Nasihat ‘Guru-Murid’, Lagu “Pikiran yang Matang”, dan Pertanyaan “Apakah Moderator itu Moderat?”

Dalam foto: Nur Fadhilah Rizqi R (duduk di tengah) bersama tim dokumentasi dan IT. Akhmad Mufti Azkiya (berdiri) sebagai MC.

Dua (bahkan mungkin tiga) pekan pertama 2026 aku isi dengan mempersiapkan peluncuran dua buku puisi yang masing-masing adalah karya Umi Roisatul Mukaromah (Umi) dan Ilham Rabbani (Mas Ilham). Setiap peluncuran buku Ahmad Tohari Awards 2025 selalu punya cerita, selalu menantang ketika mengonsep acaranya, bertemu penulisnya, gedebag-gedebug personel internalnya. Aku memahami akan selalu ada kejutannya, tetapi untuk peluncuran buku kali ini terlalu mengejutkan sepertinya: aku moderatornya.

Sebelumnya beberapa kali aku pernah menjadi moderator, namun yang kali ini sampai menjadi kejutan karena argumenku yang merasa puisi bukan bidangku. Aku bukan rekanku, Fajrul Alam, yang memang seorang penyair dan rasanya jika tak ada halangan dirinya lebih pantas menjadi moderatornya. Apalagi di momen pertama kali peluncuran buku puisi ini bahkan langsung dua buku dari dua penulis yang merupakan ‘guru-murid’ (dosen-mahasiswa). Latar belakang kedua penulisnya yang dari dunia kampus dan berlangsungnya acara ini di kampusnya membuatku semakin memikirkan kelayakanku menjadi moderator di hadapan akademisi.

Agak ‘ngotot’ aku mencari moderator yang pantas namun sepertinya ini memang kesempatan belajar untukku. Sebab pihak-pihak yang aku hubungi untuk menanyakan kesediaannya menjadi moderator memiliki agenda lain di tanggal tersebut. Tidak ada pilihan lain, selain tiga hal yang menjadi pilihanku: menyanggupi, meminta untuk tidak berekspektasi apa pun padaku, dan belajar.

Segala hal di dunia ini terjadi bukan tanpa alasan. Sepertinya itu yang digariskan ketika aku mempersiapkan diri menjadi moderator kali ini. Membaca berkali-kali proposal naskah Umi dan Mas Ilham, brainstrorming di kedai jus, mengunjungi perpustakaan kampusku, bengong di warung seblak, sampai bertemu beberapa orang membawaku ke suatu pertanyaan (sekaligus renungan) yang muncul tiba-tiba.

Apakah moderator itu moderat?

Secara tak sengaja juga muncul dalam ingatanku jawaban ‘guru-murid’ yang keduanya adalah guruku atas pertanyaan yang pernah aku ajukan. Jawaban yang jika aku pikirkan ulang rupanya menenangkan kekhawatiranku tentang ‘menjadi moderator’ itu.

‘Nasihat’ Sewaktu Semester Muda

Di semester 4 dulu aku pernah mengikuti semacam kompetisi. Mentorku saat itu adalah dosenku, Pak Aldi Aditya. Pada salah satu sesi mentoring, beliau menemukan puluhan artikel ilmiah yang kemudian dikurasi dan dikirimkan semuanya kepadaku. Beberapa artikel yang dikirimkan kepadaku itu sudah diberikan highlight sebagai penanda bahwa bagian tersebut mendukung ide penulisanku. 

Waktu itu aku menanyakan alasan beliau mengkurasi artikel ilmiah (seingatku) dengan membaca hanya abstrak, pendahuluan, dan kesimpulan. Pertanyaan yang muncul karena dalam waktu yang relatif singkat beliau mampu menemukan puluhan artikel pendukung ideku. 

“Karena kita tidak memiliki cukup waktu untuk membaca semua tulisan di dunia ini.” Begitu Pak Aldi menjawab pertanyaanku.

Jawaban tersebut bukan petir di siang bolong (karena waktu itu siang hari, di perpustakaan fakultas), namun cukup membuatku diam menerawang. Terasa baru mendengarnya sebab sebelumnya aku berasumsi semakin banyak bacaan yang seseorang baca maka akan semakin banyak peluang untuk berpengetahuan, pikiranku ini membuatku berkesimpulan untuk ‘bacalah apa pun’. Tetapi jawaban Pak Aldi itu seperti membawaku pada pemahaman baru (setidaknya bagiku): jatah hidup kita tak selamanya, maka supaya tak terlalu melebar kita perlu memahami kapan suatu bacaan dibutuhkan untuk pengetahuan yang sedang dipelajari. Pentingnya memiliki peta dalam belajar.

Buatku jawaban Pak Aldi siang itu seperti nasihat buatku yang sebelumnya sering terjebak dalam toxic productivity. Memang betul, pada dasarnya belajar maupun bekerja bisa bernilai ibadah, namun rasanya tidak bijaksana jika harus memaksakan diri.

Nasihat ini membuatku cukup tenang selama proses belajar menjadi moderator lalu. Aku tidak tergesa-gesa mempelajari sesuatu hingga memetakan bahan topik diskusi. Meskipun aku tidak menggaransi jika hasilnya akan baik, namun setidaknya aku mengupayakan yang terbaik.

Kuliah Singkat di Warung Bakso

Beberapa bulan lalu aku cukup beruntung dapat mendampingi Pak Seno Gumira Ajidarma beserta istri selama di Purwokerto. Sastrawan besar Indonesia ini juga ‘guru’ dari Pak Aldi, lebih tepatnya Pak Seno adalah dosen Pak Aldi ketika menempuh studi di Universitas Indonesia.

