Menakar Ulang Peran Legislatif Mahasiswa di Era Dominasi Eksekutif Kampus

Di tengah kehidupan kampus yang penuh hal-hal baru, ada cerita yang sering terlewat. Para mahasiswa yang berusaha menyampaikan suaranya, bukan dengan aksi langsung di lapangan, melainkan melalui perdebatan dan pemikiran yang matang di dalam ruang rapat. Di tempat itulah lembaga legislatif mahasiswa bekerja, sebuah lingkungan yang idealnya berfungsi sebagai lahan subur bagi lahirnya pemikiran-pemikiran besar, namun seringkali terlihat redup dibandingkan dengan perhatian yang lebih besar terhadap lembaga eksekutif. Mengapa hal ini terjadi? Mengapa mahasiswa lebih tertarik pada lembaga eksekutif yang dinamis, sementara legislatif terasa kehilangan daya tariknya?

Kurangnya Minat Ikut Legislatif di Era Dominasi Eksekutif

Bayangkan kita sebagai mahasiswa baru. Kampus adalah dunia baru yang penuh kesempatan. Kamu melihat teman-teman bergabung dengan Himpunan Mahasiswa, Badan Eksekutif Mahasiswa, mereka yang membuat seminar nasional dengan pemateri yang populer, mengelola acara besar, atau bahkan memimpin demo. Anggota eksekutif terlihat hidup, mereka bersinggungan langsung dengan mahasiswa, sering muncul di media kampus, dan sering menjadi tokoh yang diteladani. “Aku ingin jadi ketua eksekutif,” ujar seorang mahasiswa dengan mata bersinar. Bagiannya terasa seperti jalan cepat menuju popularitas dan pengaruh yang nyata.

Sekarang, bayangkan anda mendengar tentang lembaga legislatif. Apa yang terlintas di pikiran? Mungkin rapat-rapat panjang, perdebatan tentang aturan, atau bahkan kata “birokrasi” yang membuat mata berkunang-kunang. Banyak mahasiswa melihatnya sebagai tempat yang “kurang keren”, kurang aksi, kurang sorotan. Mengapa? di masa yang bergerak cepat dan semua hal ingin viral, proses legislatif dirasa lambat. Mereka membuat kebijakan, tapi prosesnya sering tidak terlihat oleh masyarakat. Sementara itu, eksekutif adalah bagian yang paling terlihat, karena mereka aktif dan terlibat langsung dalam berbagai kegiatan sehari-hari di kampus. Mahasiswa merasa eksekutif lebih “hidup”, mereka bisa merasakan adrenalin aksi, sementara legislatif terasa seperti tugas rumah yang tak pernah selesai.

Mengapa Hati Mahasiswa Terbelah?

Mari kita lihat lebih dalam, dengan empati. Apa yang membuat eksekutif begitu dominan? Pertama, visibilitas. Eksekutif adalah mesin aksi: mereka mengadakan event, mengelola dana, dan sering kali menjadi pusat perhatian. Seorang mahasiswa yang bergabung dengan eksekutif mungkin langsung mendapat pengikut di media sosial, sorotan dari dosen, atau bahkan kesempatan networking. Ini seperti panggung utama, di mana setiap langkah terlihat dan diapresiasi.

Di sisi lain, legislatif adalah “dapur belakang”—tempat di mana kebijakan dibuat, tapi prosesnya jarang viral. Mereka membahas RUU (Rancangan Undang-Undang) mahasiswa, peraturan, kebijakan, ketetapan, mengawasi eksekutif, atau bahkan mengadvokasi isu-isu seperti hak mahasiswa. Tapi dalam proses kinerja lembaga legislatif yang panjang dan kompleks itu seringkali tanpa adanya kamera, dalam artian jarang adanya yang menyorot, mungkin karena mahasiswa sekarang ingin setiap langkah, proses dan kegiatan yang dilakukan mendapat validasi publik. Banyak mahasiswa merasa itu “kurang menarik” karena hasilnya tidak langsung terasa. “Mengapa repot-repot berdiskusi panjang jika eksekutif bisa langsung eksekusi?” kata seorang mahasiswa dengan nada frustrasi.

