Persepsi Masyarakat Indonesia yang Masih Keliru Tentang Pendidikan

Membicarakan bangku perkuliahan pasti tidak jauh dari pembahasan pendidikan. Tetapi di sini saya bukan membahas tentang pendidikan secara menyeluruh melainkan esensi dari pendidikan itu. Namun terkadang banyak persepsi masyarakat yang menyatakan bahwasanya kuliah itu seperti menjadi pencetak mesin maupun robot perusahaan dan lebih toxic-nya yaitu mereka beranggapan jika sudah lulus sarjana berarti profesinya juga harus bagus dan memiliki gaji yang tinggi. Banyak persepsi yang seperti itu. Hal tersebut menjadi sebuah budaya bahwasanya setelah lulus menjadi sarjana pasti mudah mencari pekerjaan. Padahal realitanya tidak sesimpel yang digambarkan mereka.

Nah, di sini saya akan berpendapat dan meluruskan persepsi tentang dunia pendidikan. Pendidikan sendiri itu bukan alat untuk mencetak robot tetapi sebuah wadah untuk menciptakan manusia menjadi lebih kritis, kreatif, dan inovatif yang alhasil menjadikan manusia itu menjadi bijaksana dalam memutuskan dan menyimpulkan arti hidup di dunia ini. Seperti halnya yang disampaikan oleh Tan Malaka yaitu “Pendidikan itu mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan.”

Dari pendapat yang diutarakan Tan Malaka bahwasanya dengan menempuh jalur pendidikan atau kalau bahasa santrinya itu ngaji dapat mengetahui ilmu secara mendalam, membuat diri menjadi penasaran, dan memperkuat rasa ingin tahu yang tinggi sehingga muncul pertanyaan-pertanyaan yang kritis hingga menemukan jawaban yang lebih induktif (general sampai spesifik), serta membuat hati kita itu tidak keras. Maksudnya tidak keras di sini malah menjadikan hati itu bisa memahami suatu individu lain dan memperlakukan manusia selayaknya manusia tanpa adanya eksploitasi terhadap manusia maupun makhluk yang lain.

Marilah kita renungkan bersama bahwasanya pendidikan terutama di perkuliahan itu adalah wadah untuk menciptakan SDM yang berkualitas dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain. Dan itulah pondasi yang harus kita terapkan bersama sebagai lulusan dari perguruan tinggi.

Pendidikan juga merupakan suatu proses untuk mengembangkan kemampuan berpikir, keterampilan, dan menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma kebajikan. Dalam artian, dengan menempuh jalur pendidikan semua individu boleh meningkatkan bakat-bakat yang mereka punya baik dari segi akademik maupun non akademiknya. Di sisi lain, juga berhak mengetahui ilmu pengetahuan seluas-luasnya agar bisa menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan tanpa adanya penindasan. Pendidikan juga membentuk karakter dan tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma kebajikan seperti halnya kejujuran, disiplin, tanggung jawab, amanah, dan rasa empati yang dalam.

Terus bagaimana dengan orang-orang yang sudah menempuh pendidikan tapi masih menyalahi aturan maupun norma tersebut dan contohnya sudah banyak, tuh yang menjabat negara? 

Nah berarti di situ, bukan pendidikannya yang salah tetapi dari individu tersebut yang harusnya dikritisi. Dulu saat belajar, mereka benar-benar menggali ilmu pengetahuan atau tidak. Apakah mereka sekolah hanya sebagai formalitas yaitu berangkat sekolah hanya karena takut dimarahi orang tua jika tidak berangkat, sekolah hanya untuk mendapatkan uang saku, atau sekolah hanya untuk mencari pasangan? Jika mereka benar-benar sekolah untuk belajar dengan sungguh-sungguh, kemungkinan melakukan hal yang seperti itu sangatlah kecil.

1 komentar untuk “Persepsi Masyarakat Indonesia yang Masih Keliru Tentang Pendidikan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top