
Hingga saat ini, saya masih belum bisa melupakan momen solidaritas dan perjuangan yang paling berkesan ketika saya dan kawan-kawan Tuli mengantar dan menemani kawan Deaf Gain dari Jakarta di Terminal Bulupitu, Purwokerto. Singkatnya, saya mengundang kawan Deaf Gain bernama Kak Bagja Wiranandhika Prawira untuk menghadiri acara peluncuran buku “Catatan Bellé: Dunia Tuli dan Aku” melalui surat resmi dari BIL Fest. Acara peluncuran buku saya sudah dilaksanakan pada 4 Februari 2026, di Gramedia Rita Mall Purwokerto. Saya pun berusaha untuk tidak memaksanya, namun sangat berharap bahwa ia dapat hadir di acara peluncuran buku.
Senin (2/02/2026) sekitar pukul 19.00 WIB ini seharusnya menjadi malam yang menenangkan, karena saya punya kebiasaan untuk melakukan salat isya secara berjamaah bersama keluarga. Malam itu, tampaknya ada kawan Tuli mengganggu ketenangan saya, yaitu dapat notifikasi panggilan video melalui WhatsApp.
Dua kali ia memanggil panggilan videoku. Setelah salat isya, akhirnya saya dapat menjawab panggilan video. Rupanya, ia menanyakan apakah di Purwokerto ada terminal bus, serta hotel di sekitar Rita Mall Purwokerto. Saya memberitahunya sekaligus membantu mencarikan nama hotel sesuai kebutuhannya.
Kami berdua berjanji bertemu di Gramedia Rita Mall Purwokerto, sekaligus hadir di acara peluncuran buku tersebut. Setelah acara selesai, saya pun mengajak kawan-kawan Tuli untuk berkumpul sekaligus berkenalan dengan Kak Bagja di sebuah kafe Duanja, Jalan Kranji. Selama di kafe Duanja, kami pun berdiskusi banyak hal, mulai dari komunitas Tuli, sumber daya Tuli & Juru Bahasa Isyarat, perempuan Tuli, hingga keresahan-keresahan yang dirasakan oleh kawan-kawan Tuli di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga.
Keesokan harinya, saya dan kawan-kawan Tuli Purwokerto sudah menyusun itinerary untuk berkeliling di sekitar kabupaten Banyumas bersama Kak Bagja, agar perjalanannya lebih efisien, terstruktur, dan hemat waktu. Mulai dari Kedai Yammie 101, Banyumas Wayang Museum, Banyumas Heritage City Garden, hingga Brasil Ice Cream & Coffee. Kami pun ingin mengantar Kak Bagja dan menunggu hingga ia dapat bus.
Solidaritas Perjuangan Kawan-Kawan Tuli Hingga Menunggu Kedatangan Bus
Saya cukup terkejut dengan adanya transformasi terminal Bus Bulupitu Purwokerto. Terlihat cukup rapi, nyaman, dan menarik, seperti kita berada di Bandara Soekarno-Hatta. Pengalaman ini bukan pertama kali saya berada di terminal Bus Bulupitu. Sebelumnya, pada tahun 2019, saya masih berstatus sebagai mahasiswa yang pernah menggunakan transportasi bus saat saya pulang ke rumah asal, tepatnya di Kabupaten Bekasi.
Tahun ini, pertama kali saya baru menginjak di terminal bus dengan kondisi infrastruktur yang lebih bagus, rapi, dan nyaman dibanding sebelumnya bersama kawan-kawan Tuli.
Pada saat itu, saya dan kawan-kawan Tuli mengantar ke terminal Bulupitu serta menemani Kak Bagja hingga bus datang. Memperhatikan Kak Bagja sebagai penumpang Tuli ini mencerminkan diri saya sebagai penumpang Tuli sejak dulu memiliki masalah yang sama, yaitu menunggu sambil menatap jam dan memantau bus yang sedang berjalan menuju pintu terminal gate, hingga memastikan bus yang sesuai nomor plat dan kode bus tersebut. Sedikit tidak menatap dan memantau bus, saya bisa saja kehilangan kesempatan, sama seperti yang dialami Kak Bagja. Karena saya tahu bahwa bus tidak bisa menunggu lama di terminal gate, hanya menunggu hingga penumpang bisa naik bus. Bahkan, saya pernah tertinggal bus, hanya karena ada transit bus di Rest Area. Ini bukan tentang pengalaman saya dan Kak Bagja, melainkan pengalaman nyata yang dialami oleh komunitas Tuli. Masalah seperti ini bukanlah hal yang sepele, melainkan masalah yang paling serius terkait aksesibilitas fasilitas transportasi bus bagi Tuli.
