
Di era digital fenomena viralitas media sosial telah mengubah cara publik memahami kebenaran. Satu unggahan sederhana di platform daring dapat menggeser persepsi masyarakat lebih cepat daripada laporan riset yang disusun dengan metodologi ketat. Dalam ekosistem komunikasi modern, persepsi sering kali lebih berkuasa daripada data. Realitas ini memperlihatkan bahwa kekuatan informasi kini tidak lagi ditentukan oleh kedalaman riset, melainkan oleh kemampuan pesan untuk menggugah emosi dan menciptakan keterhubungan sosial
Sosial media merupakan wadah informasi yang bergerak cepat, dengan demikian kemudahan dalam mendapatkan informasi bisa didapat dengan mudah. Namun jika dilihat dari sisi lain bisa juga menimbulkan hal negatif. Unggahan sosial media yang viral dapat mengubah persepsi publik dengan kecepatan yang luar biasa. Fenomena seperti ini menunjukan bahwa persepsi sering kali lebih cepat membentuk opini dibandingkan kebenaran faktual.
Dalam sisi ilmiah, kebenaran lahir dari proses riset yang sistematis, Ecker, U. K. H., Lewandowsky, S., et al. dalam artikelnya yang berjudul The Psychological Drivers of Misinformation Belief and its Resistance to Correction mengatakan bahwa ruang digital mekanisme viralitas yang menggiring emosi, estetika, dan daya tarik naratif sering menentukan wacana publik. Karena itu, kemampuan tiap individu dalam menyaring informasi menjadi pondasi dasar dalam membedakan klaim populer dan empiris.
Berita palsu (false news) menyebar jauh lebih cepat dan luas daripada berita sebenarnya, hal tersebut didorong oleh emosional dan kebaruan yang menyebabkan informasi keliru lebih cepat menyebar, Fact Checking menjadi alat dalam meminimalisir klaim yang salah, dampaknya masih bergantung pada konteks sosial dan waktu penyampaian, serta framing yang dibawa. Bahasa serta narasi menjadi alat dalam sebuah penyampaian sebuah informasi di mana ketika ada satu kejadian dibawakan dengan dua bahasa yang berbeda maka akan menimbulkan framing yang berbeda juga, keberpihakan audiens atau publik yang menerima informasi itu bergantung pada apa yang mereka dapat terlebih dahulu.
Fenomena tersebut menggambarkan dalam modernitas simbol dapat mengubah realitas itu sendiri. Kondisi seperti itu disebut sebagai hiperrealitas yaitu di mana yang lebih viral akan dianggap lebih “nyata” dibandingkan fakta yang ada. Dengan demikian struktur penyebaran informasi seperti itu menyebabkan individu terpapar pada sumber yang memperkuat “keyakinannya”. Dalam dunia yang dipenuhi dengan tanda dan representasi, sesuatu dianggap nyata bukan karena kebenarannya, tetapi karena frekuensi kemunculannya di ruang publik. Faktor algoritma menjadi pengaruh dalam penerimaan informasi, di mana algoritma bekerja sesuai dengan preferensi pengguna.
Struktur jaringan informasi yang tertutup ini menghasilkan apa yang disebut gelembung kognitif (cognitive bubble), yaitu kondisi ketika seseorang hanya terpapar informasi yang sesuai dengan pandangan pribadinya. Dalam konteks politik pengetahuan, fenomena ini berbahaya karena mengikis kemampuan reflektif masyarakat dalam membedakan antara opini dan bukti empiris. Kebenaran tidak lagi menjadi hasil pencarian kolektif, melainkan produk dari kesepakatan semu yang dibentuk oleh algoritma. Ketika masyarakat semakin terbiasa mempercayai apa yang mereka ingin dengar, maka riset ilmiah kehilangan kekuatannya sebagai sumber otoritatif dalam membentuk opini publik. Dalam situasi seperti ini, kecepatan dan keindahan narasi lebih berharga daripada kedalaman argumentasi ilmiah.
Cara dunia akademik berkomunikasi menjadi permasalahan mendasar lainnya. Bahasa ilmiah yang digunakan dalam laporan penelitian sering kali kaku, penuh istilah teknis, dan sulit dipahami oleh masyarakat umum. Hal ini menyebabkan jurang yang lebar antara hasil riset dan pemahaman publik.
Efektivitas komunikasi ilmiah tidak hanya ditentukan oleh akurasi data, melainkan juga oleh kemampuan pesan tersebut menyentuh sisi emosional dan sosial audiens. Dengan kata lain, kebenaran yang tidak dikomunikasikan secara menarik berisiko diabaikan, sementara kebohongan yang disampaikan dengan gaya meyakinkan justru mendapat tempat di hati publik. Maka dari itu, kemampuan peneliti untuk menyampaikan temuan ilmiah secara inklusif dan komunikatif menjadi bagian integral dari tanggung jawab etis keilmuan.
Kekuatan media sosial tidak sepenuhnya harus dilihat menjadi ancaman. Namun ia juga bisa menjadi ruang strategis untuk memperluas pengetahuan ilmiah. Adaptasi bahasa menjadi faktor para akademisi dan peneliti untuk menyampaikan informasi yang lebih mudah dicerna oleh publik. Strategi komunikasi juga diperlukan seperti halnya memperhatikan sisi psikologis audiens: bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka menyerap informasi yang dibaca, dan bagaimana cara mereka untuk percaya terhadap sebuah informasi. Verifikasi dan validasi menjadi hal penting dalam mebangun ketahana publik terhadap misinformasi dalam setiap informasi yang publik konsumsi.
Menjadi penulis, peneliti, atau literatus hari ini berarti menjadi penjaga kebenaran yang harus peka terhadap dua dimensi sekaligus: metodologis dan sosial. Naomi Oreskes dan Erik Conway (2010) dalam Merchants of Doubt mengingatkan bahwa distorsi ilmiah sering lahir bukan karena kurangnya data, melainkan karena kepentingan ideologis yang mengeksploitasi keraguan publik. Di titik inilah etika literasi dan keberanian intelektual diuji. Justifikasi tanpa riset dan tanpa indikator hanyalah retorika kosong yang mudah runtuh ketika diuji oleh data.
Ketika publik dihadapkan pada dua pandangan yang saling bertolak, mereka perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah klaim ini memiliki dasar data? Siapa yang mengatakannya? Bagaimana metode pembuktiannya? Pendekatan reflektif ini akan membentuk masyarakat yang tidak hanya reaktif terhadap informasi, tetapi juga selektif dalam mempercayainya. Dengan begitu, kebenaran ilmiah tidak lagi menjadi milik segelintir akademisi, melainkan kesadaran bersama yang tumbuh di tengah masyarakat digital yang kritis dan sadar bukti.
Rifqi Farhan Luthfil Khaliq, saat ini menjadi mahasiswa akhir yang aslinya lebih minat kebidang industri kreatif seperti editing, desain, namun sekarang sedang berjalan diarus baru yaitu dunia literasi. Sekarang juga menjadi staff member sosial media spesialis di Logawa.id. Ia dapat disapa melalui Instagram: @rripqiiii




