
Sebagian penulis mungkin ada yang gelisah, resah, dan cemas atau bahkan takut ketika tulisan-tulisannya dibedah secara mendalam dan terperinci melalui teori-teori kepenulisan yang dakik-dakik itu. Mereka semacam sedang mengidap kekhawatiran yang serupa tahu bulat (datang secara dadakan). Namun, tak semuanya penulis demikian. Ada juga penulis-penulis yang justru senangnya ngungkuli (melebihi) lebaran, sewaktu karyanya dibedah dan dikritisi secara mendetail. Senangnya melebihi dapat amplop berisikan “Soekarno-Hatta” di saat ajang lebaran.
Mungkin seperti itu, yang sedangkal saya pahami dan cermati selama menyelami dunia kepenulisan -yang sebenarnya belum dalam-dalam amat. Barangkali spekulasi saya ngawur, silakan dibantah semaksimal mungkin. Karena memang saya menulis artikel ini juga secara sengaja memberanikan seraya memberikan ruang terbuka kepada kawan sekalian untuk menuagkan saran, tanggapan, kritik, dan kebebasan untuk maidho (baca: menghujat) sekaligus di kolom komentar. Jujur, baru-baru ini, saya memberanikan diri untuk terbiasa dengan kritikan cum cacian, khususnya dalam hal tulisan.
Bagi saya, hal ini -keberanian menanggung kritikan- tidak semata-mata muncul begitu saja. Tentunya ada sebab yang melatarbelakanginya. Salah satunya tak lain adalah event bedah buku puisi saya, “Resep Bahagia” (Jejak Pustaka, 2025) yang diadakan oleh kerja kreatif via kolaborasi antara komunitas Tukar Buku Tukar Cerita (TBTC), penerbit Mata Nusantara, TBM Kalimosodo, dan Unsoed Cafe. Mereka berjibaku untuk mengupayakan agar buku saya dibedah, dikuliti, dikritisi, dan diapresiasi. Sungguh merupakan upaya yang perlu diapresiasi. Oh iya, ada hal yang perlu dingat: bahwa bedah buku atau tulisan tidak serta-merta mengkritik buku atau tulisan tersebut. Ada sisi-sisi lainnya, seperti apresiasi, saran dan masukan, atau bahkan bisa dijadikan momentum untuk terbitnya ide-ide baru yang lebih seru dan menarik untuk dieksplorasi.
Yaumul Hisab Sughro bagi Penulis
Sebenarnya, saat acara ini digelar pun. Saya masih dalam kondisi berselimut kegelisahan dan dibayang-bayangi oleh ketakutan akan kritikan-kritikan pedas yang nyeri-nyeri sedap dari para pembedah dan spektator yang menyimak-menyaksikan. Waktu itu, bisa dibilang saya masih model-modelan penulis yang takut kritikan. Sampai-sampai saya menganalogikan “hari bedah buku” sebagai “yaumul hisab sughro” (hari penghitungan amal/pertanggungjawaban kecil-kecilan). Karena yang qubro (besar), ya tentu di akhirat nanti. Ini sebatas rekaan-rekaan saya saja. Ojo dipikir jeru-jeru. Ndaan ngelu!
Tapi perlu diketahui, takut kritikan bukan berarti menolak kritikan atau anti kritik. Saya sendiri gamang kritikan, bukan karena kritikan itu sendiri, sebenernya. Namun lebih ke perihal menghidupkan kembali pijar semangat yang mendadak redup sewaktu terhempas kritikan.
Kritikan bisa membuat sesorang itu down alias terpuruk,
tapi bisa juga up alias melejit.
Sementara saya masih kadang naik, kadang juga turun. Tapi lebih sering turunnya sih. Kalau kata Soekarno dalam pidatonya, hidup memang seharusnya perlu up and down. Hehe.
Sewaktu bedah buku “Resep Bahagia” pada Sabtu, 26 Juli 2025. Lebih tepatnya malam Minggu. Sedari awal berangkat ke acara tersebut saya ambil posisi sejak dini untuk menjadi pembelajar. Seorang yang sedang belajar, jika kok melakukan kesalahan maka masih dimaafkan dan tidak dianggap sebuah kesalahan yang fatal-fatal banget dan ngisin-ngisini. Tapi memang demikian adanya. Saya dalam menulis puisi sejujur-jujurnya dan sesuer-suernya masih dalam fase belajar. Lebih-lebih saya juga bukan orang yang lahir dari rahim program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Jadi jangan heran jika menemukuan puisi, kata, atau kalimat yang gatheli (baca: aneh) dalam buku “Resep Bahagia” dan tulisan-tulisan saya lainnya. Adapun puisi-puisi saya kok tampil di koran dan media online – kalau menurut pembedah, Bayu Suta Wardianto – itu karena faktor keberkahan.