Kak Bagja juga berusaha berkomunikasi dengan petugas loket, bahkan petugas operasional terminal untuk memberitahukannya terkait posisi dan waktu kedatangan bus. Akhirnya, kami memilih menunggu sambil berdiskusi dengan Kak Bagja di terminal gate I. Mendekati waktu kedatangan bus, Kak Bagja berkomunikasi lagi dengan petugas operasional terminal untuk memastikan posisi kedatangan bus tersebut. Ternyata, informasi terakhir bahwa bus akan transit di terminal gate II.
Kami pun mulai ragu-ragu, sekaligus bingung mengenai posisi kedatangan bus tersebut. Akhirnya kami sepakat untuk membagi dua kelompok dan terus berkomunikasi secara intens. Kelompok masing-masing ini stand by di setiap terminal gate, karena di terminal Bulupitu memiliki dua pintu terminal gate. Menunggu delay sekitar 1 jam, akhirnya bus masuk ke pintu terminal gate II. Saya langsung berkomunikasi dengan mereka yang berada di terminal gate I secara tiba-tiba.
“Guyss, cepat lari ke terminal gate II!!! Alhamdulillah, bus sudah datang. Cepetan!!”
Di sisi lain, saya merasa kasihan dengan mereka sedang berlari menuju terminal gate II dengan ngos-ngosan. Namun, kami merasa sudah lega, karena ia sudah dapat bus yang sesuai. Pertemuan antara kami dan Kak Bagja telah berakhir di Terminal Bulupitu.
Aksesibilitas Fasilitas Umum Masih Kental dengan Sistem Audisme
Pengalaman sebagai penumpang Tuli ini bukan hanya terjadi sekali. Berkali-kali penumpang Tuli masih terjebak di sistem aksesibilitas yang masih mengikuti standar pendengaran dalam kehidupan sehari-hari. Secara tidak sadar, aksesibilitas fasilitas umum ini masih menguntungkan bagi penumpang dengar, karena selalu mengumumkan informasi melalui pengeras suara tanpa adanya informasi berbasis komunikasi visual. Situasi seperti ini disebut audisme. Audisme ini bukan hanya sebatas diskriminasi terhadap Tuli, melainkan sistem aksesibilitas yang seringkali mengabaikan kebutuhan dasar Tuli.
Seringkali penumpang Tuli harus bekerja dua kali untuk mendapatkan kebutuhan informasi dasar yang cukup krusial adalah salah satunya ketergantungan pada komunikasi verbal. Sementara, penumpang dengar pun tidak tertinggal informasi. Realita ini menunjukkan adanya kesenjangan akses informasi bagi Tuli.
Ironisnya, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas sudah tertulis dan menjamin untuk melindungi hak asasi Tuli terhadap akses informasi. Yang jelas, UU juga menyebutkan bahwa setiap layanan publik diwajibkan untuk menyediakan akses komunikasi yang setara dan inklusif bagi Tuli.
Dari situlah, saya menyadari bahwa aksesibilitas fasilitas umum ini perlu dibenahi kembali dengan baik di Purwokerto. Saya ingin menganggap bahwa isu aksesibilitas adalah isu bersama untuk menjamin dan melindungi hak asasi Tuli.
Tulisan ini hanya sebagai refleksi bagi kita semua… Jadi, apa yang perlu kita lakukan untuk menghilangkan sistem audisme?
Bagiku, perubahan tidak akan terjadi jika kita terus menganggap hal ini biasa.
Aulia Nabila Fal, akrab disapa Belle, adalah seorang penulis dan pegiat isu disabilitas asal Malang yang kini berdomisili di Banyumas. Lahir pada 28 Januari 1999, ia aktif menyuarakan advokasi melalui perannya sebagai koordinator program di Batir Isyarat Banjoemas. Di sela kesibukannya, Belle menyalurkan minat besarnya dalam membaca, riset, serta desain creative journaling. Sebagai seorang Penulis Tuli, ia secara rutin membagikan buah pikirannya melalui akun @catatanbelle dan platform Medium. Jejak karya dan aktivitas kesehariannya dapat diikuti lebih lanjut melalui akun Instagram @aulianabilaafal.




