
Kie Art Projects menggelar pameran seni rupa karya pegiat seni Purbalingga. Ada hal yang menarik ketika mendengar pameran ini digelar pada tanggal 10-18 Agustus 2025, yaitu lokasinya. Mereka bekerja sama dengan Braling Grand Hotel Purbalingga. Hotel bintang 4 pertama di Purbalingga. Pameran seni ini bertajuk “The World of Happiness Art Exhibition”. Pameran ini memajang karya pegiat seni Purbalingga, diantaranya: Alexa, Aprianto, Annisa, Budi, Darmawan, Gita, Novanda, Rakhma, Sutarmo, Zaly.
Bagi penikmat atau pegiat seni rupa mungkin sudah biasa mendengar pameran seni rupa di hotel. Tapi ini di daerah yang aktivasi seni rupanya belum begitu semarak. Tentu model ini menarik untuk menjadi perbicangan, bukan sekadar mempertanyakan. Karena setiap pameran karya seni rupa, memiliki model tersendiri dalam membawa karyanya ke ruang publik. Dan permodelan seperti apapun ruang yang dipilih, bukanlah untuk bahan perdebatan. Karena akan ada perbedaan cara para pegiat seni melakukan aktivasi terhadap karyanya.
Seni dan Kolaborasi
Pegiat seni tidak mungkin bisa bekerja sendiri dalam berkesenian. Banyak pihak yang bisa diajak untuk tumbuh bersama. Selain dengan sesama pegiat seni, langkah Kie Art Projects berkolaborasi dengan sektor industri bisa menjadi sebuah pelajaran tersendiri. Dan sektor yang kali ini dipilih oleh Kie Art Projects adalah industri perhotelan.
Kolaborasi dalam aktivasi pameran seni dapat dengan siapapun. Asalkan masing-masing dapat mendudukan gagasan dan nilai yang dibawa sesuai dengan porsinya. Karena kolaborasi bukan sekadar meleburkan antar gagasan dan nilai menjadi satu. Tetapi ada iklim saling dukung, sehingga masing-masing bisa tercapai tujuannya. Sekali lagi, kesenian tidak bisa berjalan sendiri. Publik bisa dilibatkan. Apalagi yang memiliki fasilitas pendukung dalam berkesenian.

Mencerna Nuansa Seni Kie Art Projects
Berkesenian tentu ada tujuan yang ingin digapai. Hanya saja tujuan-tujuannya itu mungkin bisa ditapaki melalui tahapan-tahapan. Misalnya memperkenalkan seni gambar kepada anak-anak, bukan menunjukkan bahwa hasil gambarmu ini bisa dijual. Karena dengan melakukan aktivitas seni adalah melakukan aktivitas kreatif, sehingga kerja otak kanan akan berkembang. Anak akan berlatih untuk berimajinasi dan belajar untuk melakukan eksplorasi. Sehingga kelak ada bekal dalam menghadapi kehidupannya. Anak akan lebih siap menghadapi dunia yang semakin berkembang.
Setelah mengunjungi pameran Kie Art Projects, ada nuansa yang bisa kita resapi. Nuansa itu mungkin merupakan jelmaan dari visi Kie Art Projetcs. Pertama, para pegiat karya yang memajang karyanya, mereka berhasil mengkonsep “wacana” apa yang akan mereka tuangkan dalam karyanya. Mereka memiliki takrif tentang “kebahagiaan” dalam hidupnya masing-masing. Kemudian tertuang dalam goresan dan pencampuran warna di atas kanvas. Misalnya Zaly, dalam karyanya ia merepresentasikan kemakmuran dalam karya-karyanya yang berbentuk koin-koin emas. Kemudian Gita, yang dalam karyanya adalah hasil dari ia memaknai kebahagiaan yang hakiki. Kemudian menjadi sebuah jalan spiritual penyadaran bahwa kita ini siapa sebenarnya?
Kedua, tentang kolaborasi yang dilakukan. Karena tidak dipungkiri, selain “wacana” dan respon publik terhadap sebuah pameran karya, ada keinginan pegiat seni jika karyanya menemukan jodohnya. Sehingga ketika melihat kolaborasi Kie Art Projects dengan Braling adalah salah satu model yang dipilih sebagai cara untuk mengapresiasi karya seni. Tidak dengan sanjungan atau tepuk tangan. Tapi juga menemukan “perjodohan” karya di dalamnya.

dari Banyumas menyapa Indonesia




