Mengangkat Panggilan Jum’at Call Gus Mus

Ajibarang (9/8). Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) MWC NU Kecamatan Ajibarang yang digawangi Mahbub Fuad Wibowo menggelar acara perdana. Acara tersebut bernama Kajian Afkar. Tema yang menjadi awal dari perjumpaan kader muda NU Ajibarang ini adalah “Membaca Gus Mus dari Pinggiran”. Acara tersebut menghadirkan Rujito, M.Sos. atau yang memiliki nama pena Djito el Fateh sebagai pembicara. Ia adalah penulis buku “Jum’at Call: Gus Mus Menyapa Umat”.

Peserta yang hadir disambut dengan kehangatan kopi, teh, kacang rebus, dan pisang goreng. Suasana makin terasa hangat ketika memasuki Padepokan Lingsir Wengi Ajibarang Kulon. Acara dimulai jam 8 malam dan dipandu dengan santai oleh Kiayatul Akhyar. Setelah acara dibuka dilanjutkan dengan sambutan yang hangat dari Mahbub Fuad Wibowo.

Aktivitas literasi kader muda NU Ajibarang ini patut diapresiasi. Karena Mahbub menyampaikan dalam sambutannya bahwa Kajian Afkar ini adalah rangkaian dari buletin Afkar yang sudah terbit 3 kali. Isi dari buletin Afkar adalah mengulas tentang kondisi terkini dan ide-ide dari generasi penulis muda NU.

Kajian Afkar dikemas dengan santai. Sehingga tidak monoton dan hanya pembicara yang diberikan ruang dan waktu. Peserta yang hadir diberikan juga waktu untuk berbicara. Jadi suasana lebih hidup karena berisi tanya-jawab dan saling menanggapi, baik antara pemateri dan peserta atau antar peserta. Jadi ruangan hanya tidak terisi manusia saja. Tapi obrolan dan gagasan.

Djito el Fateh selaku pemateri memberikan pantikan awal tentang penamaan “Jum’at Call” oleh Gus Mus sendiri dalam postingannya baik di Twitter -sekarang menjadi X- maupun Instagram. Karena salah satu peserta yang hadir yaitu Slamet Ibnu Ansori -yang juga ketua MWC NU Ajibarang- bertanya apakah Jum’at Call adalah Gus Mus sendiri yang menamai atau ada tim di belakangnya.

Menurut Djito el Fateh, andaikan bukan Gus Mus yang menggunakan nama “Jum’at Call”, mungkin tidak ada “daya magisnya”. Ia menambahkan bahwa Gus Mus meskipun sudah kiyai sepuh, namun tetap menggunakan media sosial sebagai salah satu cara dakwahnya. Dan akunnya dipegang oleh Gus Mus sendiri. Meskipun ada akun resmi lain yang dipegang oleh tim.

Berawal dari salah satu cara dakwah Gus Mus itulah, Djito el Fateh tertarik untuk melakukan penelitian sebagai tugas akhir S1 dan juga Pascasarjananya. Selain itu, Djito el Fateh juga dapat memahami tentang karakter Gus Mus yang tidak berubah. Baik saat Ia pertama kali bertemu langsung pada tahun 2008  sampai sekarang. Gus Mus tidak berubah baik itu pemikirannya dan laku keislamannya. Tetap berdakwah secara humanis, berpihak kepada kemanusiaan tanpa benturan dengan yang berbeda dan tidak menunjukkan konflik yang terbuka.

Melalui “Jum’at Call” sebenarnya Gus Mus menunjukkan bahwa kehadirannya di tengah masyarakat tetap ada. Menurut Djito el Fateh, seseorang yang sudah memiliki sifat kenabian, hidupanya tidak akan tenang jika melihat situasi di sekitarnya tidak baik-baik saja dan tidak bahagia. Jadi meskipun Gus Mus sudah melepaskan diri dari jabatan atau baju politik tertentu, tapi pemikiran dan pesan moralnya tetap mempengaruhi kebijakan lokal maupun nasional.

Menurut penuturan salah satu sesepuh NU Ajibarang yang hadir pada acara tersebut, Gus Mus pernah mengisi pengajian di Ajibarang. Pengajian itu diselenggarakan pada tahun 1985 di Pancasan, Ajibarang setelah Muktamar NU.

Selain membicarakan tentang “Jum’at Call”, dalam acara tersebut juga ada pembacaan puisi yang ditulis oleh Gus Mus sejak tahun 1987 yang berjudul “Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana”. Pembacaan puisi dilakukan oleh salah satu peserta yaitu Shodiq Ma’mun. Puisi tersebut yang secara isi dan pesannya, masih tetap relevan dengan zaman sekarang. Menurut Djito el Fateh bahwa pemilihan kata dalam puisi Gus Mus tak lekang oleh zaman.

Acara seperti Kajian Afkar ini menarik jika dilakukan secara rutin. Baik membedah tokoh dengan pemikirannya. Atau isu-isu yang berkembang. Karena acara yang dikonsep santai dan memberikan ruang dan waktu untuk peserta ikut berbicara akan lebih menarik bagi generasi muda. Karena tidak hanya mengumpulkan manusia, tapi juga ide dan gagasannya.

Dengan model acara seperti itu gagasan atau ide-ide para tokoh baik itu agama maupun yang lain, dapat terjaga dan generasi muda bisa mengambil pelajaran, meskipun dalam forum yang santai. Karena dengan begitu generasi muda memiliki bekal dalam menjalani kehidupannya.

Pesan Gus Mus kepada generasi muda: “Anak muda itu berfikir apa saja boleh, asalkan tidak berhenti untuk belajar”. Karena kebodohan akan datang ketika kita berhenti untuk belajar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top