Kritikan Pedas Pembedah
Sebenarnya kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh pembedah sangatlah beragam. Namun pastinya, tulisan ini akan sangat menjadi panjang dan saya pun kewalahan menulisnya. Jadi, sebagai penulis yang bukunya dibedah dengan saksama, ada beberapa kritikan yang saya soroti. Di antaranya, pembedah dalam hal ini Bayu Suta Wardianto, seorang dosen dan penulis sastra, mengkritik puisi-puisi dalam “Resep Bahagia” sangatlah biasa dan tidak menarik. Karena baginya, puisi yang bagus adalah puisi yang mengandung unsur perlawanan atau satire yang memotret sebuah kecurangan atau kezaliman. Jadi, saya disarankan untuk menulis puisi-puisi yang bernafaskan realitas sosial dan berbau-bau kritik atau sindirian terhadap praktik-praktik penguasa atau siapapun yang nir-moralitas dan nir-akal sehat. Setidaknya puisi-puisi demikian – sekalipun terkesan kecil nilainya – menunjukkan keberpihakkan kepada mereka yang tertindas dan dibaikan.
Tak hanya itu, moderator di acara ini yang sekaligus menghasrati untuk gojloki (baca: meledek) saya, dalam hal ini Rasman Maulana, penggagas forum TBTC dan pemilik penerbit Mata Nusantara, juga turut menguliti “Resep Bahagia.” Dia menganggap puisi-puisi saya, kebanyakan mengandung repetisi yang seharusnya hal ini tidak terlalu hadir dalam puisi. Sebab baginya (ini kesimpulan saya pribadi), puisi adalah pemadatan kalimat atau pemerasan kalimat -saya jadi kasihan melihat nasib kalimat yang diperas-peras.
Menyikapi segenap kritikan tersebut, saya enteng-enteng saja. Karena dibekali oleh Gus Dur, “Gitu aja kok repot” dan dibekali oleh Fahruddin Faiz, “Semuanya akan berlalu.” Jelas itu semua, baik kritik dan saran, bagi saya menjadi pembelajaran yang sangat bermakna untuk kedepannya. Namun jika boleh merespon lebih lanjut perihal puisi, saya sedikit ingin menambahkan demikian: bagi saya puisi adalah seni. Sedang seni tak lain adalah ekspresi. Jadi silakan saja berekpresi sesuka-sukanya. Jangan terpaku dan terkerangkeng oleh teori-teori puisi yang fafifu itu. Memang puisi saya tidak yang berat-berat. Hal ini karena asumsi saya pribadi, “Sudahlah jangan bikin puisi-puisi yang gelap dan mustahil dipahami. Hidup sudah gelap, jangan ditambah dengan puisi-puisimu.”

Respon Spektator
Spektator pada acara bedah buku ini sebagaimana pada edisi TBTC sebelum-sebelumnya, yakni terdiri dari beragam kalangan. Ada dari mahasiswa, guru, pegiat literasi, penggemar buku, dosen, dan masyarakat umum, Oh iya, perihal TBTC, ini merupakan edisi yang ke-12. Sedangkan TBTC sendiri digelar setiap dua minggu sekali atau dalam satu bulannya, ada dua pertemuan yang dilangsungkan pada malam Minggu. Bagi teman-teman yang menghasrati untuk merapat silakan pantengin akun Instagramnya @tukarbukutukarcerita.
Sebagai penulis yang bukunya dibedah saya merasa senang mendapatkan respon dari spektator atau penonton yang hadir. Mereka ada yang merespon dengan memberikan saran dan masukan. Ada juga yang menanggapi dengan sedikit menggelitik via kritik. Ada juga yang mengapresiasi. Ada juga yang melayangkan pertanyaan-pertanyaan. Semuanya menarik sejauh kita mampu mengambil nilai positifnya. Salah satu refleksi pribadi saya adalah setiap manusia, setiap masing-masing dari kita itu mempunyai tanggapan dan responnya masing-masing akan suatu karya. Hal ini wajar adanya. Kita sebagai penulis tugasnya menulis dan berusaha semaksimal mungkin.
Urusan komentar orang lain, janganlah terlalu dipikirkan dan dibuat pusing. Karena itu di luar kendali kita. Saya menjadi teringat akan konsep dikotomi kendali dalam buku Filosofi Teras;
“Bahwa tidak semua hal itu ada dalam kendali kita”.
Melainkan ada juga hal-hal yang berada di luar kendali kita. Suatu bentuk kekonyolan, jika kita stres dan pusing sebab terlalu memikirkan hal-hal yang ada di luar kendali kita, seperti halnya tanggapan, asumsi, persepsi, dan komentar orang lain. Terlampau memikirkan hal-hal yang di luar kendali kita itu justru mengaburkan fokus kita terhadap hal-hal yang berada dalam kendali kita. Bolehlah saya diangkat jadi filsuf tahu bulat. Dadakan. Eaksss…
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




