Fenomena FOMO di kalangan Gen-Z dan Cara Mengatasinya

Di zaman sekarang media sosial sudah menjadi kehidupan sehari-hari, apalagi  bagi kita sebagai kaum Gen-Z. Bangun tidur yang dicek pertama kali biasanya HP. Hampir setiap hari kita melihat unggahan postingan teman kita di media sosial tentang liburan, konser, barang baru, atau hunting makanan dan tempat-tempat instagramable. Dan di situlah mulai muncul perasaan kita sebagai kaum Gen-Z yang tidak mau kalah untuk ketinggalan atau yang sering disebut dengan fenomena FOMO (Fear of Missing Out). Tanpa disadari fenomena ini membuat para kaum Gen-Z merasa tidak cukup dengan apa yang sudah kita miliki.

Fenomena FOMO ini sering muncul karena kita terlalu sering membandingkan hidup kita dengan orang lain. Dengan melihat pencapaian teman-teman kita di sosial media, kita menjadi merasa tertinggal, padahal belum tentu apa yang di unggah di sosial media itu sesuai dengan kenyataan, dan berdampak baik. Akibatnya, kita sebagai kaum Gen-Z merasa cemas, kurang percaya diri, dan sampe memaksakan diri untuk mengejar apa yang sedang trendi masa itu.

Salah satu penyebab utama FOMO ini adalah kebiasaan scrolling media sosial terlalu lama sampai lupa waktu. Semakin lama kita scroll, semakin banyak juga konten yang kita lihat. Dari situlah, muncul rasa pengen ikut-ikutan. Ketika teman beli barang yang sedang viral, kita juga jadi ikut-ikutan ingin membelinya. Dan pada saat teman nongkrong di tempat yang sedang hits, kita juga ingin ke tempat itu. Padahal sebenarnya belum tentu kita butuh atau benar-benar ingin.

Selain berdampak pada mental, fenomena FOMO ini juga dapat memengaruhi kebiasaan hidup sehari-hari seseorang. Contohnya, seseorang rela menghabiskan uangnya demi hunting makanan dan pergi tempat-tempat instagramable agar terlihat update dan tidak ketinggalan zaman. 

FOMO juga bisa bikin kita jadi kurang produktif. Misalnya, niatnya mau belajar atau ngerjain tugas, tapi malah ke-distract sama media sosial. Lihat satu video, lanjut ke video lain, sampai nggak kerasa waktu udah habis. Akhirnya, tugas jadi keteteran dan waktu istirahat juga berkurang.

Untuk mengatasi fenomena FOMO ini  salah satunya dengan cara membatasi penggunaan media sosial. Nggak harus langsung berhenti total, tapi kita bisa mulai dari hal kecil, misalnya nggak buka media sosial saat belajar atau sebelum tidur. Dengan begitu, pikiran jadi lebih fokus dan nggak gampang kepancing. Dan kita juga perlu belajar pentingnya bersyukur atas apa yang sudah kita miliki, dan belajar kedepannya bahwa tidak semua apa yang sedang tren itu harus semuanya kita ikuti terutama manfaatnya bagi kita kedepannya untuk apa. 

Menghabiskan waktu di dunia nyata juga bisa jadi cara ampuh buat ngurangin FOMO. Nongkrong bareng teman tanpa harus selalu upload ke sosial media, ngobrol bareng keluarga, atau ngelakuin hobi yang kita suka bisa bikin hati lebih puas. Kadang, kebahagiaan itu justru datang dari hal-hal sederhana yang nggak perlu dipamerin ke sosial media.

Kesimpulannya, FOMO merupakan fenomena yang cukup sering dialami kita sebagai kaum Gen-Z di era digital ini. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, FOMO ini bisa berdampak sangat buruk bagi kita pada kesehatan mental dan dapat mengubah gaya hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kita sebagai kaum Gen-Z yang mudah terbawa fenomena FOMO ini dapat membatasinya agar tidak terbawa arus  dan pintar-pintar untuk memilih mana trenyang baik dan buruk untuk ke depannya.

2 komentar untuk “Fenomena FOMO di kalangan Gen-Z dan Cara Mengatasinya”

  1. Pingback: Ridwan Kamil & Gugatan Cerai Atalia - nribun.com

  2. Pingback: Suriname Terancam Gagal Piala Dunia - nribun.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top