Menjaga Pertemanan dengan Berebut Salah

Biasanya, jika ada permasalahan yang melibatkan beberapa orang, atau kita terlibat dalam sebuah permasalahan, kita mencari pembenaran diri. Kemudian, kita mencari siapa yang berbuat salah. Ada yang beranggapan hal itu lumrah terjadi. Akan tetapi, apakah kelumrahan seperti itu akan terus dipelihara dalam sebuah kehidupan yang kita selalu membutuhkan keberadaan orang lain?

Dalam sebuah permasalahan, setelah kita di posisi yang dirasa aman, dan ada pihak lain yang melakukan kesalahan, mengapa fokus kita pada subjek atau pelaku? Bukan pada apa kesalahannya dan apa penyebabnya. Sehingga yang terjadi, kesalahan kecil menjadi besar, kesalahan biasa menjadi terlihat fatal. Padahal itu permasalahan yang bersifat “kriwikan” kemudian menjadi “grojogan”.

Hal itu sering saya temui di kehidupan sehari-hari, entah di rumah, di  tempat kerja atau di lingkungan pertemanan. Hingga pada suatu malam -saat itu sedang panas-panasnya Pilkada serentak- ada cara pandang lain dalam melihat sebuah masalah. Terutama untuk menjaga pertemanan. Bisa jadi, suatu saat, karena beberapa hal dan perbedaan pandangan dengan teman, malah kita fokus pada perbedaan, bukan tetap menjaga pertemanan.

Nah, untuk menjaga pertemanan, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, supaya berbeda tidak apa-apa tetapi tetap bisa ketawa bersama.

Pertama, saling mengingat pernah berbagi tawa di masa lalu. Apalagi jika saat susah, teman yang berselisih dengan itu pernah menolong kita. Mengulurkan tangannya untuk menarik kita dari jerembab masalah. Dengan begitu, jika ada perbedaan, yang berbeda adalah pandangan terhadap suatu hal, tapi tetap menitik beratkan pada satu hal yang sama. Pernah saling tolong-menolong.

Kedua, adalah kita mengingat bahwa tidak bisa hidup sendiri. Membutuhkan orang lain. Dan orang lain itu adalah teman kita. Dengan begitu, kita akan saling menjaga pertemanan daripada menjaga perbedaan. Demi kebaikan masa depan.

Tiga, adalah berebut salah. Nah sikap seperti ini sebenarnya sulit. Jika ada suatu permasalahan dengan teman, kita lebih awal untuk berebut salah. Bahwa kesalahan ada pada diri kita. Meskipun belum tentu kita yang salah. Kita meminta maaf atas apa yang kita lakukan. Berebut salah bisa diterapkan kepada siapapun dan di lingkungan manapun.

Dengan 3 hal di atas kita lakukan dalam kehidupan, keberadaan kita akan dinanti. Karena tidak suka berkonflik meskipun beda. Tetap bisa berteman meskipun pandangan berlawanan. Dan tetap bisa saling bantu meskipun sesekali berseteru.

“Bisa jadi, karena beberapa hal dan perbedaan pandangan dengan teman, malah kita fokus pada perbedaan, bukan tetap menjaga pertemanan.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top