
Era disrupsi datang sebagai perubahan yang semakin melesat dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari orang belajar, bekerja, sampai kesuksesan seseorang dinilai dengan cepat tanpa mengetahui proses-proses yang dilakukan. Berkembangnya teknologi yang membuat manusia menjadi ketergantungan dengan setan sepenk atau kerap disebut handphone. Entah bangun tidur, pergi ke kamar mandi, atau keluar sekadar membeli bubur ayam untuk sarapan dikala pagi, pasti tidak lepas dari setan gepeng. Media sosial hadir menjadi hal yang sangat fundamental, akan tetapi media sosial juga memiliki kelemahan, bahkan mengakibatkan burnout. Banyak arus informasi yang muncul begitu saja tanpa kita cari, sehingga otak mudah kebanjiran informasi yang justru menyesatkan dan tidak diketahui kebenarannya.
Di tengah realitas tersebut, banyak kalangan individu wa bil khusus anak muda tanpa disadari sering terjebak dalam membandingkan hidupnya sendiri dengan pencapaian atau keberhasilan orang lain. Scroll sebentar muncullah prestasi seseorang yang terpampang di layar setan gepeng, itulah membuat individu zaman sekarang sering merasa tertinggal, cemburu, bahkan sampai ragu dengan hidupnya sendiri yang sedang ia jalani. Padahal, di era perubahan tanpa permisi, seharusnya menjadikan ruang yang luas dan beragam. Karena setiap orang mempunyai latar belakang, kemampuan, dan waktu tumbuh yang berbeda.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk berproses, belajar, atau mengejar masa depan untuk kalangan anak muda, yang terpenting menyibukan diri, menjalankan hal-hal positif. Karena, di era sekarang banyak kalangan individu mengejar popularitas, validasi, FYP TikTok, seakan akan yang viral-lah itu dijadikan standar kehidupan. Tapi, saat inilah momentum penting, bahkan keberuntungan bagi seseorang yang tidak mudah goyah, dalam bahasa ngapak disebut “Wong nduweni prinsip urip”. Orang yang mempunyai prinsip hidup pasti selalu tenang, tidak mudah kebawa arus, mengetahui mana yang baik, dan mana yang buruk untuk dirinya sendiri.
Nasihat Habib Umar bin Hafidz selalu menjadi penenang jiwa, “Di zaman yang rusak ini tidak ada yang perlu kita cemburui kecuali mereka yang istiqomah di jalan Allah.” Dari nasihat itu, bisa kita pahami dan terapkan untuk kehidupan sehari-hari, bahwa di era yang serba cepat, kita sebut saja era perubahan datang tanpa permisi, karena terlalu banyak dinamika yang datang secara tiba-tiba. Nasihat itu mendorong kita supaya bisa sadar, fokus pada jalannya masing-masing tanpa mencemburui jalan dan prosesnya orang lain, yang terpenting khusyuk pada porsi yang telah kita dapat, jalani dengan ikhlas, tulus, dan terus beribadah kepada Tuhan untuk mendorong hasil usaha yang telah kita geluti.
Hidup kita perlu mengamalkan cuplikan isi Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 148 yang berbunyi “Fastabiqul Khairat.” Yang artinya, maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Kebaikan tidak harus tampak di layar media sosial. Kebaikan tidak dinilai dari seberapa banyak ucapan manis yang keluar dari mulut seseorang. Kebaikan ialah hal baik untuk diri sendiri, begitupun untuk orang lain. Mengejar kebaikan di era sekarang tidak perlu yang lagi trend, kebaikan ada di mana-mana, banyak motifnya. Yang berharga di waktu sekarang ialah melakukan kebaikan tanpa diperlihatkan kepada kalangan umum, biarlah khalayak mengetahui dengan sendirinya.
Namun demikian, hidup bukan perlombaan mengejar pencapaian orang lain, apalagi menginginkan berjalan di jalan orang lain, itu sudah pasti keliru. Kita tidak perlu tahu seberapa cepat sukses hadir dalam kehidupan kita. Yang perlu kita kendalikan adalah seberapa proses yang sering kita jalani, rasakan jatuh bangunnya, dan jam terbang yang perlu dirutinkan agar kita mampu bertumbuh secara autentik menjadikannya berbeda dengan orang lain.