Jika dari Pak Aldi banyak pengetahuan ‘daging’ yang aku dapatkan, aku berekspektasi akan belajar banyak hal berbobot pula dari Pak Seno, meskipun untuk itu aku harus menyiapkan mental belajar yang lebih baik. Seperti di malam sebelum kepulangan Pak Seno ke Jakarta, di suatu warung bakso dekat Alun-alun Purwokerto, aku membuka buku catatanku dan menulis jawaban Pak Seno atas pertanyaan yang aku sebutkan sebelumnya.

Ujung kiri atas catatanku terdapat tulisan “overstage” karena itu poin pertama yang disampaikan Pak Seno. “Hati-hati dengan overstage.” Dari penjelasan beliau aku pelan-pelan memahami perbedaan panggung diskusi dengan penampilan suatu aksi. Kebanyakan orang saat ini cenderung fokus pada dekorasi sampai lupa memikirkan makna acara supaya tetap berisi.

Secara tak langsung Pak Seno sampai menjabarkan perlunya mengetahui indikator ketercapaian suatu acara diskusi. Penjelasan beliau cukup padat dan frontal, khas seorang Pak Seno. Namun kefrontalan itu juga yang menjadi keberuntungan untuk pemula sepertiku agar tidak terlalu sulit memahami. Sampai akhirnya aku menanyakan pertanyaan terakhir, semacam pertanyaan kesimpulan. “Kalau begitu menurut Bapak, idealnya suatu acara diskusi itu seperti apa?”

“Kuncinya satu, khusyuk.” 

Jawaban itu tidak tercatat dalam buku catatanku karena detik itu juga aku sempat nge-freez sebelum kemudian aku memilih menyimak penjelasan Pak Seno. Jika ada yang menanyakan bagaimana penjelasan Pak Seno waktu itu aku lupa persis kalimatnya, tetapi aku memahami saat itu alasan khusyuk menjadi kunci karena diskusi sekalipun di tempat sederhana akan tetap berjalan selama orang-orang yang terlibat menghargai forumnya. Maka dalam hal ini kualitas menjadi prioritas sebelum kuantitas.

Selama persiapan menjadi moderator bab tentang khusyuk itu berulang-ulang muncul di pikiranku. Aku menyadari untuk sampai pada titik khusyuk dalam berdiskusi seperti yang aku simak dari Pak Seno itu adalah PR besar. Dibandingkan harus terjebak dalam overthinking yang menguras ketenangan akhirnya aku membuat ‘kebijakan’ yaitu memulai berupaya untuk nantinya dapat berdiskusi secara khusyuk. Cara pertama yang aku yakini adalah menjadi diriku sendiri.

Semacam Hipotesis dan Lagu “Pikiran yang Matang”

Aku menjabarkan kekhawatiranku dan menganggap salah satunya karena asumsiku tentang seharusnya orang yang mumpuni adalah moderator peluncuran kedua buku itu. Tapi aku lupa kalau setiap yang ahli selalu bermula dari pemula. 

Mungkin karena aku juga yang terlalu membayangkan komentar atau respon orang lain tentang ‘si moderator’ itu adalah aku. Ada perasaan tak mau mengecewakan siapapun termasuk yang terpenting adalah kedua penulisnya, sebab selama ini aku selalu mengulang argumen bahwa setiap buku yang lahir berhak dirayakan, aku tidak mau merusak perayaan tersebut.

Saat itulah aku menemukan pertanyaan sekaligus perenungan yang sempat aku singgung sebelumnya. Aku menanyakan apa definisi moderator, yang aku jawab sendiri bahwa sementara bagiku moderator adalah pemandu. Lalu aku menanyakan apakah ada korelasinya dengan kata moderat? Yang selanjutnya aku lakukan justru beralih ke Google untuk menjawab definisi moderat.

Jika Google memberikan jawaban bahwa moderat merupakan sikap maupun pandangan yang berada di tengah, wajar, tidak ekstrem, serta tidak radikal, apakah itu berarti moderator juga demikian? Seandainya demikian maka (semacam) hipotesis sementaraku beranggapan bahwa moderator adalah seorang pemandu diskusi yang perannya senetral mungkin atau tidak menyampaikan kecondongannya ke salah satu pihak dalam forum diskusi.

Hipotesis tersebut mengajakku berpikir lebih jauh tentang apa yang aku miliki untuk dapat memandu diskusi, dan menurutku jawabannya adalah hal yang selama ini sering aku sampaikan ke teman-temanku: Kiki banyak nggak tahunya, jadi sudut pandang yang dibawa adalah seorang yang senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar. Dengan begitu, aku cukup percaya diri ketika membuka sesi diskusi buku dengan pernyataan bahwa aku sebagai orang yang banyak nggak tahunya merasa bahagia diberi kesempatan untuk belajar lewat peran moderator.

Bukan bermaksud bangga karena tidak mengetahui, namun aku cukup sadar diri kalau memang banyak hal belum aku ketahui, dan bagiku sudut pandang orang yang belum tahu dibutuhkan sebagai pemantik yang jujur dalam suatu alur diskusi. 

Kita tidak memiliki cukup waktu untuk membaca semua tulisan di dunia ini, maka jatah waktu yang ada rasanya lebih bijaksana digunakan untuk melatih kekhusyukan dalam berdiskusi. Secara tak sengaja nasihat ‘guru-murid’ tersebut yang aku pahami dari Bapak-bapak Perunggu lewat “Pikiran yang Matang”. Mungkin begini caraku sementara menjawab pertanyaan tiba-tiba tentang: apakah moderator itu moderat?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top