Meramu Peluncuran Buku, Ketika Lebih Lama Mencari Moderator daripada Pengulas

Dalam foto kiri ke kanan: Nur Fadhilah Rizqi, Miftakhul Saleh, Neo Amroni, Umi Roisatul Mukaromah, Rahmi Wijaya, Ilham Rabbani, Adriansyah Subekti, beserta pesera peluncuran buku.

Ini adalah sekelumit kisah di balik pintu, menuju peluncuran buku “Tegal Kurusetra” karya Adinda Umi Roisatul Mukaromah dan buku puisi “kota yang lekas menghilang, dan akan kita lupakan” karya kamerad Ilham Rabbani. Tidak ada cerita dapur-dapuran. Ini adalah hal biasa yang dilakukan oleh sebuah komunitas dalam mempersiapkan acara. Tapi ya tentu saja, ada resep rahasia yang hanya kami dan Tuan Krab yang tahu.

Bagi kami, konsep perayaan kelahiran buku haruslah digodok dengan sebaik-baiknya. Meskipun hasil godokan itu akan nanti akan rare, medium rare, medium well atau well done, tergantung situasi, waktu, sumber daya dan kekuatan daya kreatif tim yang kadang moodnya lagi kayak anak TK yang pagi hari harus penuh drama sebelum berangkat sekolah.

Akhir tahun 2025 kami mulai merencanakan peluncuran bukunya. Dan dua buku -guru dan murid- itu, menjadi tantangan. Lebih tepatnya kami menantang diri untuk meluncurkan 2 buku puisi yang berbeda dalam 1 panggung.

Kami bagi tugas kepada tim. Meskipun kami harus koordinasi hybrid, tidak menyurutkan langkah bahwa 2 buku puisi guru-murid ini bisa diluncurkan satu panggung. Kami yang di tim office mulai melakukan profiling, siapa yang akan menjadi pembedah bukunya. Hingga akhirnya kami lebih memilih diksi pengulas daripada pembedah. Merumuskan juga bagaimana nanti konsep dan alur acaranya. Tidak afdol rasanya jika hanya diluncurkan tanpa diobrolkan di depan penulisnya.

Hampir 1 minggu setelah pertemuan peluncuran buku, kami membuat daftar panjang calon pengulas buku puisi “Tegal Kurusetra” dan “kota yang lekas menghilang, dan akan kita lupakan”. Para penulis juga kami libatkan untuk memberikan referensi nama. Hingga akhirnya mengerucut kepada 2 nama yang masing-masing mengulas satu buku. Bagi kami, penulis tidak lebih tinggi dari pengulas, begitupun sebaliknya.

Mencari Pengulas “Tegal Kurusetra”

Buku puisi karya Umi Roisatul Mukaromah ini banyak berbicara tentang Jawa dan kisah dalam pewayangan. Sebenarnya kami ada beberapa daftar nama pengulas, akhirnya Miftahkhul Saleh yang kami pilih. Ia adalah pegiat literasi, penulis dan juga petani tanaman organik yang nenepi di celah perbukitan Baturraden. Ia hanya turun saat menjual hasil kebunnya dan jika situasi di kota membutuhkannya. Sisanya, Ia menepi dan menjadi petani.

Selain bertani, selama ini, Miftahkhul Saleh memang pergulatannya di ilmu-ilmu Jawa dan pewayangan. Tulisannya di bilfest.id juga semuanya tentang wayang. Bahkan Ia banyak menceritakan tentang wayang yang tokoh dan kisahnya kadang kurang populer. Alhamdulillah bersedia.

Memilih Pengulas yang Berani Menguliti Ilham Rabbani

Nah ini, kami cukup lama memilih 1 nama untuk pengulas buku puisi “kota yang lekas menghilang, dan akan kita lupakan”. Daftar nama calon pengulasnya panjang, berkompeten di dunia sastra dan peredarannya di Banyumas Raya.

Setelah cukup lama, akhirnya kami selesai mempertimbangkan. Nama Adriansyah Subekti yang kami hubungi. Sastrawan muda Banyumas yang buku puisinya “Meneroka dan Membakar Batu-Batu”, terpilih sebagai pemenang sayembara pada Payakumbuh Poetry Festival 2025. Kami rasa, selain kompetensi, Ia akan berani menguliti Ilham Rabbani yang selama ini bisa seminggu sekali fotonya nampak di posteracara literasi atau kajian Islam di Banyumas Raya.

Siapa Moderatornya?

