
Di era dinamika kehidupan yang sekarang sedang dijalani dengan “Ya Allah, Ya Allah..” ini, rasanya banyak sekali hal-hal yang perlu diikhlaskan, kemudian dimaklumi, divalidasi, dan dihargai.
Kadang kala, aku mengartikan kata ikhlas sebagai padanan dari kata ‘pasrah’ atau lebih sederhananya, “ya udah lah, ya”. Misalnya, mengikhlaskan bahwa usaha yang sudah dijalani selama ini ternyata tidak menghasilkan suatu apapun, atau seperti ketika mengikhlaskan orang yang pernah disayangi sepenuh hati untuk orang lain. Ah, alay.
Aku dan sebagian orang lainnya pasti pernah atau bahkan terus bertanya-tanya, kenapa rencana hidup tidak selalu berjalan seperti apa yang kita harapkan? Setelah itu, ‘orang bijak’ akan mengatakan bahwa kita harus mengubah mindset agar selalu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang sudah terjadi, apa yang kita punya, dan tanpa memberi tahu bagaimana cara untuk mensyukuri ketetapan itu dengan baik, lantas mereka menyebut itu sebagai ‘ikhlas’.
Tapi nyatanya, ikhlas tidak sesederhana itu. Ikhlasku adalah tulusku. Aku ikhlas karena aku sudah melakukannya, melakukan terbaik yang aku bisa, dan ketika umpan balik dari kehidupan ternyata tidak menerima terbaikku, maka itu hanya akan menjadi suatu hal yang perlu dan cukup untuk dimaklumi. Maklumilah respon dan sudut pandang yang lainnya, validasi dan hargailah (diri kita) yang sudah tulus untuk berusaha memberikan yang terbaiknya. Sayangnya, maklum itulah yang masih sering dianggap ikhlas.
Sampai akhirnya, aku mendefinisikan ikhlas dengan makna yang berbeda, yaitu ketika ikhlas yang sesungguhnya sedang aku upayakan di kehidupan saat ini. Orang-orang yang (mungkin) tidak menyukai satu dan lain hal dari diriku, realita yang kadang membuat aku harus menelan lagi ekspektasi, dan kekhawatiran akan masa depan yang aku sendiri kadang bingung harus bagaimana menata perasaanku saat ini.
Karena seringkali, rasa takut dan lelah akan ketidakpastian datang di masa-masa sulit, yang tidak lagi hanya dihadapkan pada 2 pilihan saja; ya atau tidak, lanjut atau berhenti, semangat atau menyerah. Bisa jadi, pilihannya bercabang. “Kalau ya, tapi nanti akan bla bla bla. Kalau tidak, justru akan jadi bla bla bla, tapi kalau tidak di antara keduanya, bisa jadi malah lebih bla bla bla.” Aku yakin semua orang akan mudah mengimajinasikan dan memahami kata “bla-bla-bla” yang dimaksud. Cukup sesuaikan pada konteksnya masing-masing, dan yap, kamu akan dengan cepat mengerti.
Tapi apapun itu, alurnya akan tetap sama. Kembali lagi, aku sudah ikhlas. Pilihan-pilihan yang rumit itu tadi hanya akan tetap diputuskan salah satunya, dan terlepas dari bagaimana nanti kehidupan akan terus berjalan, aku sudah tulus, aku sudah memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan di hari lalu. Maka di hari kemudian, aku akan dengan ringan mengambil keputusan atas apa yang sudah aku ikhlaskan.

Jasmine Nur Fadillah nama lengkapnya, hangat disapa Jasmine, boleh juga disebut Jasmine tanpa awalan “Jas”. Sangat suka dengan kopi, apalagi sambil bersosialisasi. Suka mencari diksi, tapi lebih suka berimajinasi. Ya, begitulah. Boleh kepoin lewat Instagramnya: d_jaszmine, atau WhatsApp-nya: 08****, bintangnya cari sendiri.





Pingback: Berita Terbaru Starlink di Aceh - nribun.com