Perempuan dalam Sudut Pandang Kalitanjung: Ras Terkuat di Bumi

Ini adalah bagian dari catatan perjalanan Grebeg Suran Tambaknegara.

Belajar dari Para Nyai: Kecantikan yang Sederhana dan Bersahaja

Aku memandangi para Nyai yang saling bertegur sapa di sekelilingku. Wajah mereka hampir tidak ada riasan yang berlebihan, rambut mereka digelung tanpa hiasan di kepala, pakaian mereka adalah kebaya hitam polos tanpa motif dan warna lain, bawahannya selembar kain batik atau jarik yang tidak mencolok jika dipandang, di bahu mereka tersampir selembar selendang. Satu kata yang menggambarkan penampilan mereka: sederhana. Kata selanjutnya yang pantas untuk menggambarkan mereka: bersahaja. Aku melihat para Nyai tersebut seperti tidak memiliki beban, kelihatannya tenang, jauh dari yang aku lihat dan dengar tentang kehidupan manusia yang (menurut lirik lagu berjudul “Bingung” dari Iksan Skuter);

makin hari makin susah saja
menjadi manusia yang manusia,
sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia”.

Kesimpulannya, para Nyai menjadi bukti adanya kecantikan yang sederhana dan bersahaja.

Baru aku sadari kalau ada satu hal lagi yang membedakan perkumpulan Nyai di acara tersebut dengan perkumpulan ibu-ibu atau perkumpulan lainnya, yaitu para Nyai yang tidak memegang ponsel atau benda-benda yang biasanya membuat pemiliknya sibuk sendiri di tengah perkumpulan sosialnya. Para Nyai tersebut lebih memilih diam atau berbincang dengan orang di sebelahnya. Bagiku itu adalah kekayaan yang mereka miliki jika dibandingkan dengan kebanyakan penduduk bumi (setidaknya di kotaku, atau di lingkup pertemananku) hari ini yang semakin asing dengan interaksi secara langsung saat bertemu secara fisik. Raganya di sini, pikiran dan jiwanya entah dimana, begitu mungkin?

Namun aku masih menyimpan pertanyaan setelah berinteraksi dengan para Nyai. Aku dengar ada larangan bagi perempuan untuk menjadi penampil atau penghibur di daerah ini. Lalu, kenapa? Apakah larangan ini adalah penghormatan? Atau justru pembatasan? Waktu memikirkannya aku membayangkan ada di dalam kelas perkuliahan feminisme, atau sedang mengerjakan tugas perkuliahan gender, intinya ini menarik untuk diketahui.

Perempuan dalam Sudut Pandang Kalitanjung

Sebelum memasuki rumah adat, bahkan sebelum memasuki Tambaknegara, aku sudah mendengar mengenai larangan untuk perempuan menjadi penampil atau penghibur di Kalitanjung. Untungnya di sesi pertemuan dan diskusi dengan para kasepuhan, kami dijelaskan lebih rinci sehingga pertanyaan yang aku simpan itu terjawab: larangan sebagai bentuk penghormatan atau justru pembatasan bagi perempuan?

Kasepuhan yang duduk bersama kami menyinggung tentang Majapahit yang hancur karena perempuan. Konon, tanah Kalitanjung adalah Majapahit. Untuk menghindari agar tidak terjadi kehancuran selanjutnya maka di Kalitanjung ini perempuan dimuliakan dengan adanya larangan tersebut. Bahkan demi mematuhi larangan tersebut Lengger (penari) yang tampil di Kalitanjung adalah laki-laki. Bentuk penghormatan terhadap perempuan juga diwujudkan dengan menjadikan perempuan sebagai juru kunci, posisi yang begitu disegani, itu pun dalam praktiknya yang “turun” atau mengurus tempat-tempat sakral tersebut adalah laki-laki (dalam hal ini laki-laki disebut hanya sebagai wakil).

