
Hallo, ini aku dan lukaku yang masih coba untuk sembuh walau terkadang di tengah jalan masih sering terjatuh.
Hidup menjadi anak perempuan pertama dengan luka masa kecil yang masih ia bawa sampai dewasa saat ini. Perempuan yang selalu berdalih dari lukanya sendiri. Perempuan yang hidup dari sisa-sisa trauma yang hingga saat ini masih mencari jalan sembuh. Untuk kalian yang mengenal perempuan ini, mungkin tafsirannya akan bermacam-macam pendapat; jutek, ceria, datar, dingin, ramah, baik atau bahkan jahat. Kalian tentu tidak salah menafsirkan sifatnya berdasarkan pendapat kalian sendiri. Sebab, mungkin kalian bertemu saat perempuan itu sedang menjadi salah satu dari versi itu. Beberapa orang akan kaget mungkin ketika sifat awal yang diketahui ternyata berbeda hingga ketika kalian mengenalnya lebih jauh.
Beberapa orang yang mengenal perempuan ini, mungkin sering menimbulkan pertanyaan di pikiran kalian mengapa dia selalu berganti lingkungan? Baik sosial maupun pertemanan, dan bahkan terkadang melihatnya berjalan sendiri ditengah keramaian? Bagaimana, ini yang kalian selalu ingin tanyakan kan?
Yah, itu yang terjadi di aku. Perempuan itu adalah aku.
Siapa yang benar-benar mengetahui perempuan ini? Jawabannya tidak ada. Bahkan untuk keluarganya sendiri atau dirinya sendiri. Mungkin cerita yang aku bagi ke beberapa orang hanya sepetik kisah yang diceritakan. Hingga ada satu orang yang paham dan tahu hampir keseluruhan ceritaku, orang yang sekarang denganku.
Mau kah kalian tahu sebagian kisahnya yang selama ini suaranya tak pernah terdengar sebab suara itu selalu tenggelam oleh kurasi manusia yang kerap kali keliru?
Hai, untuk kalian yang mengenalku ini mungkin sedikit jawaban terkait sesuatu yang kalian pertanyakan tentangku. Dan untuk kalian yang membaca ini dan atau belum mengenalku, semoga suara ini menjadi sudut pandang baru untuk kalian lebih luas melihat segala sesuatu yang hadir di hadapan kalian.
Aku dengan lukaku yang membawa luka masa kecil hingga dampak yang secara nyata namun tidak disadari menjadi faktor aku menanggapi dan menjalani kehidupanku saat ini. Yang sejak kecil banyak dijejali fakta-fakta dan melihat trauma yang tertampak langsung dari orang tua hingga mungkin berdampak pada cara mereka dan caraku merespons dari didikannya. Bahkan di usiaku yang seharusnya masih mengenal kesenangan bermain dan baru menginjak bangku awal sekolah. Hidupnya sejak saat itu tak pernah mudah, tapi ia masih bisa tersenyum saat bermain, bahkan mampu paham terhadap ejekan yang dilayangkan terhadap orang tuanya hingga yang ia mampu hanya menangis.
“Mengapa dia memperlakukan ibu seperti itu?” tanyaku lewat telepon sambil menangis lirih di pojokkan kamar.
“Mengapa mereka memperlakukanku seperti itu?” keluhku lagi namun kali ini bukan kepada ibu, tapi dalam tumpuan sajadah menangis mengadu pada Tuhan.
Hingga aku menyadari itu pula yang aku lakukan sekarang. Diam. Tak sekalipun membicarakan kebenarannya seperti apa. Bukan karena tak punya suara. Bukan pula karena takut. Tapi karena terlalu lelah. Lelah untuk menjelaskan. Sekeras apapun bersuara rasanya pun akan sia-sia. Karena beberapa orang terlalu meyakini apa yang mereka pahami dari apa yang ia dengar dan ia lihat, dari orang yang salah menafsirkan kebenaran itu sendiri.
“Mengapa kamu mau berteman dengan dia, dia kan orangnya begitu.”
“Kamu tau ga sih dia kan…”
“Ihh dia mah orangnya seperti ini, jangan mau sama dia, nanti kamu…”
Sejak saat itu, kamu pasti melihat dia selalu berjalan sendiri, terkadang hilang setelah kelas selesai atau selalu menolak ketika mendapat ajakan. Hingga beberapa orang, yang tidak meyakini sekalipun berita yang mereka dapat, datang dengan pertanyaan kikuknya menanyakan hal tersebut.
“Kenapa seperti itu?”
“Aku tidak meyakini berita itu, maaf ya sempat berpikiran hal itu berita itu benar, ternyata kenyataannya tidak seperti itu”
Aku berterima kasih sekali atas keberanian kalian yang mempertanyakan langsung bukan hanya berdasarkan meyakini pendapat simpang siur adanya. Jadi untuk kalian siapapun yang membaca tulisan ini, pesan untuk kalian semua, tolong ya jika mendapati sebuah berita tentang seseorang dan kalian ragu meyakininya, lebih baik tanyakan langsung pada orangnya bukan hanya berdasarkan informasi pendapat orang lain. Karena dari hal itu bisa jadi menyelamatkan suara orang yang dibicarakan itu.