Kami dalam menggodok sebuah acara, tidak sekali duduk. Tidak sekali bertemu selesai dan tidak segelas kopi cukup. Evaluasi kami dalam sebuah acara bedah buku atau talkshow, adalah kurang mampunya moderator dalam membawa acara. Memang tugasnya berat. Harus tahu konsep acara, siapa pengisi, gambaran apa yang akan disampaikan dan siapa pesertanya. Moderator sebagai router antara mereka (pemateri-peserta-tema) tentu harus paham juga harapan dan tujuan penyelenggara. Karena moderator tidak sekadar mengucapkan salam, membacakan biodata dan mempersilakan bicara. Ia bertugas menjadi penjembatan antara 3 hal di atas, supaya acara tidak sekadar terselenggara, namun memiliki makna.

Setelah tim kreatif kami, yang digawangi oleh Nur Fadhilah Rizqi R -panggil saja Kiki- berjibaku dengan rumusan kreatifnya selesai membuat konsep, kami berhenti cukup lama karena mencari siapa yang pas menjadi moderator untuk 2 buku ini? Yang pada akhirnya, Kiki yang menjadi moderator. Seperti tentang penulis dan pengulas. Penulis dan pengulas tidak lebih tinggi dari moderator, begitupun sebaliknya. Ini adalah kesetaraan dari sebuah pelaksanaan kata-kata. Setelah Kiki bersedia, akhirnya poster acara bisa naik ke media.

Membedah Karya Guru-Murid dalam Satu Waktu-Satu Tempat

Hingga waktunya tiba. Kami 22 Januari 2026 pukul 13.30 WIB (Waktu Indonesia Berpuisi). Di ruang sidang lantai 2 FKIP UMP, “Tegal Kurusetra dan “kota yang lekas menghilang, dan akan kita lupakan” diluncurkan dengan perayaan kecil, sebuah apresiasi untuk penulis yang telah berkarya.

Selain teman dan handai taulan penulis, hadir juga para pegiat literasi dari berbagai macam komunitas di Banyumas. Hadir juga Bapak Akhmad Fauzan, selaku Kaprodi Bahasa dan Sastra Indonesia UMP.

Acara dimulai dengan dipandu oleh Akhmad Mufti Azkiya lalu pengantar dari Rahmi Wijaya selaku founder BIL Fest dan dilanjutkan ucapan apresiasi dari bapak Akhmad Fauzan. Kemudian penyerahan 2 buku masing-masing dari BIL Fest kepada Umi Roisatul Mukarromah dan Ilham Rabbani. Buku puisi itu kami sajikan di tengah sajen yang melambangkan bahwa karya ini sudah siap disajikan kepada pembaca.

***

Setelah seremoni penyerahan buku, Kiki selaku moderator mempersilakan 2 penulis dan 2 pengulas naik ke atas panggung lalu membawa acara bedah buku dengan khusyuk. Ketika memasuki sesi buku “Tegal Kurusetra”, Miftahkhul Saleh sebagai pengulas langsung mendo’akan penulis, karena pertama kali menerbitkan buku tapi menggunakan judul “Tegal Kurusetra”, yang menurutnya, Tegal Kurusetra adalah tempat terakhir atau klimaks dari peperangan dalam pewayangan Mahabarata. “Semoga ini bukan karya pertama dan terakhir, melainkan babak baru setelah “peperangan” dalam belajar kemudian menuju tahap yang selanjutnya”. Hal itu mendapat pengaminan dari Umi Roisatul Mukaromah dan para hadirin yang khusyuk di dalam ruangan yang dingin.

Berbeda dengan Miftahkhul Saleh yang banyak memberikan tanggapan dengan menyampaikan ajaran-ajaran Jawa dan pewayangan, Adriansyah Subekti lebih banyak jujur dalam mengulas buku puisi “kota yang lekas menghilang, dan akan kita lupakan”. Ia mempertanyakan motif dan ideologi penulis dalam hal ini Ilham Rabbani.

Baik Miftahkul Saleh maupun Adriansyah Subekti, mereka telah berhasil membuat peluncuran yang dilanjutkan bedah buku menjadi penuh dengan dialektika keilmuan yang mungkin para hadirin perlu perlahan untuk mencernanya. Mereka mengapresiasi buku dengan caranya masing-masing. Apresiasi tidak melulu soal tepuk tangan. Namun sebuah dialektika dan kritik yang membuat tumbuh bagi penulis dan para peserta yang hadir, adalah perwujudan dari apresiasi.

***

Terlepas dari itu semua, sesungguhnya, kami masih melakukan peramuan terus menerus, tentang bagaimana kita membincangkan buku, bagaimana membawa sebuah acara diskusi yang khusyuk namun jauh dari rasa kantuk. Dan semoga kelak akan lahir moderator yang bisa menghidupkan acara tidak sekadar bisa berbicara. Moderator mengetahui apa yang dibicarakan dan obrolannya mau dibawa ke mana. Terakhir, siapapun penulis, pengulas, moderator bahkan peserta, tidak ada yang paling tinggi. Kesetaraan di depan ilmu adalah perwujudan dari keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top