Selain itu, ada juga soal urusan administrasi. Mahasiswa merasa enggan jika harus berurusan dengan berbagai surat menyurat. Tidak hanya sekadar mengatur tampilan makalah, tetapi lebih dari itu, bagaimana ilmu legislatif drafting harus menjadi dasar dalam membuat undang-undang mahasiswa.

Apa yang terjadi jika kita mengabaikan hal ini? Lembaga legislatif adalah bagian penting dari demokrasi kampus. Jika tidak diperhatikan, maka badan eksekutif bisa bebas berkarya tanpa ada yang mengawasi, sehingga risiko pelanggaran organisasi, penggelapan dana lembaga atau pengambilan keputusan secara semena-mena akan terus terjadi. Bayangkan kampus yang hanya diatur oleh sekelompok kecil orang itu bukan lagi demokrasi, itu adalah bentuk tirani kecil.

Tapi, bisakah kita menyelamatkan lembaga legislatif? tentu, dengan hati yang sama besarnya seperti masalahnya. Pertama, mari kita buatnya lebih menarik. Kampus/lembaga bisa mengintegrasikan teknologi: rapat virtual yang interaktif, konten pendek di media sosial tentang proses legislasi, atau bahkan “hari terbuka” di mana mahasiswa bisa melihat bagaimana kebijakan dibuat. Bayangkan video TikTok yang menjelaskan RUU dengan cara lucu dan relatable, mungkin itu bisa menarik generasi muda.

Kedua, edukasi dari hati ke hati. Mulai dari orientasi mahasiswa baru, ajari mereka bahwa legislatif bukan birokrasi mati, tapi tempat di mana suara mereka benar-benar didengar. Bagikan kisah sukses: seperti bagaimana legislatif di kampus tertentu berhasil mendorong kebijakan ramah lingkungan yang mengubah kampus. Ini bisa membangun empati, menunjukkan bahwa terlibat di legislatif adalah cara untuk membuat perbedaan nyata.

Ketiga, kolaborasi. Mari eksekutif dan legislatif bekerja sama, bukan bersaing. Eksekutif bisa mempromosikan kerja legislatif, sementara legislatif bisa memberikan ruang bagi eksekutif untuk berkembang. Ini seperti keluarga yang saling mendukung.

Akhirnya, ini tentang kita semua, setiap individu yang terlibat dalam ekosistem kampus ini, dari yang paling aktif hingga yang hanya diam-diam memperhatikan. Sebagai pelajar yang sedang mengejar mimpi dan pengetahuan, dosen yang membimbing generasi muda dengan dedikasi tinggi, atau siapa saja yang peduli tentang masa depan pendidikan dan kehidupan bersama, mari kita mulai dari diri sendiri dengan langkah-langkah kecil yang bermakna. berdiskusi dalam forum diskusi, ikuti rapat-rapat mahasiswa, diskusikan ide-ide baru di kafe kampus atau melalui media sosial, atau bahkan membuat perubahan kecil seperti mengajukan usulan sederhana untuk meningkatkan transparansi.

Kisah lembaga legislatif kampus mungkin terlupakan oleh banyak orang karena kurangnya sorotan dan perhatian, namun dengan empati yang mendalam terhadap suara-suara yang terpinggirkan dan aksi nyata yang konsisten, kita bisa menulis ulangnya menjadi narasi yang lebih kuat dan inspiratif. Karena pada akhirnya, kampus yang sehat dan berkelanjutan adalah kampus di mana setiap suara, termasuk yang datang dari lembaga legislatif seperti badan perwakilan mahasiswa, didengar dengan penuh perhatian dan dihargai sebagai bagian integral dari proses demokrasi. Mari kita buat itu terjadi, satu langkah demi satu langkah, hingga kampus kita benar-benar menjadi tempat di mana semua orang merasa didengar dan terlibat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top