Pergeseran Ekologi Informasi dan Matinya Kepakaran

Dekade terakhir ini, peradaban manusia telah berubah sangat drastis. Lompatan jauh dilakukan manusia karena adanya teknologi digital, khususnya tentang informasi. Informasi sangat mudah diakses oleh setiap orang, bertebaran di ruang virtual. Cepat berganti, dan mengalir sangat cepat.

Media sosial dan mesin pencari telah mengubah cara setiap orang berkomunikasi dan mencari informasi, hingga membentuk opini. Sebuah ekosistem informasi yang sangat cair dan begitu cepat. Di tengah kemegahan ekosistem informasi ini, juga berkonsekuensi memunculkan sebuah fenomena, yaitu matinya kepakaran.

Istilah matinya kepakaran bertolak dari kondisi ketika otoritas ilmiah para pakar tidak dianggap penting atau dihormati, dan pendapat orang awam dianggap setara dan lebih dipercaya dibanding penjelasan ilmiah dari para ahli. Matinya Kepakaran (The Death of Expertise) menurut Tom Nichols merupakan fenomena runtuhnya kepercayaan publik terhadap ahli, didorong oleh arogansi, internet, dan pendidikan yang menekankan harga diri daripada kompetensi.

Fenomena ini tidak hanya tren sesaat saja. Matinya kepakaran merupakan refleksi dasar dari perubahan ekologi informasi yang mendesain bagaimana pengetahuan diproduksi, disebarkan, dikonsumsi, dan diterima orang banyak. Ruang virtual berubah dari arena pertukaran gagasan menjadi raung adu argumen. Antara pakar dan warga biasa.

Ekologi informasi

Di awal ekologi informasi, pengetahuan diproduksi melalui jalur hierarkis. Setiap pengetahuan diproduksi oleh para ahli, divalidasi di institusi dan terpublikasi di jurnal dan kemudian keluar di media arus utama untuk dipublikasikan. Masyarakat kemudian menerima dan menjadikan pengetahuan baru. Namun kini, ekologi informasi bekerja dengan cara yang berbeda. Menjamin kebebasan bagi setiap orang untuk memproduksi konten dan menyebarkan tanpa melalui jalur hierarkis. Tidak lagi ada jaminan validitas dan kedalaman informasi, yang ada hanya daya tarik algoritma. Konsekuensinya, pendapat para pakar sering tergerus dan tenggelam di tengah lautan konten dan opini publik warga media sosial. 

Seperti baru-baru ini, di salah satu media sosial beberapa pakar atau ahli (dokter dan dokter subspesialis) tidak dihormati dan kepakaran mereka diragukan oleh warga media sosial. Para pakar versus warga media sosial, hal ini terkait pernyataan pakar terkait henti jantung dan gerd. Fenomena yang sedang ramai dibicarakan di sosmed X. Pendapat seorang dokter spesialis bisa terpinggirkan dan bahkan diklaim keliru oleh serangan dari warga virtual. Warga virtual dengan mudah menggunakan pengalaman dan logika premis untuk menginterupsi bahkan membantah pendapat para dokter spesialis yang belasan tahun menggeluti keprofesiannya.

Fenomena di atas bukan sekedar perdebatan media sosial saja, antara pakar dan masyarakat awam media sosial. Tapi gambaran bagaimana dunia virtual, media sosial manghilangkan batas etis dan moral dan membolak-balikkan logika seseorang. Ada kebebasan yang digaransikan oleh ruang virtual, namun tidak serta merta mereduksi semua hal. Dan kehadiran Artificial General Intelligence menghadirkan akses instant bagi siapun untuk memperoleh informasi yang digunakan dalam arena perang argumen di dunia virtual. 

Matinya kepakaran

Penyebab fenomena matinya kepakaran, salah satunya karena ilusi pengetahuan. Akses yang tak terbatas diberikan mesin pencari maka tak ada batasan informasi. Banyak orang beranggapan paham akan isu tertentu hanya karena pernah menonton satu konten pendek atau membaca ulasan di media sosial. Padahal pengetahuan ilmiah diproduksi dari proses yang panjang, riset, verifikasi dan dialektis. 

Ilusi pengetahuan melahirkan kepercayaan diri yang ilusif juga. Seseorang menjadi berlebihan dalam mengekspresikan rasa percaya dirinya yang sebenarnya sangat minim informasi. Fenomena ini disebut Dunning-Kruger efek, yaitu bias kognitif di mana seseorang dengan kemampuan terbatas di bidang tertentu melebih-lebihkan kompetensi mereka sendiri secara signifikan. 

Namun, fenomena ini tidak sepenuhnya salah masyarakat. Hal ini bisa terjadi karena adanya krisis kepercayaan terhadap institusi formal. Masyarakat telah sering dipertontonkan skandal, konflik kepentingan, keputusan yang tidak transparan, tingkat kepercayaan pada institusi pengetahuan, lembaga riset dan pemerintah. Sehingga pernyataan pakar pun acap kali dibaca sebagai argumentasi dari kepentingan kekuasaan tertentu. Ruang publik pun menjadi arena curiga-mencurigai. 

Ruang publik menurut Habermas, memang menyajikan arena ideal tempat bagi warga negara berinteraksi secara bebas dan rasional untuk membahas isu-isu publik, membentuk opini publik, dan mempengaruhi kebijakan, terpisah dari kekuasaan negara atau ekonomi. Demikian dengan dinamika perdebatan antara pakar dan warga virtual. Pakar biasanya menyajikan bukti dan catatan acap kali mengajukan argumen. Namun warga virtual terkadang lebih menyukai konten yang memberikan informasi instant dan inti jawaban. Ruang virtual khsusnya media sosial bukan ruang untuk informasi yang rumit. Hal ini akhirnya memberi ruang bagi pseudosains.

Efek yang terlihat jelas, seperti pada kasus diatas. Tentu hal ini juga berdampak pada isu kesehatan masyarakat, kebijakan publik dan bahkan isu lingkungan hidup. Masyarakat sering terpolarisasi oleh informasi yang kurang tepat. Belum lagi dengan pseudosains berkembang subur karena menawarkan jawaban instan dengan narasi lebih sederhana. 

Namun, matinya kepakaran bukan karena masyarakat menolak ilmu pengetahuan. Melainkan pertarungan metode dalam penyampaian pengetahuan. Otoritatif tidak bekerja lagi di ruang publik. Otoritatif karena gelar atau institusi. Ruang publik mungkin menuntut sebuah metode komunikasi yang lebih humanis, yang lebih relevan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Selain itu juga, pengetahuan ilmiah juga mesti bermigrasi ke bentuk yang lebih mudah dipahami tanpa mengurangi validitas informasi.

Matinya kepakaran, bukan akhir dan matinya ilmu pengetahuan. Ini hanya tanda bahwa ekologi informasi sedang bertransformasi, dan model komunikasi lama tidak lagi memadai. Membuatnya tetap relevan, setiap pakar dan institusi pengetahuan harus terus bertransformasi memanfaatkan setiap detail lompatan perubahan. Kepakaran adalah oase yang meretas dahaga dikala publik bimbang dan tersesat karena tsunami informasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top