Gentrifikasi Sosial Generasi Muda dalam Bayang-bayang Perubahan Lanskap Kota

Perubahan lanskap kota di Indonesia dalam beberapa dekade terakhir berlangsung begitu masif dan bergerak cepat. Pinggir jalanan kota yang dahulu lenggang kini mulai dipenuhi oleh bangunan baru, seperti kafe berlampu temaram, kawasan komersial modern dengan etalase kaca, hingga ruang publik yang dirancang dengan gaya estetis. Kota kini mulai menjelma menuju arah bentuk kota metropolitan sebagai panggung untuk menunjukkan gaya hidup modern. 

Kota metropolitan secara harfiah merujuk pada wilayah urban dengan kepadatan penduduk yang tinggi, jaringan ekonomi yang terintegrasi, mobilitas penduduknya yang mulai masif dan intens, serta simbol modernitas yang hadir melalui bentuk infrastruktur, konsumsi, dan citra sosial. Dalam lanskap kota metropolitan tersebut, kota tampil sebagai bentuk pengalaman gaya hidup modern. 

Purwokerto, sebuah kecamatan di kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini mulai berada di persimpangan perubahan lanskap tersebut. Purwokerto memasuki fase transformasi yang semakin nyata. Pemerintah daerah dan pusat menargetkan Purwokerto sebagai salah satu kota berkelanjutan di masa depan. Dilansir dari Suara Merdeka Banyumas, proyek besar ini diperkirakan akan berlangsung hingga tahun 2045 melalui program Integrated City Planning (ICP). Program ICP mencakup pada penataan kawasan pendidikan, pariwisata, dan bisnis yang terintegrasi dengan fungsional pemerintahan. Rencana ini bertujuan menghadirkan wajah kota yang lebih hidup dengan infrastruktur yang mendukung fungsi kota masa depan.

Kawasan kota Purwokerto kini mulai memperlihatkan kehadiran bangunan ikonik seperti menara teratai serta pusat-pusat kegiatan baru yang dirancang memberi arah pada kehidupan ruang kota modern. Struktur wajah kota yang baru berdiri menjadi simbol kemajuan kota sekaligus daya tarik visual yang layak untuk memenuhi konten foto pada media sosial. Ruang-ruang urban dibuka di berbagai titik kota untuk disulap menjadi ruang interaksi sosial yang estetis, disertai revitalisasi pasar tradisional agar mendapatkan sentuhan modern demi meningkatkan aktivitas ekonomi.

Gentrifikasi Sosial dan Normalisasi Visual

Perubahan lanskap kota Purwokerto tidak berhenti pada fisik semata. Perubahan kota tersebut kini mulai merembes ke dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Kebiasaan baru khas masyarakat modern mulai tumbuh dalam kehidupan sehari-hari di Purwokerto. 

Masyarakat Banyumas, sebagai bagian dari kehidupan kota Purwokerto, dahulu dikenal dengan karakter sosial yang sederhana dan agraris. Kehidupan sehari-hari masyarakat, baik tua maupun muda, hanya berpusat di sawah, pekarangan, pasar, atau ruang desa yang menjadi ruang interaksi langsung. Bahasa Banyumasan mencerminkan karakter lugas masyarakat Purwokerto yang blakasuta dan tanpa jarak sosial yang kaku. Pertanian menjadi sumber identitas masyarakat yang memberi ruang pada pewarisan nilai kerja dan keterikatan pada tanah. 

Namun, Perubahan lanskap kota telah membawa dinamika sosial baru dalam kehidupan masyarakat tersebut. Pembangunan kafe hingga ruang publik modern menghadirkan ruang berkumpul yang sarat simbol. Anak muda hanya datang, duduk, memesan minuman, bersua foto, lalu membagikan momen itu di media sosial. Pola ini mulai menggeser ritme hidup kota yang pelan, mempercepat waktu, sekaligus menata ulang imajinasi lama masyarakatnya. 

Gentrifikasi sosial muncul secara perlahan, bukan hanya soal perpindahan kelas atau naiknya harga tanah di kawasan kota. Gentrifikasi hadir dalam bentuk perubahan selera, cara berbicara, hingga cara memandang diri. Tempat nongkrong menjadi penanda pergaulan modern, Busana menjelma menjadi bahasa identitas, dan pilihan pekerjaan mulai dibaca melalui citra secara modernitas. 

Ditambah dengan media sosial yang mempercepat proses gentrifikasi sosial masyarakat. TikTok, Instagram, dan Facebook menghadirkan aliran visual yang nyaris seragam. Algoritma media sosial membentuk standar baru pada kehidupan masyarakat tentang apa yang dianggap modern, menarik, viral, dan layak ditiru.

Merujuk pada data penetrasi media sosial di Indonesia, tingkat penggunaan media sosial generasi muda sangat tinggi. Laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia mencatat lebih dari 98 persen pengguna internet usia 15–24 tahun aktif di media sosial. TikTok menempati posisi teratas dalam durasi penggunaan harian. Konten yang paling banyak dikonsumsi pun berkaitan dengan gaya hidup urban, hiburan, dan konsumsi. 

