
Banyumas (14/12) — Pelatihan Menulis Naskah Drama Puisi Berbasis Kearifan Lokal Banyumas sukses digelar pada 7–8 Agustus 2025 di Sekretariat Komunitas Seni KIE BAE, Sokaraja. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang kreatif bagi pegiat seni lokal, tetapi juga menorehkan capaian penting dengan lahirnya buku antologi naskah drama puisi pertama dalam sejarah sastra lokal Banyumas.
Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang diketuai oleh Nila Mega Marahayu, S.S., M.A., dengan anggota Imam Suhardi, S.S., M.Hum., Aldi Aditya, S.Hum., M.Hum., dan Bivit Anggoro P.N., S.Pd., M.Pd. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat skema penerapan IPTEKS yang didanai melalui hibah LPPM Unsoed Tahun 2025.
Sebanyak 15 peserta dari Komunitas Seni KIE BAE mengikuti pelatihan dengan antusias. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai hakikat puisi, struktur naskah drama puisi, teknik penulisan dialog puitis, serta pendalaman nilai-nilai kearifan lokal Banyumas sebagai sumber penciptaan karya sastra. Pelatihan ini menjadi wujud nyata dedikasi akademisi Unsoed dalam merawat dan menghidupkan budaya lokal melalui medium sastra.
Ketua Komunitas Seni KIE BAE, Syaikhul Irfan atau yang akrab disapa I’ank, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan ini tidak hanya memperkaya wawasan dan kreativitas anggota komunitas, tetapi juga mempererat hubungan antaranggota komunitas melalui pertukaran gagasan yang berfokus pada identitas dan budaya Banyumas. “Pelatihan ini memberi energi baru bagi kami untuk terus berkarya dan berbicara tentang Banyumas melalui karya sastra,” ungkapnya.
Meski jumlah peserta belum sesuai harapan, pelaksanaan pelatihan berlangsung lancar dan produktif. Hari pertama diisi dengan pemaparan materi oleh tim pengabdian, sementara hari kedua difokuskan pada praktik penulisan naskah drama puisi dengan pendampingan intensif. Dari proses tersebut, lahirlah sejumlah naskah drama puisi yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal Banyumas.

Karya-karya peserta kemudian dihimpun dalam sebuah buku berjudul Lelakon Banyumas dalam Estetika Puisi: Sebuah Antologi Naskah Drama Puisi yang baru diterbitkan pada awal Desember ini. Para penulis dalam antologi ini antara lain Arif Bagas Adi Satria, Khusnatul Banati, Bayu Suta, Damar Nurani, Gustaf Muhammad Al-Qisthi, Dwi Purnomo, Rifki Irfa’i, dan Khofifatul Awwaliyah. Buku tersebut menyajikan naskah drama puisi dalam dua bab. Bab pertama adalah naskah yang masuk dalam kategori “Estetika Puisi dalam Naskah Drama: Mitos dan Legenda Banyumas” dan pada bab kedua adalah naskah berkategori “Identitas dan Kebudayaan: Lokalitas Banyumas dalam Drama Puisi”.
I’ank menilai kehadiran buku tersebut sebagai momentum penting bagi dunia teater dan sastra Banyumas. “Ini penantian panjang. Selama ini, teman-teman teater masih sering mementaskan naskah era 1970-an. Buku antologi naskah drama di Banyumas, sejauh yang saya tahu, baru hadir melalui buku ini,” ujarnya.
Buku Lelakon Banyumas dalam Estetika Puisi menjadi capaian luar biasa, tidak hanya bagi peserta dan Komunitas Seni KIE BAE, tetapi juga bagi perkembangan sastra lokal Banyumas dan khazanah Sastra Indonesia. Antologi ini tercatat sebagai buku naskah drama puisi berbasis kearifan lokal pertama yang lahir dari kesusastraan Banyumas.
Ketua tim pengabdian, Nila Mega Marahayu, menegaskan bahwa buku ini lebih dari sekadar karya. “Buku ini adalah bingkai dari semangat kolektif untuk terus menghidupkan budaya Banyumas secara kreatif dan kontekstual. Kami berharap karya-karya di dalamnya dapat menjadi pemantik diskusi, sumber inspirasi, sekaligus bahan ajar sastra—baik drama, puisi, hingga kajian semiotika dan kritik sastra,” jelasnya.
Keberhasilan pelatihan dan terbitnya buku ini tidak lepas dari dukungan Komunitas Seni KIE BAE, ketersediaan fasilitas yang memadai, semangat belajar para peserta, serta dukungan penuh dari LPPM Unsoed. Tim pengabdian juga membuka ruang evaluasi melalui kuesioner untuk mengukur dampak program dan peluang pengembangan di masa mendatang.
Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga melahirkan semakin banyak karya sastra yang tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga berperan sebagai penjaga dan pewaris budaya lokal Banyumas di tengah dinamika zaman modern.


dari Banyumas menyapa Indonesia





Pingback: Bahlil, Menteri yang Tak Pernah Sepi Kontrovers - nribun.com