Imajinasi Penggemar Olahraga: Baik atau Buruk?

Belakangan ini, budaya populer telah memasuki dunia baru, yakni olahraga, walau sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Salah satu yang menjadi perhatian masyarakat adalah k-popfication of sports. Sesuai namanya, semua berawal dari sebagian penggemar K-pop yang beralih menjadi penggemar cabang olahraga tertentu lalu menggunakan cara yang ada di K-pop saat menyukai salah satu atlet, termasuk pembuatan fiksi penggemar. Lantas hal ini langsung memicu perdebatan publik, baik yang pro maupun kontra. 

Karena penasaran, saya mencoba menyelami masalah fiksi penggemar atlet ini. Mulai dari mengulik-ulik situasi dari tahun-tahun ke belakang sampai membandingkannya dengan situasi sekarang. Setelah saya telusuri, saya jadi teringat masa silam. Masa sewaktu saya masih menjadi anak SMP. Kala itu, saya pernah membaca salah satu fiksi penggemar atlet di Wattpad di mana tulisannya sungguh bagus dan berbeda dari fiksi penggemar atlet kebanyakan. Lantas saya berpikir, mengapa orang-orang baru mempermasalahkan soal ini sekarang, sedangkan fenomenanya sudah ada dari zaman sebelumnya?

Sebelum mengetahui lebih dalam mengenai fiksi penggemar atlet, kita harus tahu terlebih dahulu apa arti fiksi penggemar ini. Ia merupakan karya sastra yang dibuat oleh penggemar tertentu, seperti musik, serial, video game, dan film serta karya sastra lain seperti novel dan komik. Sama seperti namanya, si penggemar akan mengambil beberapa idola kesayangannya lalu mengubahnya menjadi tokoh dalam cerita karangannya. Genre- nya bermacam-macam, mulai dari romance sampai horor dan semua itu memiliki wadahnya tersendiri. Di luar negeri, ada salah satu situs web yang paling terkenal bernama Archive of Our Own atau disingkat AO3 dimana banyak sekali karya fiksi penggemar yang populer, bahkan saat ini AO3 juga mulai dilirik oleh orang-orang di Indonesia meski peminatnya masih bisa dihitung menggunakan jari.

Barulah selanjutnya kita membahas tentang fiksi penggemar atlet. Di Indonesia sendiri, mungkin ada yang masih ingat dengan Marcus Gideon dan Kevin Sanjaya, Fajar Alfian dan Rian Ardianto, Jonatan Christie serta Timnas Indonesia era Luis Milla, U-19 dengan trio mautnya, Egy, Witan, dan Rafly, dan U-16 era Sutan Zico, Rendy Juliansyah, dan Brylian Aldama. Saking populernya mereka pada masa itu, fiksi penggemar mereka bertebaran dimana-mana—termasuk Wattpad—sebuah aplikasi yang menjadi wadah bagi para penulis baru. Di sana, para penggemar menumpahkan segala imajinasi mereka dengan menjadikan atlet-atlet ini sebagai tokoh fiksi di dalam semesta yang berbeda. Hal ini masih terus berlanjut walau saat ini telah berganti nama menjadi alternative universe dan berpindah ke Twitter atau X dan TikTok pada era Coach Shin Taeyong semenjak kemunculan pemain seperti Pratama Arhan, Marselino Ferdinan, dan pemain naturalisasi seperti Rafael Struick, Nathan Tjoe-A-On, Sandy Walsh, Shayne Pattynama, Ivar Jenner, Justin Hubner, dan Mees Hilgers. 

Selain sepak bola dan bulutangkis, fiksi penggemar atlet juga merambah ke dunia voli. Mungkin dari kalian pasti kenal dengan Doni Haryono, salah satu outside hitter terkenal Tanah Air. Dia memiliki karya fiksi penggemarnya sendiri berjudul Dijodohin Atlet Voli karangan @/rihayris. Ceritanya masih ada di Wattpad, bahkan sudah ditandai lengkap atau selesai. Memang, kebanyakan fiksi penggemar atlet Indonesia didominasi genre romance, slice of life, dan komedi, tetapi bukan berarti para penggemar olahraga, khususnya perempuan, tidak bisa menumpahkan ide mereka dan mengeluarkan kemampuan menulis mereka.

Namun sayangnya, fiksi penggemar atlet tidak sepenuhnya diterima dengan baik. Hal ini terjadi karena berbagai alasan. Pertama, penggunaan atlet sebagai face claim tanpa izin. Dahulu, karya-karya di Wattpad dan Alternative Universe menggunakan beberapa selebritis sebagai face claim, seperti Prim Chanikarn dan Go Younjung, tetapi sekarang tidak diperbolehkan karena beberapa dari mereka sudah memiliki hak cipta (copyright).

Pernah ada satu kasus di mana serial drama web berjudul Dikta dan Hukum (diambil dari alternative universe yang sama) menggunakan nama Jeno sebagai nama tokohnya yang diperankan oleh Ajil Ditto sehingga menimbulkan reaksi negatif dari penggemar sebab nama itu telah menjadi trademark- nya SM Entertainment. Hal inilah yang sangat ditakutkan oleh penggemar olahraga jika atlet dari cabang olahraga terkenal dibuatkan fiksi penggemarnya. Mereka takut si atlet akan merasa tidak nyaman, apalagi kalau fiksi penggemar yang dibuat itu mengandung unsur 21+ dan kekerasan. Maka untuk menghindari hal itu, si penulis pasti akan meminta izin kepada atlet yang bersangkutan untuk berkenan dijadikan face claim melalui media sosial atau tidak membuat karya yang sangat sensitif.

Kedua, orientasi seksual. Saya pernah menemukan salah satu fiksi penggemar atlet yang bertemakan LGBT (dalam hal ini homoseksual atau gay) dan kebanyakan ditemukan di cabor bulutangkis meski juga terdapat fiksi penggemar gay sepak bola (dan saya pernah membacanya) di Wattpad. Jelas hal ini sungguh berbahaya mengingat LGBT merupakan hal yang sangat tabu dan dilarang di Indonesia. Para penggemar yang kontra terhadap fiksi penggemar ini juga takut jika sang atlet membaca dan mengetahui karya itu. Mungkin sejatinya si penulis meniru ala-ala karya fiksi penggemar berbau BL (Boys Love), tetapi tak sadar bahwa tokoh yang tercantum merupakan seorang atlet.

Intinya, fiksi penggemar atlet telah menimbulkan beragam reaksi publik. Di satu sisi, si penggemar dapat menyalurkan bakatnya yang selama ini dia miliki, tetapi tidak tahu imajinasinya dituangkan kemana. Namun, di sisi lain, resikonya sudah sangat jelas apabila tidak memperhatikan keadaan di sekitar. Boleh boleh saja para penggemar membuat karya, tetapi yang harus diingat adalah apakah mereka sudah berpikir berkali-kali dengan tema yang mereka bawa. Oleh karena itu, pembahasan ini tidak akan ada habisnya. Daripada terlalu lama berdebat mengenai fanfiction ini, alangkah baiknya kita untuk bahu-membahu mengkritik pemerintah dan federasi olahraga dalam mengurus atlet. Itu adalah hal yang sangat penting.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top