Arus visual dan perubahan lanskap urban tersebut perlahan membentuk cara pandang masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Purwokerto, mulai dipahami sebagai simbol kemajuan yang layak dikejar. Cara berpikir masyarakat pun seakan bergerak mengikuti citra dan visual yang hadir di sekeliling mereka. Aktivitas harian mulai diukur melalui kedekatannya dengan gaya hidup modern, seperti nongkrong di kafe, hadir di ruang publik estetis, atau sekedar berada di tempat yang tampak kekinian memberi rasa ikut serta dalam perubahan zaman yang semakin modern. 

Pertanian dalam Bayang-bayang Imajinasi Urban

Dalam perubahan kota, orientasi hidup masyarakatnya pun seakan mengalami pergeseran halus. Nilai tentang kerja, waktu, dan keberhasilan mulai dibaca melalui lensa gaya hidup masyarakat modern. Profesi petani, misalnya, lebih sering ditempatkan pada posisi yang rendah dalam hierarki sosial. Penghasilan yang tidak menentu, proses kerja yang panjang, serta minimnya representasi visual modern membuat profesi ini jarang mendapatkan ruang apresiasi dalam narasi publik. Di hadapan citra modern, pekerjaan yang tampak bersih dan ringan kerap dijadikan standar keberhasilan hidup masyarakat. Hal ini menyebabkan profesi petani mulai kehilangan daya tarik simboliknya. 

Dilansir dari Data Sensus Pertanian 2023 menunjukkan bahwa di Jawa Tengah, proporsi petani berusia 19–39 tahun hanya sekitar 14,86 persen dari total petani, sementara mayoritas pelaku usaha tani berada pada kelompok usia lanjut. Pada saat yang sama, jumlah usaha pertanian perorangan di provinsi ini tercatat mengalami penurunan lebih dari 13 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya. Angka-angka ini mengindikasikan adanya persoalan regenerasi yang serius dalam sektor pertanian. Kondisi tersebut juga tercermin di Kabupaten Banyumas. Meski sebagian besar desa masih menggantungkan hidup pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, keterlibatan generasi muda kian terbatas.

Sawah dan ladang lebih banyak dikelola oleh bapak-bapak dan ibu-ibu berusia lanjut sementara generasi muda-nya lebih memilih menjaga jarak dari sawah.  Pekerjaan yang ideal sering hanya dibayangkan dari aktivitas yang cepat memberi imbal balik finansial, bersih secara pakaian dan visual, hingga kedekatan dengan pusat kota. Desa dan sawah perlahan hanya diposisikan sebagai ruang prasasti masa lalu. Tidak mengherankan jika akhir-akhir ini banyak generasi muda yang lebih memilih beralih pekerjaan pada sektor jasa atau lebih memilih merantau ke kota lain, meskipun penghasilannya juga belum tentu lebih stabil.

Gentrifikasi sosial terjadi ketika nilai masyarakat kota mulai meresap ke masyarakat desa, mengubah orientasi hidup tanpa perlu perpindahan fisik. Desa tetap berfungsi sebagai ruang tinggal, sementara orientasi berpikir sosial masyarakatnya mengalami pergeseran yang signifikan. Proses ini berlangsung secara gradual, kerap tidak disadari, tetapi berdampak pada melemahnya nilai agraris dan karakter tradisional yang sebelumnya menjadi dasar kehidupan sosial masyarakat desa.

Membaca fenomena gentrifikasi sosial masyarakat ini menuntut pendekatan yang humanistik. Perubahan lanskap kota tidak mungkin dihentikan dan media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Tantangannya kini terletak pada bagaimana desa dan pertanian bisa dihadirkan kembali sebagai ruang bermakna dalam imajinasi sosial. Narasi perlu diperluas, visual perlu diperkaya, dan pengalaman bertani perlu ditempatkan sebagai praktik bernilai, bukan malah sebagai prasasti sisa kehidupan masa lalu. 

Dengan itu kota dan desa dapat saling menyapa melalui cara pandang yang baru. Generasi muda membutuhkan ruang untuk membangun identitas tanpa kehilangan akar tradisionalnya. Kota boleh berubah dan teknologi boleh melaju, namun ingatan sosial tentang tanah, kerja, dan keberlanjutan tidak semestinya ditinggalkan. 

Masa depan desa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pembangunan atau modernitas kota. Desa juga dibentuk oleh imajinasi kolektif masyarakatnya, dari layar kecil ponsel, dari ruang kota yang semakin estetik, dan dari pilihan hidup yang dianggap layak dibanggakan. Di titik ini, pertanyaan muncul, apakah kemajuan akan terus dimaknai sebagai jarak dari desa dan bentuk tradisional, atau justru sebagai kemampuan merawat akar di tengah perubahan lanskap kota?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top