Mulailah dari apa yang engkau yakini berdasarkan kepercayaan yang kamu bangun dari keterbukaan sudut pandanganmu, bukan berdasar hanya sebatas pendapat orang lain. Percayalah sedikit hal dari itu bisa menyelamatkan mereka. Sebab kita tidak pernah tahu dari ketidak-percayaan itu entah sedalam apa iya menenggelamkan suaranya atau bahkan suaranya tak pernah terdengar karena ditenggelamkan sangat dalam oleh berita itu sendiri, oleh orang-orang yang menyebarkan cerita yang keliru.
Sebagaimana sebab-akibat, faktor-faktor tersebut menciptakan kecenderungan menarik diri. Bisa jadi karena dia tidak sanggup, atau bisa jadi itu bentuk perlindungan diri dari luka luka yang tercipta dari hal itu.
Survival mode istilah yang kini marak di kenal orang orang sekarang. Orang-orang dalam mode ini akan melakukan hal hal yang tentunya membuat mereka merasa aman. Salah satunya, menarik diri dari lingkungan. Bukan hanya itu sebetulnya, ada juga ketika kamu dengan sepenuhnya menaruh kepercayaan pada seseorang tentang sebagian kisahmu. Dan yang lebih menyakitkan lagi orang itu pula yang menghancurkan tembok kepercayaan itu.
“Bagaimana kalau kita menyukai orang yang sama?” Aku masih ingat kalimat itu ia layangkan kepadaku, namun pertanyaan itu rasanya janggal bagiku. Dan jika kalian ingin tahu dari banyaknya orang, dia adalah jembatannya, mungkin dia juga kuncinya. Hingga pada akhirnya kejanggalan yang belum aku sadari sebelumnya, seolah mengetukku kembali dan menyadarkanku. Padahal beberapa orang pernah memperingatkanku sebelum itu, tentang kejanggalan yang mereka rasakan pula pada dia.
Sempat hinggap di titik depresi, namun masih tetap bangkit kembali. Kejadiannya sudah bertahun berlalu, namun rasa cemas dan takut terkadang masih hinggap selalu.
Aku bukan bermaksud mengungkap kembali cerita lalu itu, hanya mencoba menulis sebagai upaya memaafkan. Rasanya masih sulit sekali bisa dimaafkan. Sebab, kecaman itu masih sesekali mencolekku di beberapa kesempatan. Dia tak pernah maju, dia akan berdiri di belakang seraya melihat tangan kanannya mewakili, berharap dapat menyentil egoku.
Dan sepertinya pola kemelekatan terbawa hingga hal-hal kecil yang mulanya diwajarkan, lama kelamaan menjadi sebuah ketidaknyamanan. Ketika beberapa perasaan yang dibungkam — dipendam, menumpuk hingga menampakkan diri di permukaan. Lelah. Hingga sejak itu hal-hal yang dulunya excited lama-lama hanya kosong yang dirasa dan energi akan cepat terkuras untuk menanggapi hal-hal yang dirasa sudah tidak selaras. Kemudian sifat menarik diri itu muncul kembali, dengan dalih butuh recharge energi lebih untuk menanggapinya.
“Kenapa sekarang jadi selalu sama dia terus?” salah satu kalimat yang aku dengar ini menjadi alasan aku menarik diri kembali dari lingkungan.
Perempuan itu sudah terlalu lelah menghadapi hal-hal yang belum sempat dia maafkan, hal-hal yang terlalu diwajarkan, hal-hal yang membuat tidak nyaman, terlalu menguras energi. Ia hanya orang yang tak pandai mengungkapkan apa yang ia mau, dan apa yang ia suka. Dia hanya ingin hidup tenang tanpa orang lain terganggu akan kehadirannya. Dia tak pernah cerita banyak, takut ceritanya menambah beban baru di pundak pendengarannya. Karena ia tahu rasanya menjadi pendengar cerita.
Jadi, langkah yang dilakukan bukanlah bentuk dari ia menyerah, bukan bentuk dari ia kalah. Terkadang yang kita pikir sikap tidak baiknya seseorang adalah karena dia jahat, tapi sebetulnya itu merupakan bentuk respon dalam melindungi diri sendiri baik dari sakit atau perasaan yang ia sembunyikan. Hingga pada akhirnya menciptakan kembali tembok pembatas. Dan dalam perjalanan itu pula ia memperoleh kemenangannya, yakni mulai menemukan dirinya sendiri. Lewat rasa sunyi yang perlahan menelusup memberikan kesadaran diri.
Laeli Linatussa’adah, lahir di Cilacap, tahun 2004. Ia berasal dari Nagreg, Bandung dan merupakan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Di luar kesibukan akademik, ia aktif di Komunitas Batir Isyarat Banjoemas. Bisa disapa melalui akun Instagram @laelintsdh_




