Menyintas Batas Formalitas Perkenalan Mahasiswa Baru

Pada malam yang irit bintang, seorang teman yang katanya hendak kuliah di Jogja, dan baru saja lulus di salah satu kampus yang tak perlu saya sebut mereknya, mengontak saya lewat WhatsApp; “Ngopi di tempat biasa” karena saya merasa sudah iseng sendiri, tanpa berpikir lama saya membalasnya sebagaimana bahasa persetujuan anak sekarang “Gass!”

Sesampainya di warung kopi, kami pun ngobrol ngalor ngidul. Tapi ada satu pertanyaan saya, yang membuat obrolan kami agak serius (jika dibandingkan dengan omongan pejabat) “Kapan kamu Perkenalan Mahasiswa Baru (Selanjutnya saya singkat PMB saja biar gak capek)?” “Tinggal menghitung jari” jawabanya, dan jawaban itu masih absurd, barangkali seperti hidupnya. “Tapi aku masih sanksi terhadap prosuder sistem yang cukup ribet; disuruh buat video dengan pakai ini itu,” ujarnya. Saya tanggapi “Kan sekalian biar lengkap dengan keruwetan hidupmu.”

Beberapa puluh menit kemudian, sebelum pulang dari warung kopi, saya mencoba mengetik dengan suasana serius, hingga gaya penulisan saya mesti diubah terlebih dahulu. Baiklah. Kita tahu, PMB kerap diklaim sebagai momen berharga. Tapi jika ia bisa menjadi titik tolak yang membuka wawasan, menyalakan rasa ingin tahu, dan menanamkan nilai-nilai akademik sejak hari pertama. Naumun apa yang seharusnya menjadi ruang pembuka menuju dunia intelektual juga bisa dibingkai secara dangkal—karena prosedural, simbolik, bahkan kosmetik.

Salah satu yang kini lazim ditemui adalah kewajiban membuat video perkenalan dengan format seragam. Mahasiswa baru diminta menyusun video sesuai template tertentu, mengenakan pakaian tertentu, menyampaikan isi yang kurang lebih sama, dan mengunggahnya ke media sosial dalam waktu tertentu.

Maka ada yang perlu disoroti, misal; mengapa perkenalan—yang mestinya bersifat personal dan reflektif—malah dibentuk secara massal dan seragam? Bukankah yang kita harapkan dari pendidikan tinggi adalah keberanian menjadi berbeda dan kemampuan berpikir secara mandiri? Ironisnya, sistem perkenalan ini justru mengabaikan dua hal itu.

Mahasiswa seakan tidak diajak berpikir, melainkan mengikuti (mestinya kan sami’na wa analisis). Tidak diberi ruang untuk menyampaikan siapa dirinya dengan cara yang jujur, melainkan diarahkan agar tampil “sesuai standar.” Format yang seragam justru menumpulkan ekspresi. Apa yang tersisa dari sebuah perkenalan ketika semua orang tampil dalam bingkai yang sama?

Di titik inilah pertanyaan mendasar muncul; budaya seperti apa yang sedang dibentuk oleh kampus dan para panitia? Apakah kampus sedang mengajak mahasiswa baru memasuki ruang berpikir dan berdialog? Atau hanya memoles citra agar terlihat tertib, rapi, dan tanpa “gangguan”? Jika sedari awal mahasiswa dikenalkan dengan cara seperti ini, besar kemungkinan mereka mengira bahwa menjadi bagian dari universitas adalah tentang mengikuti alur, bukan membentuknya.

Dalam Pedagogy of the Oppressed atau terjemahan bahasa Indonesianya, Pendidikan Kaum Tertindas, Paulo Freire menyintas dengan memberikan satire-an terhadap sistem pendidikan yang membungkam peserta didik lewat praktik-praktik yang tampak wajar. Ia menyebut pendidikan gaya bank, di mana mahasiswa diposisikan sebagai wadah kosong yang tinggal diisi. Meskipun PMB bukan kelas formal, praktik orientasi yang membatasi ekspresi mahasiswa menunjukkan pola yang tak jauh berbeda; mahasiswa dianggap belum tahu apa-apa dan harus dituntun, bukan diajak berdialog.

Padahal, kampus seharusnya menjadi tempat pertama di mana mahasiswa belajar mengenali suaranya sendiri—belajar merumuskan pikiran, menguji argumen, dan menyatakan diri dengan cara yang otentik. PMB bisa menjadi ruang awal untuk itu, jika diberi bentuk yang lebih terbuka. Misalnya, dengan memberi kebebasan format dalam perkenalan, mendorong penulisan reflektif, atau menyelenggarakan forum-forum kecil yang benar-benar memberi ruang untuk bicara dan mendengar.

Dengan kata lain, tentu struktur tetap dibutuhkan dan akan selalu dibutuhkan. Tapi struktur yang baik mesti memberi arah tanpa membatasi makna. PMB tidak harus dibatalkan, kecuali rektor mengatakan; ada wangsit agar PMB tak usah dilanjutkan, seperti kejadian beberapa tahun silam. Di salah satu kampus yang ada di Yogyakarta. PMB perlu diarahkan ulang, bukan semata-mata hanya perkenalan administratif, tetapi sebagai proses masuk ke dunia intelektual yang menghargai pikiran, bukan hanya performa belaka.

Orientasi mahasiswa baru adalah saat yang tepat untuk menanamkan bahwa kampus adalah ruang berpikir, bukan ruang pencitraan. Maka, perkenalan yang baik adalah yang memberi ruang bagi keberagaman ekspresi dan kejujuran isi, bukan keseragaman tampilan. Jika tidak, kita hanya sedang mencetak barisan mahasiswa yang pandai menyesuaikan diri, tapi asing terhadap makna akademik yang sesungguhnya. Dengan berakhirnya tulisan ini, saya pun kembali memecahkan keheningan warung kopi dengan mengatakan “Hidup Mahasiswa!” Kami pun tertawa.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top