagai pengingat untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan mempelajari dan memperbaiki bacaan Al-Qur’an selama memiliki akses dan fasilitas. Karena masih ada teman-teman Tuli yang perjuangannya lebih panjang dan berat untuk dapat membaca Al-Qur’an sebab mereka belum memiliki akses dan fasilitas tersebut.
Membaca CBDTDA: Berpikir itu Fiksi Karena Terlalu Kaget dengan Realita
Aku membaca “Catatan Belle: Dunia Tuli dan Aku” untuk memahami secara utuh buku yang akan diluncurkan. Buku ini seperti catatan dari pengalaman pribadi Mba Bel sebagai salah satu Tuli di Indonesia. Setidaknya ada empat hal yang diceritakan oleh Mba Bel dalam bukunya, yaitu diskriminasi yang diterima sebagai Tuli, perjalanan mencari jati diri, penjelasan sekilas tentang luasnya budaya Tuli, dan harapan untuk Tuli di Indonesia ke depannya. Dari keempatnya bagian yang menceritakan diskriminasi menurutku memiliki porsi paling banyak dalam buku ini, yang sejujurnya aku nikmati cerita tersebut tetapi bukan berarti mencintai diskriminasi, namun karena menyajikan cerita yang jujur untuk aku ketahui. Walaupun harus aku akui, diskriminasi yang dialami Mba Bel sewaktu kanak-kanak dulu sempat membuatku berpikir bahwa cerita itu merupakan fiksi karena terlalu mengejutkan jika hal itu terjadi di dunia nyata. Sewaktu membacanya aku memikirkan sebetulnya di mana tempat yang aman untuk anak Tuli jika tempat yang seharusnya aman tersebut tidak memberikan rasa aman? Lalu di mana anak Tuli yang masih belia bisa mendapatkan akses belajar sejak usia dini jika tempat yang seharusnya memberikan pendidikan tersebut belum mampu memfasilitasi?
“Aku itu Tuli yang beruntung. Aku mendapatkan support dan terfasilitasi oleh keluargaku. Tapi itu belum tentu dimiliki oleh Tuli yang lain.” Setiap Mba Bel mengucapkan rasa syukur dan pengakuannya atas segala fasilitas yang didapatkannya selalu disusul dengan harapannya dalam memperjuangkan hal baik dan kesetaraan untuk Tuli lainnya. Aku mulai memahami kampanye BISINDO yang digaungkannya selama ini bukan hanya soal identitas teman-teman Tuli, namun juga ajakan untuk teman-teman selain Tuli supaya bersama-sama mewujudkan ekosistem yang lebih inklusif.
Perjalanan Mba Bel yang masa kecilnya mengalami diskriminasi, lalu masa remajanya yang disibukkan dengan kebimbangan pencarian jati diri, sampai menemukan kepercayaan diri menjadi Tuli lewat BISINDO, lalu upayanya memperkenalkan budaya Tuli kepada orang Dengar sambil mengajak teman Tuli meningkatkan keberdayaannya di tengah lingkungan yang belum sepenuhnya ramah Tuli, hanya sebagian kecil yang dibagikannya di dalam bukunya. Sedikit yang dibagikan Mba Bel dalam bukunya pun akan mengundang pertanyaan tentang praktik keadilan di negara ini terhadap Tuli khususnya dan disabilitas pada umumnya. Untuk seorang yang jauh dari pengetahuan tentang disabilitas sepertiku minimalnya akan tergerak untuk lebih peduli terhadap isu disabilitas dan menghargai keberadaan mereka selama belum tahu dan belum bisa berkontribusi.
Aku harap buku ini justru memantik karya-karya dari teman Tuli lainnya yang perlu diketahui orang banyak, karena bagiku budaya Tuli seperti spektrum tersendiri yang di dalamnya ada keberagaman yang tak kalah menarik untuk disuarakan. Sebagai contoh (yang membuatku setengah hampir berteriak karena takjub), bahasa isyarat yang digunakan di tiap daerah di Indonesia memiliki perbedaan, layaknya setiap daerah memiliki bahasa daerah dan logatnya masing-masing.