Para Kyai juga bercerita tentang oknum-oknum yang pernah mengabaikan larangan tersebut. Salah satu contohnya ketika suatu oknum berniat mempromosikan produk jamu dengan membawa beberapa penari perempuan. Oknum tersebut mengatakan siap dengan segala konsekuensinya meskipun sudah diperingatkan. Tapi beberapa hari setelah “kegiatan promosi” itu dilangsungkan oknum tersebut kembali datang ke Kalitanjung, oknum tersebut meminta tolong dan maaf, karena para penari perempuan yang menari di Kalitanjung itu dikabarkan lumpuh. Itu baru satu dari beberapa cerita akibat melanggar larangan tersebut.

Jadi sebelum marak di mana-mana, istilah “wanita adalah ras terkuat di bumi” itu sudah lama berlaku di Kalitanjung. Kalimat seorang Kyai tersebut sukses memecah tawa kami setelah pembahasan yang cukup serius bab tentang perempuan. Akhirnya aku menemukan bukti jokes yang sering aku temukan di TikTok dan Instagram itu justru ketika di desa adat.

Hikmah dari Kunjungan Kedua

Jika kunjungan pertamaku ke desa adat ini adalah memori baik karena melihat teman-temanku yang dari berbagai pulau Nusantara itu bahagia mengunjungi masyarakat yang hangat dan sederhana, maka kunjungan keduaku adalah mengulangi memori baik bertemu masyarakat pemilik kehangatan dan kesederhanaan itu. Aku seperti membuktikan segala kesan baik teman-temanku di kedatangan keduaku.

Aku membayangkan Amar, Robby, Rian, Jodi, Rey, Raihan, Sila, Ara, Hikmah, Heni, Dilla, Dhila, Nana, Kila, Sin, Sinta, Fida, Nadia, Relin, Tiara, Ola, Laura, Intan, Rina, Kia, dan teman-teman lainnya mendengarkan ceritaku yang kembali berjalan berpanas-panasan di desa yang mengajarkan konsep bahagia dengan cara yang sederhana. Kebetulan para Kyai menyinggung tentang itu, katanya Kalitanjung adalah surga, karena segalanya cukup dan masyarakatnya bersyukur. Ah, sepertinya cukup menamparku yang hidupnya masih sering lupa bersyukur, pantas saja bahagianya sering tidak utuh. Padahal bukan hal sulit bagiku untuk mencari tahu konsep bahagia lewat YouTube atau buku, namun realitanya aku masih kalah untuk menemukan kebahagiaan jika dibandingkan masyarakat Kalitanjung, mereka mudah bahagia secara utuh.

Terlepas dari segala pendapat masyarakat luas tentang sedekah bumi, sesajen, ruwat bumi, Kejawen, atau bahkan Grebeg Suran yang mengemas semuanya, aku menyadari masih jarangnya praktik dari berbagai teori mata pelajaran PKn dan IPS semasa SD.

Aku ingat saat awal SD dulu dua mata pelajaran tersebut mengajarkan pentingnya buang sampah pada tempatnya, berdoa sebelum makan, menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, juga berbagai materi dasar lainnya. Sayangnya kebanyakan orang (mungkin termasuk aku) menggampangkan materi gampang tersebut dan beralih ke materi-materi lainnya yang dianggap lebih berbobot dan akademis hanya untuk mencapai angka dan huruf yang disebut sebagai nilai bagus. Padahal belum tentu ‘kegiatan belajar’ itu mencapai esensi dari belajar. Mungkin saja jika tidak menggampangkan materi gampang mata pelajaran PKn atau IPS semasa SD dulu hari ini banyak orang yang mudah menemukan ketenangan hidup, rasa syukur, dan kebahagiaan.

Beruntungnya aku berkesempatan datang dan berinteraksi dengan masyarakat Tambaknegara, karena aku menemukan masyarakat yang mewujudkan praktik dari mata pelajaran PKn dan IPS semasa aku SD dulu.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top