
Kurang lebih dua tahun lalu aku ke Tambaknegara. Suatu desa di Kecamatan Rawalo, dekat dengan Bendung Gerak Serayu. Waktu itu aku datang bersama rombongan teman-teman mahasiswa dari luar Jawa. Tujuan utamanya untuk belajar dan berinteraksi dengan masyarakat adat di salah satu dusunnya, Dusun Kalitanjung, juga berkeliling dusun lainnya untuk melihat kegiatan produksi pelaku UMKM.
Bisa dikatakan pengalaman satu hari di desa tersebut adalah salah satu kenangan paling berkesan bagiku dan teman-temanku. Mulai dari kedatangan kami yang disambut hangat dan menyenangkan, makan siang dengan sistem tenongan (kami diminta membentuk kelompok berisi 4-5 orang. Lalu kami diberi tenong yang merupakan wadah besar berisi makanan). Kesempatan berdiskusi dengan para Nyai dan Kyai (sesepuh adat), hiburan bernuansa kearifan lokal, sampai kami berpamitan dan saling berlambai tangan di atas mobil pick up yang membawa kami keluar desa menuju tempat diparkirkannya bus.
Kehangatan dan ketulusan masyarakat setempat hari itu sukses membuat teman-temanku gagal move on. Instagramku penuh dengan cerita mereka di Tambaknegara. Bahkan ketika dosenku mengajak merefleksikan kegiatan hari itu, aku mendengarkan kejujuran teman-temanku yang terkesan dengan kunjungan ke desa tersebut. Teman-temanku pulang ke daerah asalnya membawa cerita itu. Tentang salah satu desa adat di Banyumas yang menyambut dan menerima mereka sebagai saudara sebangsa, yang memasangkan ikat kepala (untuk laki-laki) dan selendang (untuk perempuan) ketika akan memasuki desa. Dan berdoa agar di kemudian hari dapat kembali lagi.
Kembali ke Kalitanjung
Do’a itu terkabul dua tahun kemudian, belum untuk teman-temanku, tapi untuk aku. Berkat ajakan dari dosen-dosenku yang baik hati, tahun ini aku kembali ke desa tersebut. Aku datang ke agenda tahunan warga Kalitanjung, yaitu Grebeg Suran. Lebih spesifiknya di hari pelaksanaan “Ruwat Bumi”. Kali kedua datang ke Kalitanjung ini rasanya masih sama, masih disambut hangat dan akrab, walaupun Banyumas belakangan ini dingin hampir setiap harinya.
Aku tersenyum ketika akhirnya dipersilakan duduk bersama para Nyai sesampainya di lokasi “Ruwat Bumi”. Acara “Ruwat Bumi” sendiri dimaknai masyarakat sebagai bentuk pembuangan atas segala kesialan atau sangkala.
Dengan kemampuan berbahasa krama yang pas-pasan, aku berusaha menanggapi setiap pertanyaan dan cerita para Nyai yang duduk di dekatku. Obrolan semakin seru ketika Nyai yang duduk di sebelahku berusaha meminta piring berisi kentang rebus berkulit hitam, setelah aku menunjuknya karena penasaran. Nyai di seberang meja yang memegang piring berisi kentang tersebut “meledek” Nyai di sebelahku dengan ekspresi bercanda seperti menolak memberikan piring tersebut. Sampai akhirnya kami saling tertawa dan piring itu sampai di tanganku. Lalu ekspresi bahagia mereka berlanjut saat menyaksikan aku mencicipi kentang yang ternyata bisa aku nikmati itu.
Satu hal yang aku sadari masih sama sejak kedatanganku dua tahun lalu ke Kalitanjung dengan kedatanganku tahun ini: jabat tangan. Dulu aku pikir hal ini adalah hal biasa saja yang dapat aku temui di tempat lain. Namun cerita dan refleksi teman-temanku dua tahun lalu yang membuatku berpikir kalau jabat tangan atau bersalaman di daerah ini seperti spesial. Teman-temanku terkesan ketika dulu datang ke desa ini disambut para Kyai dan Nyai yang membentuk barisan. Lalu teman-temanku mengantre berjabat tangan dengan para sesepuh itu. Kemudian ketika pulang para Nyai dan Kyai itu tetap tersenyum menyalami teman-temanku yang antreannya mengular hampir 200 orang sambil sesekali mendo’akan di tengah beterbangannya debu di lokasi acara.
