Ketika Tubuh Menjadi Teks dalam Pementasan Drama Nyumbang oleh Teater Sandhya

“Melalui pementasan drama, tubuh menjadi teks, panggung menjadi ruang baca, dan penonton menjadi pembaca aktif. Di sinilah aktivitas literasi yang hidup, reflektif, dan bermakna terbentuk.” 

Tubuh Suli berdiri kaku di bawah lampu sorot. Tangannya mengepal dan menggenggam erat barang yang ada di tangannya, seolah menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar amarah. Sementara kakinya melangkah maju perlahan dengan rasa ragu namun penuh dengan tekad. Di hadapannya, Kamit membalas dengan gerakan yang tak kalah keras. Menunjuk tajam, membalikkan badan, lalu berhenti sejenak seperti seseorang yang kehabisan kata-kata untuk melawan kenyataan. Lontaran dialog bercampur gerak tubuh membuat penonton memahami bahwa konflik telah mencapai puncaknya. 

Adegan tersebut menjadi salah satu yang paling kuat dalam pementasan drama garapan Teater Sandhya yang berjudul “Nyumbang”. Di balik tirai hitam yang menyelimuti panggung pementasan, Teater Sandhya yang beranggotakan mahasiswa kelas 5A, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, angkatan 2023 telah bekerja keras demi kesuksesan pementasan drama mereka. Pementasan ini digelar pada Rabu, 24 Desember 2025 di Auditorium Ukhuwah Islamiyah, Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dari adegan-adegan yang tampak sederhana namun menghantam emosi penonton itu, terdapat kerja panjang dan sunyi dari seorang penata gerak. Mulai dari memahami isi dan pesan naskah, hingga menerjemahkan naskah sastra menjadi bahasa tubuh yang dipertontonkan di atas panggung.

Nurachma Noviwijayanti merupakan salah seorang di balik tatanan gerak tubuh para aktor dalam pementasan “Nyumbang”. Rachma terlibat sejak awal proses latihan. Rachma mengaku bahwa dirinya ditunjuk karena dinilai mampu mengolah dialog menjadi gerak tubuh yang komunikatif. Baginya, tubuh bukan sekadar alat bergerak, melainkan medium untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan dalam naskah “Nyumbang”. Naskah “Nyumbang” merupakan adaptasi dari naskah “Kamit” karya Gusmel Riyadh. Berkisah tentang gengsi, tekanan sosial, dan keinginan untuk terlihat mampu, terasa akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Pemilihan naskah“Nyumbang” yang kemudian dialihwahanakan menjadi drama berangkat dari realitas sosial yang sering dianggap wajar dalam masyarakat kita. Masyarakat sering memandang bahwa menyumbang dalam berbagai hajatan merupakan suatu kewajiban meskipun kondisi ekonomi tidak selalu mendukung. Dari situlah konflik muncul. Tokoh Suli terjebak dalam gengsi, sementara suaminya yaitu Kamit berusaha bertahan dengan kesederhanaan. Menurut Rachma, pesan utama drama ini adalah “ajakan untuk hidup sesuai kemampuan dan tidak memaksakan diri demi pengakuan sosial”. Pesan tersebut tidak disampaikan secara menggurui di atas panggung, melainkan dibiarkan tumbuh melalui konflik, alur cerita, dan gerak tubuh. 

Proses latihan dari mengulik naskah hingga penataan gerak dimulai sejak bulan September, setelah tahapan casting selesai. Rachma sebagai penata gerak bekerja sama dengan sutradara dan para aktor dengan cara membaca naskah berulang kali. Dari pembacaan itu, karakter demi karakter dibedah secara perlahan. Suli dipahami sebagai sosok keras kepala dan penuh gengsi. Sedangkan Kamit digambarkan sebagai petani sederhana yang masih memegang nilai kewajaran. Pemahaman karakter ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa tubuh dari cara berjalan yang tergesa atau tertahan, tatapan mata yang menantang atau menghindar, hingga gestur tangan yang menandai kemarahan, penolakan, atau kepasrahan. 

Sebagai penata gerak, Rachma menyoroti ada dua adegan yang paling menentukan dalam pementasan ini. Adegan pertama adalah pertengkaran antara Suli dan Kamit. Pada bagian ini, tubuh para aktor sangat diperlukan. Suli diarahkan dengan gerak yang tegas dan agresif untuk menegaskan ambisinya menjual barang-barang rumah tangga, bahkan berniat menjual diri demi menjaga gengsi. Kamit, sebaliknya, digerakkan dengan gestur keras namun ada sesuatu yang tertahan. Dalam adegan ini, secara tidak langsung penonton dapat membaca pertarungan nilai yang sedang berlangsung. Adegan penting kedua muncul saat Kamit mencurahkan keluh kesahnya kepada Pak Jebrak. Dalam adegan ini, tempo gerak melambat. Pak Jebrak digerakkan dengan sikap tenang dan berwibawa, seperti sosok tetua yang memahami pahit manisnya kehidupan. Gerakan ini ingin menegaskan pesan sosial bahwa kebijaksanaan sering lahir dari kesederhanaan. Di sinilah tampak bahwa tubuh tidak hanya menjadi alat ekspresi, tetapi juga menjadi ruang refleksi. 

Gerak tubuh memiliki peran besar dalam membantu penonton memahami alur dan makna cerita, bahkan ketika dialog tidak diucapkan. Gerakan diam dengan tangan mengepal dan wajah menegang sudah cukup menandai kemarahan dan kekecewaan. Begitu pula pada adegan pencurian kambing yang dilakukan tanpa suara. Dengan tubuh membungkuk, langkah hati-hati, dan wajah tertutup, penonton tidak perlu penjelasan tambahan untuk memahami tindakan tersebut. Sehingga, bahasa tubuh dalam pementasan bekerja sebagai bahasa sastra yang hidup dan seolah berbicara. 

Pementasan “Nyumbang” memperlihatkan bahwa sastra tidak hanya hidup di dalam teks tertulis. Dalam konteks literasi, drama ini menjadi bentuk alih wahana, yaitu transformasi naskah drama menjadi pertunjukan visual dan gerak. Teks yang mulanya dibaca kini “diterjemahkan” ke dalam tubuh aktor. Penonton pun tidak hanya membaca kata dari lontaran dialog para aktor, tetapi juga membaca gestur, ekspresi, dan simbol-simbol di atas panggung. Jika dikaitkan dengan kondisi masyarakat kita saat ini, pementasan ini sangat relevan. Gengsi sosial dan tekanan untuk terlihat mampu masih mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Melalui gerak tubuh yang jujur dan penuh emosional, drama ini mengajak penonton bercermin dengan realitas. Proses inilah yang menjadikan teater sebagai ruang literasi. Tempat di mana sastra tidak hanya dipahami secara intelektual, tetapi juga dirasakan secara emosional. Hal ini menjadi bukti bahwa sastra maupun teater yang menjadi wadah perwujudan dari sastra, tidak berdiri jauh dari realitas bahkan hadir di tengah realitas sebagai cerminan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top