Menurut Dr. Fahruddin Faiz dalam Podcast di YouTube, menjelaskan bahwa Perbedaan itu membawa pada Fastabiqul Khairat. Kita berlomba-lomba memperbanyak kebaikan. Jadi, pemenangnya bukan nanti siapa yang paling benar, tapi siapa yang kebaikannya paling banyak. Perlombaan yang dimaksud adalah dalam hal kebaikan. Kita dengan keyakinannya, misalnya, ayo melakukan kebaikan sebanyak mungkin, jangan sampai kalah baik dengan saudara kita, atau di sebelah yang punya pandangan berbeda. Menurut beliau, bukan saling menyerang, saling menjatuhkan, dan saling memaki. Tapi, kita tunjukan saja bahwa kebaikan kita sangat banyak, dan nanti semoga yang lain juga tertantang untuk melakukan kebaikan. Itulah makna Fastabiqul Khairat yang mendalam menurut beliau.
Perubahan zaman yang kita hadapi saat ini bukan menjadikan manusia yang berseragam, satu visi, dan satu misi. Sebaliknya membuka kesempatan agar seseorang bisa bertumbuh di jalannya masing-masing sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Oleh karena itu, perlu kita pahami bahwa setiap orang mempunyai jatahnya sendiri, dalam pepatah jawa “Kabeh Ono Wayahe” yang berarti semua ada waktunya. Kita hanya perlu fokus dan menyelesaikan tugas pada hidupnya sendiri, menjadi sikap penting agar tidak merasa tertinggal. Bisa berjalan tenang di tengah arus keramaian yang justru tidak pasti arah tujuannya.
Hidup di era saat ini membuat segalanya terasa berubah serba cepat. Setiap detik, menit, jam, dan hari, kita disuguhi cerita singkat tentang kesuksesan seseorang dari terbit fajar hingga terbitnya matahari di layar setan gepeng (Handphone). Tanpa sadar, perubahan tanpa permisi saat ini membentuk cara pandang yang baru tentang keberhasilan, serasa hidup hanya untuk mencapai keberhasilan dengan kecepatan yang sama. Ketika telat sebentar, muncul kekhawatiran dan rasanya tidak pantas untuk menjalankan kehidupan selanjutnya. Media sosial kini memperkuat perasaan itu, kita terlalu sering melihat story kehidupan terbaik seseorang, perjalanan mulus seseorang, tanpa kita ketahui dibalik story kebaikan seseorang tanpa mengetahui jerih payahnya yang dirasakan.
Pada akhirnya, perubahan yang datang tanpa permisi, tidak perlu memaksa setiap orang berjalan dengan tempo yang sama. Dengan tempo pelan pun pasti akan nikmat jika tidak dibandingkan dengan orang lain. Di balik hiruk-pikuk sandiwara keberhasilan yang tampil di layar setan gepeng, setiap individu perlu mempunyai jalan hidup yang personal, lengkap dengan proses, mempunyai waktu banyak untuk sendiri, dan tidak berisik. Kesadaran inilah yang perlu dirawat agar manusia tidak terjebak pada perbandingan yang melelahkan. Dengan memahami bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kecepatan, melainkan dari kesungguhan dan kesiapan diri, seseorang dapat berjalan lebih tenang. Sebab, di tengah perubahan yang terus bergerak cepat, kesetiaan pada jalan sendiri itulah bentuk keberanian yang paling jujur.
Alvidin lahir di Punggelan, Kabupaten Banjarnegara. Ia merupakan mahasiswa aktif Program Studi Manajemen Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN SAIZU) Purbalingga. Saat ini Alvidin mengemban amanah sebagai Ketua HMPS Manajemen Dakwah. Selain itu, ia juga merupakan kader PMII Rayon Dakwah, serta pernah aktif dalam Komunitas Safari Religi dan Ikatan Mahasiswa Banjarnegara. Bisa disapa lewat IG @vid1n_




