Melestarikan Budaya Leluhur: Antara Pakem dan Inovasi

Budaya leluhur kita sangatlah banyak. Termasuk leluhur di Banyumas -tanah kelahiran saya. Budaya yang tercipta di Banyumas salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah keadaan alam sekitar. Karena kebudayaan para leluhur Banyunmas adalah hasil dari “membaca” alam sekitarnya. Leluhur Banyumas yang di daerah agraris ini mayoritas adalah petani dan berkebun. Mereka “membaca” alam sekitar dalam melakukan aktivitasnya untuk menentukan apa yang dilakukan saat masuk masa tanam, perawatan dan masa panen. Termasuk jika masuk musim paceklik, saat hujan belum turun di waktu yang lama. Faktor lain yang mempengaruhi dari budaya leluhur kita adalah pembacaan terhadap potensi Gunung Slamet dan keberadaan Sungai Serayu yang membelah Kabupaten Banyumas.

Budaya yang telah leluhur ciptakan melalui “pembacaan” terhadap alam sekitar, seyogyanya menjadi perhatian kita untuk dilestarikan. Bukan hanya tugas para budayawan -atau petani saja. Alam yang kita tempati sekarang ini dan para leluhur sama. Kita sama-sama menginjak tanah, meminum air dari bumi dan menghirup oksigen. Oleh karena itu, nilai yang dilakukan haruslah sama. Nilai untuk hidup dengan menjadikan alam sebagai subjek, bukan sekadar objek yang dieksploitasi. Sehingga alam sekitar akan tetap baik kepada kita, sampai ke generasi selanjutnya. Bentuk melestarikan alam yang leluhur lakukan adalah untuk kehidupan mereka, sekaligus kehidupan generasi yang akan datang. Pelestarian itu, akhirnya menjadi sebuah budaya.

Ketika kita melihat seni Tari Lengger misalnya. Lengger adalah sebuah tari hasil dari pembacaan para leluhur dalam mensyukuri nikmat alam. Lengger dilakukan saat masuk masa tanam dan panen. Sebagai upaya para leluhur untuk mengingatkan kepada anak-cucunya. Lengger dari kata “Elingo ya ngger” (Ingat ya nak). Para leluhur meminta kita untuk tetap mengingat siapa yang menumbuhkan tanaman dari benih yang kita tanam, dan mengingatkan siapa yang mampu menurunkan air hujan.

Pelestarian terhadap seni budaya, misalnya Tari Lengger, sangat erat kaitannya dengan konsep agraria para leluhur. Karena Lengger dilaksanakan saat musim tanam-panen. Bukan saat acara besar atau memperingati selain aktivitas agraria. Meskipun sekarang, ada pergeseran. Namun pergeseran itu adalah sebuah inovasi yang perlu diapresiasi. Karena Tari Lengger yang dilakukan, ada nilai yang tetap disampaikan. Gerakan Tari Lengger merupakan gerak alam yang diwujudkan dalam bentuk tarian tubuh, -dari tangan sampai hentakan kaki. Bukan gerakan sensual tubuh. Nilai yang disampaikan adalah penyadaran akan siapa dan dari mana diri kita -supaya eling– dan pengingat akan kesyukuran atas nikmat dari Yang Maha Kuasa.

“Baik praktik pakem atau inovasi dalam melestarikan budaya, tetap pada prinsip melestarikan pitutur luhur para leluhur.”

Dengan demikian pelestarian seni budaya, dapat dilakukan dua cara. Pertama melalui pakem. Kita bisa ambil contoh di Tari Lengger. Segala yang dilakukan oleh penarinya, seperti yang dilakukan oleh para penari pendahulunya. Baik dari laku (persiapan) sebelum menari, sampai pada laku (perbuatan) keseharianya.

Kedua adalah inovasi. Maksud dari inovasi bukan mengikuti perkembangan zaman. Melainkan keluar atau “melawan” dari pakem-pakem yang sudah ada. Misalnya Tari Lengger tidak hanya dilakukan saat masa tanam-panen. Namun Tari Lengger dilakukan pada acara-acara yang sengaja dibuat dalam bentuk festival budaya. Namun baik praktik pakem atau inovasi dalam melestarikan budaya, tetap pada prinsip melestarikan pitutur luhur para leluhur, sehingga meskipun zaman sudah berganti, hubungan baik dengan alam semesta, tidak luntur.

Saya ingin mengajak untuk melihat festival-festival budaya yang diselenggarakan, tidak hanya kemeriahan dan pertunjukannya saja. Melainkan ajaran atau nilai apa yang sebenarnya hendak disampaikan melalui inovasi yang dilakukan. Sehingga pelestarian budaya, entah menjalaninya secara pakem atau inovasi, tetap memiliki ruangnya masing-masing. Dan kita melihatnya sebagai sebuah kekayaan peradaban kita, sebagai sebuah bangsa. Sebagai manusia yang tumbuh dan beradab.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top