Bahkan temanku ada yang bercerita saat berpamitan, Ia melihat ada sesepuh yang menangis. “Ramah-ramah, loh. Kami ini rasanya disambut (para sesepuh)”. Begitu kata teman-temanku. Aku membuktikan adanya kebiasaan “spesial” itu lagi di kedatangan kedua saat aku lihat para Nyai hingga masyarakat setempat yang hadir setelahku mendatangi meja-meja panjang (tempatku, para Nyai dan teman-teman kampusku yang juga ikut dalam acara ini duduk di kursi-kursinya) untuk menyalami satu persatu orang yang hadir.
Hal sederhana ini membuatku merenung sambil melihatnya: “kok bisa orang yang sepuh justru yang datang ke aku (dan teman-teman kampusku) yang muda?” Bahkan beberapa di antaranya sudah tidak begitu seimbang langkah kakinya saat berjalan.
Diskusi di Rumah Adat: Terjawabnya Pertanyaan
Selepas ibadah zuhur dan makan siang, aku beserta para dosen dan teman-teman sekampusku berkesempatan untuk berdiskusi dengan para sesepuh. Agenda yang paling aku tunggu ini semakin menarik dengan disuguhkannya teh, bakwan dan beberapa kudapan tradisional lainnya. Menariknya “kuliah” ini adalah para sesepuh tidak memberikan materi untuk kami simak. Silakan panjenengan menanyakan apa yang ingin diketahui. Pengantar yang disampaikan salah satu Kyai tersebut aku sambut dengan pertanyaan pembuka yang sudah aku simpan.
Aku menanyakan di antara Kejawen dan Islam Kejawen, mana yang merupakan keyakinan masyarakat adat setempat. Aku juga menyampaikan bahwa sebelumnya aku sudah bertanya dengan seorang Nyai dan jawabannya adalah Kejawen, namun aku rasa jawaban itu bisa diperjelas lebih detail di sesi diskusi.
Pertanyaanku disambut dengan senyuman. Kyai yang dipasrahi untuk menjadi juru bicara menjawab pertanyaanku dengan bijaksana. Beliau memulai penjelasannya dari pernyataan bahwa agama lahir karena hubungan manusia dengan alamnya, Tuhannya sama, tapi cara menyembahnya berbeda. Untuk menjelaskan lebih lanjut beliau memberi jawaban yang tidak berat untuk dipahami: seandainya ada yang menanyakan apakah beliau Islam atau tidak maka jawabannya adalah Insya Allah Islam, dan jika ditanyakan apakah Kejawen atau tidak pun jawabannya adalah Kejawen. Sebab yang menentukan Islam atau tidaknya seseorang itu hanya Allah sebagai Yang Maha Kuasa.
Aku melihat praktik penghambaan dari jawaban tersebut, mereka tidak mau memusingkan pelabelan nama agama karena menyadari ada hal yang lebih penting dari sebatas pelabelan. Mereka menghindari penilaian atau penghakiman atas ibadah seseorang yang bukan wilayah kepentingan manusia. Karena jauh lebih memprihatinkan jika ada orang beragama yang tingkah lakunya tidak beragama. “Iman biar jadi urusan Tuhan, tapi kalau Kejawaan kita itu adalah takdir”.
Pertanyaan Soal Sesajen, Sedekah Bumi, Hingga Cara Menjadi Kyai dan Nyai
Jawaban Kyai yang menjawab pertanyaanku itu memantik diskusi lebih lanjut mengenai spiritualitas. Salah satunya terkait sesajen yang tidak dapat dipisahkan dari ritual masyarakat adat serta anggapan masyarakat lainnya mengenai sesajen yang disebutkan musyrik. Seingatku bahkan tidak ada yang menanyakan, mungkin sebagai mahasiswa teman-temanku cukup sungkan untuk menanyakan hal terkait sesajen tersebut, namun para kasepuhan yang sedang bersama kami sepertinya sudah sering menerima pertanyaan yang cukup sensitif tersebut dan menyadari kesungkanan kami sehingga mereka dengan sikap penuh keterbukaan menjelaskan kepada kami. Hal yang cukup sensitif tersebut dijelaskan menggunakan analogi kudapan atau suguhan yang dihidangkan di depan kami.