Percaya atau tidak, aku bahkan mengajukan beberapa pertanyaan yang sempat mengundang tawa Mba Bel. Murni karena ingin tahu dan selama ini belum terjawab karena belum memiliki teman Tuli sebelumnya. Seperti, apakah teman Tuli datang ke konser umum atau ada konser khusus? Bagaimana teman Tuli mengendarai motor atau mobil di jalan raya yang biasanya mengandalkan bunyi klakson?
Sedikit Catatan Overthinking
Menyelenggarakan peluncuran buku dengan mayoritas audiens Tuli tentu memunculkan banyak kekhawatiran bagiku dan teman-teman tim internal. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya bahwa aku (dan teman-temanku) belum banyak tahu soal dunia Tuli sehingga ada kekhawatiran jika yang kami lakukan tidak ramah untuk teman-teman Tuli. Namun optimisme untuk melaksanakan acara ini selalu muncul jika mengingat “setara membaca, merdeka berkarya” yang sedang kami kampanyekan. Dengan optimisme tersebut pula kami mendapatkan respon dan dukungan baik dari Gramedia Rita Super Mall yang bersedia memberikan ruang untuk pelaksanaan acara ini di tengah kebingungan akan diadakan dimana peluncuran buku ini. Selalu ada tangan-tangan baik yang membantu di tengah ketidakpastian.
Aku dan teman-temanku juga sempat memikirkan kemungkinan kebingungan yang kami hadapi bermula dari minimnya acara di daerah ini yang melibatkan Tuli. Kami kesulitan menemukan referensi karena mungkin acara yang melibatkan Tuli lebih banyak kegiatan amal dibandingkan kegiatan lainnya seperti forum edukasi atau seni. Tuli seperti objek yang dikasihani, padahal Tuli lebih membutuhkan kesetaraan akses. Bukan dengan mengistimewakan karena itu berarti masih ada sisi mengasihani.
Menjadi Moderator: Menjadi Minoritas di Tengah Tuli
Aku pastikan lima topik yang akan aku ajukan dalam sesi talkshow peluncuran buku pertama Mba Bel adalah rasa penasaranku yang masih dalam koridor aman untuk dibahas pada suatu forum. Bukan bermaksud untuk bermain aman, namun interaksiku dengan Mba Bel membuatku paham bahwa ada hal-hal yang lebih krusial untuk dibahas di forum dengan jangka waktu yang tidak sampai berjam-jam, ada mimpi Mba Bel yang berusaha mengajak para Tuli lainnya untuk grow up dengan penuh percaya diri dengan identitas Tuli yang dimilikinya.
Forum ini spesial buatku karena merupakan forum pertamaku sebagai moderator yang dibersamai JBI. Namun yang paling berkesan ternyata baru aku rasakan ketika aku baru selesai membuka acara dengan salam di hadapan audiens yang 90 persennya Tuli.
Aku yang bicara, namun hampir semua tidak melihatku, karena audiens melihat ke arah JBI. Aku menggunakan mikrofon saat bicara di hadapan audiens yang hampir semua tidak mendengarku. Dua hal ini aku tulis dalam catatan harianku sebagai pengalaman yang paling berkesan di tanggal 4 Februari 2026 lalu.
Sejujurnya aku merasa sepanjang acara seperti solo fighter yang bicara sendiri. Hening, saking heningnya aku masih bisa mendengar lagu daerah yang diputar di lantai atas Gramedia. Bahkan tidak ada suara tepuk tangan karena budaya Tuli memiliki caranya tersendiri untuk ‘tepuk tangan”. Paragraf ini sepertinya lucu karena ini sudut pandangku sebagai orang Dengar, namun di saat yang bersamaan aku menyadari bahwa mungkin seperti ini contoh kecil diskriminasi yang dialami teman-teman Tuli, seperti asing di tengah forum yang sebetulnya ramai.
Perasaan sebagai minoritas tersebut dirasakan juga oleh teman-temanku dan beberapa crew Gramedia yang melihat teman-teman Tuli ramai berbahasa isyarat. “Oh, begini kali ya perasaan Belle atau Tuli lainnya selama ini. Nggak tahu isi obrolan padahal secara fisik ada di sana (tempat terjadinya obrolan).” Ini seperti ajang muhasabah lewat jalur tidak sengaja menjadi minoritas.
Bahan Perenungan
Singkat, padat, dan jelas. Apakah aku sebagai manusia sudah memanusiakan manusia?
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




