Peluncuran Novel Maetala Land of Gods: Awal Perjalanan Menuju Dunia Para Dewa

Sabtu, 25 Oktober 2025. Udara di kampus UIN SAIZU Purwokerto terasa berbeda, seperti ada aroma semangat yang sedang menebal. Pekan Literasi Masyarakat Banyumas #4 tengah bergulir, membawa riuh yang khas: ramai tapi hangat, penuh orang yang pura-pura tenang padahal matanya tak bisa menyembunyikan rasa ingin tahu. “Kenapa saya belum boleh masuk auditorium?” gumam beberapa dari mereka, sementara di luar, antrean tumbuh seperti kawanan burung yang tak sabar ingin terbang ke sarang gagasan.

Begitu pintu auditorium terbuka, gelombang manusia pun bergerak masuk. Lorong menuju ruang utama disulap menjadi labirin sketsel yang menggantungkan lukisan-lukisan ini semacam perangkap visual yang membuat langkah melambat, kepala menoleh, dan rasa penasaran makin menebal.

Di ujung lorong itu, tersaji peluncuran buku “Maetala: Land of Gods”, bukan hanya sebagai acara buku, tapi sebagai ikhtiar memperkenalkan penulis muda Banyumas dan sekitarnya serta ajang merapal doa-doa BIL Fest. Sebelum sang penulis, Amar Marruf, naik ke panggung dengan gaya pecha kucha yang cepat dan sedikit nakal, seorang penari cilik bernama Bakah Omera terlebih dulu menghipnotis ruangan. Tubuh mungilnya menari lincah di tengah panggung, seperti dewa kecil yang menandai awal perjalanan menuju dunia para dewa. Dan jika Anda sempat teringat pada sosok Siwa dari kartun di televisi, mungkin memang itu niat tersembunyinya panitia.

Yang menarik, tata ruangnya tak seperti biasanya. Panggung di tengah, kursi melingkar bukan sekadar tempat duduk manis, melainkan arena pertarungan ide. Auditorium UIN SAIZU sore itu menjelma menjadi ruang eksperimental yang berani menantang pakem. Panitia tampak bersenang-senang, seolah ingin menegaskan: literasi tak harus sopan-sopan amat. 

Ketika Amar akhirnya mengambil alih panggung, Dalam tempo cepat khas pecha kucha, ia melontarkan gagasan demi gagasan tentang dunia yang dibangunnya di dalam buku. Ia memulai dengan kalimat yang membuat banyak kepala menoleh dan alis terangkat:

“Ini buku fiksi, tapi kadang orang yang sudah membacanya justru bertanya — ini fiksi, atau sejarah yang benar-benar terjadi?”

Dari situ, Amar membuka tabir. “Maetala: Land of Gods” bukan sekadar fantasi penghibur. Ia membalut sejarah Majapahit dengan cara yang segar bukan dengan debu dan kronik, tapi dengan imajinasi yang menggoda. Ia mengajak pembaca menelusuri masa lalu seperti menjelajahi dunia baru: hidup, misterius, dan penuh kemungkinan.

Amar juga menyinggung soal leluhur Nusantara yang terkenal sebagai pelaut tangguh bukan hanya penakluk lautan, tapi juga pembawa pengetahuan, kisah, dan makna lintas benua. Di ujung presentasinya, ia menggoda nalar audiens dengan teori dunia hollow, ide bahwa di balik bumi yang kita pijak, mungkin ada lapisan lain, ruang tersembunyi tempat sains, mitos, dan spiritualitas saling bertemu.

Purwokerto bukan cuma kota kecil dengan banyak mahasiswa. Ia tampak seperti kota yang sedang beranjak dewasa dalam hal literasi. Dan mungkin, untuk sesaat, sejarah, imajinasi, dan kenakalan intelektual benar-benar duduk berdampingan di satu panggung.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top