Menurut para Kyai, suguhan atau kudapan untuk para tamu itu bukan bentuk sesembahan, melainkan bentuk penghormatan terhadap tamu. “Njenengan disuguhi (kudapan) seperti ini, apa berarti saya nyembah njenengan semua? Kan, tidak.” Dari analogi tersebut para Kyai menegaskan bahwa prinsip dari sesajen adalah bentuk penghormatan. Penjelasan tersebut dilanjutkan dengan penjelasan mengenai sedekah bumi yang juga sering dianggap musyrik, para Kyai menjelaskan sedekah bumi adalah bentuk syukur atas hasil bumi di tanah tersebut yang diwujudkan dengan mempersembahkan berbagai hasil bumi terbaik untuk siapapun, sehingga pada acara memetri bumi (selametan sedekah bumi) dipersilakan untuk siapapun dari kalangan apa pun untuk ikut makan bersama.
Pertanyaan yang cukup menarik selanjutnya adalah cara untuk menjadi Kyai atau Nyai. Apakah Generasi Milenial atau Gen Z sepertiku saat ini bisa menjadi Kyai dan Nyai? Menurutku ini diskusi yang paling menarik, karena untuk menjawab pertanyaan ini para Kyai dan masyarakat setempat menggunakan istilah-istilah pendidikan formal untuk menjelaskan istilah pendidikan bagi calon Nyai dan Kyai, mungkin itu akan lebih mudah dipahami bagi para tamunya (yaitu kami) yang berasal dari lingkungan pendidikan kampus.
Secara garis besar dijelaskan bahwa syarat menjadi kasepuhan (Kyai atau Nyai) yaitu sudah berusia 60 tahun dan memiliki keinginan atau komitmen tulus dari hati. Hal ini dikarenakan umur 60 tahun dianggap sudah selesai dengan segala keinginan duniawinya, sebab menjadi kasepuhan berarti menjadi pertapa.
Untuk menjadi pertapa harus atas dasar kemauan sendiri dan hati nurani agar dalam proses selanjutnya tidak merasa terbebani. Para calon kasepuhan harus menjalani pendidikan sebagai santri dengan berguru kepada ‘para seniornya’ hingga akhirnya mudun atau diwisuda. Jadi pantas saja jika aku tidak menemui Kyai dan Nyai yang seusiaku di Kalitanjung, bahkan yang seusia orang tuaku juga tidak aku temukan. Namun, aku bertemu dengan calon kasepuhan, yaitu kasinoman.
Kasinoman ini semacam kader, pelaksana teknis, atau yang memegang fungsi administrasi maupun organisasi. Dengan menjadi kasinoman, secara langsung dan tak langsung mereka belajar hal-hal yang perlu dipersiapkan dan dimiliki oleh para kasepuhan, menurutku ini cara belajar yang utuh dan masuk akal dalam proses regenerasi (bukan menggurui, melainkan memberdayakan sembari memberi contoh yang baik).
Aku cukup senang ketika akhirnya salah seorang Kyai menceritakan perjalanannya menjadi bagian dari kasepuhan. Seperti mendengarkan contoh konkret dari suatu penjelasan materi atau teori perkuliahan rasanya.
Kyai tersebut memulai ceritanya dengan menyebutkan nama pemberian orang tuanya ketika lahir, lalu nama keduanya, dan namanya saat ini. Beliau sempat ke Jakarta, sempat belajar di lingkungan NU dan Muhammadiyah, sampai ketika mendekati umur 60 tahun menemukan pertanyaan dalam dirinya yang berujung pada ketetapan hati untuk memilih jalan hidup menjadi kasepuhan.
Mendengarkan cerita beliau membuat kami yang ada di forum sempat bergurau (dalam konotasi positif) dengan meminjam istilah masyarakat dewasa ini: slow living di usia pensiun. Mengisi masa pensiun dengan menerapkan hidup yang penuh sadar dan syukur sehingga memaksimalkan waktu untuk kebaikan.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




